BAKORPA; Tidak Ada Radikalisme Dan Ekstrimisme Bila Islam Tidak Diganggu

Ketua Umum Badan Penanggulangan Penodaan Agama (BAKORPA), Yusuf Muhammad Martak
Ketua Umum Badan Penanggulangan Penodaan Agama (BAKORPA), Yusuf Muhammad Martak

Jakarta (An-najah.net) – Islam adalah agama yang cinta damai. Namun ketika umat Islam diganggu maka akan mempertahankan diri. Aparat dan pemerintah seharusnya sudah membaca akar masalah munculnya radikalisme.

Ketua Umum Badan Penanggulangan Penodaan Agama (BAKORPA) Yusuf Muhammad Martak menilai umumnya radikalisme dan ekstrimisme muncul karena respon serangan terhadap Islam.

“Sebenarnya, tidak akan ada radikalisme dan ekstrimisme bila Islam tidak diganggu,” katanya saat berdiskusi dengan awak media Islam, pada Senin Malam (20/4), di Marba Center, Jl.Tebet Barat Dalam, Jakarta Selatan.

Menurutnya, seseorang bisa saja tiba-tiba menjadi radikal ketika orang itu merasa keyakinannya diganggu. Sebaliknya, bila Islam tidak diserang ataupun diganggu, kehidupan bermasyarakat dan berbangsa tidak pernah timbul gejolak apapun.

“Kita bisa lihat bila Islam tidak diganggu, umat Islam sangat-sangat toleransi. Di Indonesia sebagai contoh, betapa banyak perayaan umat keberagamaan bisa berlangsung dengan damai,” ujarnya.

Yusuf berpendapat, betapa banyak manfaat yang didapatkan kelompok-kelompok minoritas dari toleransi umat Islam. Tidak sedikit kelompok minoritas menjadikan umat Islam sebagai pasar kapital. Bahkan, banyak tempat hiburan dan maksiat berdiri berdekatan dengan rumah ibadah, umat Islam tidak meresponnya dengan sikap anarkis.

“Jadi, kalau bicara toleransi, umat Islam itu sudah sangat-sangat toleran,” kata Anggota Bidang Hukum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat ini.

Akan tetapi, tambah Yusuf, sikap toleran umat Islam tidak dihargai dan dihormati serta terus diganggu oleh kelompok-kelompok anti-Islam. Hal inilah yang memicu konflik dengan umat Islam.

“Ketika kita sudah menganggap semua tidak ada masalah, eh kita diganggu, maka mulailah muncul masalah,” terangnya.

Maka dari itu, menurut Yusuf, aparat dan pemerintah seharusnya sudah membaca akar masalah munculnya radikalisme. Sehingga tidak perlu merespon ketika sudah timbul masalah. Dia memberi contoh, fenomena munculnya orang yang mau berjihad ke Suriah.

“Pertanyaannya, apakah mereka yang mau berjihad bisa dibendung? Itu tidak bisa dibendung. Kalau mereka dilarang, nanti mereka berjihad di dalam negeri, karena itu satu-satunya saluran, ketika ditekan terus,” tegasnya.

Sedangkan BAKORPA, sambung Yusuf, dibentuk untuk membendung rongrongan terhadap Islam dengan cara-cara non-radikal melalui proses hukum dan intelektual.

“Kita bisa melakukan pembelaan aqidah tanpa harus takut disebut radikal,” pungkasnya.

Red : Anwar

Sumber : kiblat