Bangkit dari Cambukan Masalah

Do'a agar dijauhkan dari teman penipuiiiiiiii

Hari ini kisah tentang para mujahid dan harakah jihad dituturkan oleh para musuhnya. Promosi terhebat memang dilakukan oleh musuh. Irit, bahkan tanpa biaya. Efeknya pun ganda. Jika benar akan menggetarkan, jika keliru akan dibaca sebagai kampanye hitam. Pendek kata, nothing to lose.

Contohnya adalah Al-Qaeda yang dikenal dunia melalui propaganda musuhnya, Amerika Serikat. Perjuangan para veteran Jihad Afghan yang terusir dari negerinya sendiri menjadi buah bibir manusia karena media Barat yang menceritakannya. Sebagian besar tentu sebagai upaya menjelekkan citra. Namun kebenaran tak bisa selalu ditutupi dan musuh tak bisa selalu dusta.

Ada seorang agen khusus FBI, keturunan Lebanon yang tentu saja fasih berbahasa Arab, bernama Ali Soufan. Ia menuliskan pengalamannya memerangi Al-Qaeda sejak kurun 90-an. Jika CIA memiliki Station Alex yang dipimpin oleh Michael Scheuer, maka FBI punya Ali Soufan. Soufan mengisahkan pengembaraan intelijennya menjejak dan mengendus Al-Qaeda dalam buku berjudul Black Banners, The Inside Story of 9/11 and The War Against Al-Qaeda.

Dalam bukunya, Soufan mengisahkan beberapa hal tentang jaringan Al-Qaeda. Antara lain bagaimana salah satu anggota Al-Qaeda yang bertugas di Afrika berkhianat. Ia menyerahkan diri dan melaporkan rencana amaliyatnya ke Kedubes Amerika.

Setelah diinterogasi oleh tim FBI, terungkaplah bahwa si pengkhianat itu baru dihukum oleh sang pemimpin, Usamah bin Ladin. Ia ketahuan mengkorupsi dana operasi senilai ribuan dolar. Ia dihukum untuk mengembalikan uang yang dikorup di samping sanksi organisasi.

Pembelot itu sempat meminta keringanan hukuman pada sang amir. Namun jawaban Usamah singkat, “Jika Engkau tidak dihukum, akan merusak sistem. Apa kata ikhwan yang lain yang tahu bahwa Engkau bersalah tapi tak dihukum?”

Si pembelot kemudian kecewa. Ia yang asli Saudi iri dengan gaji anggota Al-Qaeda lain yang berasal dari Mesir. Ketika ia dihukum karena mencatut uang operasi, ia memutuskan untuk kabur dan menyerahkan diri kepada pihak Amerika. Darinya banyak data terkait kepemimpinan, organisasi dan operasi Al-Qaeda bisa diketahui FBI.

Soufan juga menceritakan bagaimana dalam proses interogasi ia membangun suasana bersahabat namun tetap kritis. Bahasa Arab dan pengetahuannya yang lumayan tentang Islam dimanfaatkan betul untuk mengorek keterangan sekaligus menebar syubhat tentang jihad kepada para tawanan. Mirip strategi deradikalisasi BNPT sekarang.

Misalnya ia bertanya mengapa para mujahid yakin bakal menang menghadapi Amerika. Biasanya dijawab dengan kutipan hadits tentang munculnya pasukan berbendera hitam dari Khurasan yang akan maju terus hingga mengibarkan bendera mereka di Baitul Maqdis.

Soufan kemudian memamerkan pengetahuannya tentang Islam. Ia mencecar tawanan dengan rawi dan derajat keshahihan hadits, terutama terkait kritik Salman al-Audah yang mempermasalahkan kekuatan sanadnya. Konon, menurut klaim Soufan, para tawanan itu jadi kebingungan.

Soufan adalah contoh masa kini munafik sejati. Beretnis Arab dan beragama Islam namun bekerja untuk kekuatan kafir dalam memerangi mujahidin. Ia lebih mencintai kebangsaan Amerika, tempat keluarganya melarikan diri dari suasana konflik di Lebanon, daripada agama dan saudaranya seiman.

Di sisi lain, buku Soufan –terlepas dari kebenaran seluruh kisahnya- menunjukan bahwa mujahid juga manusia. Ada yang amanah namun juga ada yang korup. Ada yang bersabar menempuh ujian ketika ditawan musuh, namun ada juga yang -ketika kecewa dengan tanzhim dan kebijakan amir- kemudian membelot. Sebuah fakta bahwa Al-Qaeda pun menghadapi berbagai masalah internal yang berat.

Menarik untuk diperhatikan bahwa sebagian pembelot Al-Qaeda adalah para pemuda Teluk yang berangkat jihad karena tahridh umum para syaikh semasa jihad Afghan. Mereka bersemangat tetapi belum ditempa dalam disiplin amal jama’i. Mereka menjadi singa di medan tempur tapi kurang sabar di medan intelijen.

Inilah yang menyebabkan, menurut para analis Barat, Al-Qaeda lebih mengandalkan para operator Mesir, Suriah dan Libya. Meski asli Saudi, Usamah lebih percaya pada mereka yang telah matang dalam tanzhim harakah jihad. Muharrik Al-Jihad Mesir di bawah pimpinan Dr. Ayman Al-Zhawahiri, misalnya, telah menghadapi puluhan tahun operasi intelijen Mesir yang kejam dan licik.

Dari sekelumit kisah yang diceritakan Soufan tentang Al-Qaeda, tentu saja tak bisa sepenuhnya dipercaya karena ia di barisan musuh, ada beberapa pelajaran yang bisa diambil. Besarnya Al-Qaeda ternyata dilandasi sistem tanzhim yang kuat, kepemimpinan yang berwawasan luas dan tegas. Juga kader-kader yang saling melengkapi antara yang berilmu, bersemangat dan berpengalaman.

Inilah yang membuat pembelotan, pengkhianatan dan infiltrasi musuh yang selalu diusahakan tak menghalangi Al-Qaeda membuat karya besar dalam kancah jihad. Terbukti, meski jaringannya di Afrika hancur karena pembelotan, Al-Qaeda masih bisa menyerang Amerika dengan serangat sedahsyat 11 September.

Inilah yang membuat prasangka baik terhadap mereka, juga jamaah jihadi lain yang memiliki sifat serupa, selalu muncul. Meski mendapat masalah-masalah besar –bahkan kehilangan kepemimpinan utama- hal itu menjadi cambuk untuk meraih amal jihad yang lebih baik. Wallahu a’lam. (Faqih al-Hindi)

Diambil dari majalah An-Najah edisi 75, Desember 2011, rubrik Kolom.

Editor: Sahlan Ahmad.