Bangga Menjadi Keluarga Aktifis

Keluarga aktifis islam
Keluarga aktifis islam

An-Najah.net – Dalam buku Golden Stories, penulis mengisahkan. Dulu ada seorang pemuda aktifis jihadi dari Saudi. Ia dikenal sebagai pemuda soleh yang menginfakkan umur dan segala-galanya untuk Islam. Singkatnya, Islam telah menjadi jiwa-raganya.

Seakan-akan ia mengamalkan hadits Rasulullah SAW:

رَأْسُ اْلأَمْرِ اْلإِسْلاَمُ، وَعَمُوْدُهُ الصَّلاَةُ، وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ اْلجِهَادُ

“Pokok segala sesuatu adalah Islam, tiangnya Al-Qur’an, dan puncak (atapnya) adalah jihad.” (HR. Tirmidzi)

Mujahid muda ini meninggalkan anak dan istrinya di Arab Saudi. Saat itu, anaknya berusia kurang lebih 2 tahun. Alhamdulillah, Allah telah menikahkan dirinya dengan istri yang sholehah. Sang istri mendidik anaknya dengan didikan baik.

Setelah lima tahun tidak andil dalam jihad, akhirnya aktivis jihadi asal Saudi itu, pergi ke negara Chechnya, yang sedang dijajah oleh Rusia. Disana umat Islam melakukan perlawanan. Ia tidak kembali selama lima tahun.

Istrinya mengirim surat kepadanya, hanya ingin memberi kabar bahwa sang istri beserta anaknya baik-baik saja. Sehingga, ia tidak perlu khawatir tentang mereka. Sang istri justru memberi semangat agar suami meneruskan jihadnya.

Anak itu bernama Muhammad. Sang istri biasa memberikan Muhammad satu riyal setiap hari. Yaitu ketika Muhammad pergi ke sekolah, untuk digunakan membeli roti atau makanan.

Sejak kecil Muhammad selalu mendengar tentang ayahnya dari sang ibu. Ia mendengarkan hal-hal yang baik tentang ayahnya.  Ibunya menceritakan tentang kelembutan, keberanian, kesolehan, dan perjuangan sang ayah di hadapan Muhammad kecil.

Sang anak mendengar dengan seksama dan dia terobsesi untuk menjadi seperti ayahnya. Tidak jarang, sebagai cerita pengantar tidur, sang ibu mengisahkan aktivitas dakwah dan jihad sang ayah kepada putranya yang masih kecil itu.

Ingin Jihad Bersama Abi

Hingga suatu hari Muhammad kecil meminta ibunya untuk melihat kotak yang ia miliki. “Bunda lihatlah ini.!” Pintanya. Sang Ibu bertanya, “Apa itu nak?” Lebih dari 100 riyal. Ibunya kaget dan bertanya, “Anakku dari mana kau mendapatkan uang sebanyak itu.?”

Sang anak menjawab, “Bunda selama ini saya menabung uang yang biasa Bunda berikan setiap hari.” Tentu saja jawaban ini membuat sang Ibu terkejut. Ia mengejar lagi, “Bukankah kau menggunakannya untuk jajan dan lain-lainnya?”

Sang anak menjawab, “Tidak Bu, saya menabung uang ini untuk membeli tiket, agar aku bisa pergi ke Chechnya, bertemu ayah dan berjihad bersamanya.” Sang Ibu terharu mendengar tutur anaknya yang masih kecil tersebut. Ia memeluknya dengan haru dan bangga.

Muhammad adalah seorang anak kecil pada zaman sekarang, yang dididik oleh ibunya yang masih muda dengan baik. Beginilah seharusnya istri-istri para aktivis; mendidik anaknya dan membanggakan sang ayah di hadapan putra-putrinya.

Tentunya sang ayah sebagai aktivis harus menjadikan dirinya sebagai orang yang layak dibanggakan oleh keluarga,istri dan anak-anaknya.

Ayahmu Pergi Berjihad

Ada juga cerita lain. Kali ini tentang seorang pemuda dari Hama, Suriah. Sekitar tahun 1980, rezim Syiah Asad melakukan penangkapan dan pembunuhan besar-besaran terhadap umat Islam.

Banyak orang yang ditangkap tanpa mengetahui dosa dan tindakan kriminal yang dilakukan. Banyak yang tidak pernah pulang ke rumah. Entah dibunuh, lalu dibuang jasadnya.

Suatu waktu, militer masuk ke sebuah perkampungan di daerah Hama. Mereka menangkap siapa yang mereka temui. Sang aktivis ini sedang membaca Al-Qur’an di masjid, dan mentadaburinya. Ia pun ditangkap dan dibawa oleh militer entah kemana.

Sebelumnya aktivis ini menikahi seorang wanita salehah. Saat itu, ia telah memiliki seorang bayi laki-laki berumur enam bulan. Ia memberi nama buah hatinya dengan Abdullah lengkapnya Abdullah Za’tar. Ini adalah nama keluarga sang aktivis tersebut.

Setelah 12 tahun dia dibebaskan dengan dibuang di pinggiran hutan dalam keadaan yang cukup mengenaskan. Matanya penuh dengan darah, badannya lemas. Akhirnya Allah SWT, mengirim seseorang untuk menyelamatkannya. Ia seorang sopir taksi yang kebetulan melewati jalan di pegunungan tersebut.

Ketika melihat sosok di pinggir jalan, ia menghentikan taksinya. Kemudian dia bertanya kepada laki-laki tersebut. Aktivis itu pun meminta bantuan untuk diantar ke daerah perkampungannya. Ia pun dibawa ke kampung yang ia minta. Sesampai di kampung tersebut, ia melihat masjid tempat dulu ia ditangkap bersama kawan-kawannya. Masjid tersebut sangat ramai oleh aktivitas anak-anak. Ia pun mampir dan melaksanakan shalat dua rakaat.

Setelah melaksanakan salat sunnah, ia melihat sekeliling. Dia melihat beberapa anak-anak membaca Al-Qur’an dalam sebuah halaqah, dia hanya menonton dan memperhatikan satu persatu anak-anak tersebut, melihat kegembiraan mereka.

Setelah halaqah selesai, ia melihat salah satu dari anak-anak itu ada yang istimewa, ia melihat anak itu memiliki wajah yang berseri-seri juga cerdas. Lalu dia berkata, “Wahai Ananda kemarilah!, siapa namamu.?”

Anak tersebut menjawab, “Namaku Abdullah Za’tar.” Dia tidak percaya lalu menelisik lagi, “Siapa ayahmu.” Anak tersebut menjawab dengan jelas, “Saya tidak tahu siapa Ayahku, Ibuku berkata bahwa Ayah pergi berjihad dan suatu saat ia akan datang kembali. Tapi hingga kini beliau tidak kunjung datang,” Jawab anak tersebut

Sang aktifis ini meneteskan air mata, terharu dan memeluk erat-erat anaknya tersebut. Ia menemukan putranya di masjid yang sama saat ia ditangkap, dan dalam kegiatan yang sama yaitu membaca dan menghafal Al-Qur’an. Mengapa hal ini bisa terjadi? salah satu faktornya adalah peran ibu yang mendidik putra-putri mereka dengan cara yang benar.

Selain itu sang aktivis ini telah menjaga syariat Allah SWT dan Allah pun menjaganya, keluarga dan anak-anaknya.

“Jagalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala maka Allah akan menjagamu”

Kalian Keluarga Pilihan

Menjadi bagian dari keluarga aktifis Islam adalah anugerah terindah dan termahal dalam hidup. Ia adalah keluarga pilihan Allah SWT – insya Allah -. Tidak semua orang dimuliakan dengan menjadi bagian dari pejuang yang menegakkan syariah-Nya. Sebagaimana firman Allah SWT dalam sebuah ayat;

اللهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَن يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَن يُنِيبُ

“Allah memilih orang yang Dia kehendaki kepada agama tauhid dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya bagi orang yang kembali (kepada-Nya).” (QS.  Asy-Syura: 13)

Semoga kesabaran dan keteguhan menjalani kehidupan sebagai pejuang di jalan Allah SWT senantiasa diiringi keikhlasan. Agar tidak sekedar pilihan sebagai aktivis di dunia, tapi juga pilihan sebagai pendukung jannah firdaus, kelak di hari kiamat. Aamiin ya Robbal Alamin

Penulis : Mas’ud Izzul Mujahid

Sumber : Majalah An-najah Edisi 148 Rubrik Oase imani

Editor : Anwar