Banyak Para Bal’am Di Masa Kini

penjilat
penjilat

An-Najah.net – Jangan kau jual agamamu hanya karena perhiasan dunia yang fana. Bal’am bin ‎Abar, seorang ulama muslim dari Bani Israel yang hidup dalam kalangan orang kafir. Allah Ta’ala ‎memberi kelebihan kepadanya dengan keilmuan dan mustajabah doanya.‎

Fakta sejarah

Namun, keimanannya terjual hanya karena dunia yang hina dan fana. Dikisahkah ketika Nabi ‎Musa mengutusnya kepada Raja Madya untuk mengajak pada agama Allah Ta’ala, akan tetapi ‎raja memeberinya sebagaian wilayah kekuasaan dan hadiah, lalu dia mengikuti agama Raja ‎Madyan dan meninggalkan agama Nabi Musa (agama Islam), hanya gara-gara perhiasan dunia ‎yang statusnya hanyalah fana dan sementara. ‎
Sehingga Allah Ta’ala mengabadikannya dalam firman-Nya:‎

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ .(175) وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى ‏الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ‎ ‎فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ذَلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ ‏لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ (176)‏

‎“Dan bacakanlah (Muhammad) kepada mereka, berita orang yang telah kami berikan ayat-ayat ‎kami kepadanya, kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan ‎‎(sampai dia tergoda) maka jadilah dia termasuk orang yang sesat (175). Dan sekiranya kami ‎menghendaki niscaya kami tinggikan (derajatnya) dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung ‎kepada dunia dan mengikuti keinginannya yang rendah maka perumpamaannya seperti anjing jika ‎kamu menghalaunya dijulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya ia menjulurkan lidahnya ‎pula. Demikian perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Maka ceritakanlah ‎kisah-kisah itu agar mereka berpikir” (QS. Al-Araf: 175,176)‎

Para mufassirin diantaranya Ibnu Katsir berkata, maksud ayat ini adalah kisah Bal’am bin Abar, ‎ulama terdahulu, tapi hatinya cenderung kepada harta dunia yang fana. Sehingga Allah Ta’ala ‎mengumpamakannya dengan anjing tidak dengan hewan buas, mengapa? Karena anjing tidak ‎memiliki hati (hatinya mati). Maknanya adalah, dia menjadi anjing dalam kesesatannya dan terus ‎menerus dalam kesesatan tersebut. Serta tidak bisa mengambil manfaat dari ilmunya untuk ‎mempertahankan keimanannya. ‎

Ibnu Ishak berkata, bahwasannya lidah Bal’am menjulur sampai dadanya setelah mendoakan ‎kehancuran kepada orang beriman. Sehingga Allah Ta’ala mengadzabnya dengan menjulurkan ‎lidahnya sampai dadanya seperti anjing yang menjulurkan lidahnya. Maknanya, dia tidak dapat ‎mengambil manfaat baik dengan adanya nasihat ataupun seruan kepada keimanan. (Ibnu Katsir, ‎Tafsir Al-Quranul Adzim, cet II, Jilid 3, hal. 507, versi syamila)‎

Fakta Kekinian

Ternyata di era kekinian ini banyak sekali keturunan Bal’am bin Abar. Karena dari sifat dan ‎kesesatannya yang dipermisalkan dengan anjing tidak jauh berbeda. Banyak para Bal’am yang ‎berkeliaran terkhususnya di negeri “tercinta” negara Indonesia. ‎

Salah satu sifat yang mirip adalah tidak mau dirubah, pengennya hidup seenakknya tanpa ada ‎aturan yang membimbingnya, padahal dia berilmu dan beriman kepada Allah Ta’ala. Sifat ini ‎sama seperti anjing yang tidak dapat dirubah kebiasannya menjulurkan lidahnya. ‎

Sebagaimana perkataan al-Qurthubi saat menafsirkan ayat di atas, perumpamaan yang paling ‎buruk yang disandangkan kepada manusia, karena ayat ini mengumpamakan seorang dengan ‎anjing. Orang tersebut tidak mampu untuk dirubah, seperti halnya anjing yang tidak dapat ‎dirubah kebiasaan menjulurkan lidahnya. (Imam al-Qurthubi, Al Jami’li Ahkaam Al-Quran, cet ‎II, jilid 7, hal. 327, versi Syamila)‎

Jadi, maksud dari perkataan al-Qurthubi di atas adalah, seseorang yang berilmu bahkan beriman ‎kepada Allah Ta’ala namun keilmuan dan keimanannnya tidak bisa mengatur dirinya. Pengennya ‎hidup dengan seribu kebebasan (sebagaimana sistem demokrasi) tanpa ada aturan yang ‎mengaturnya. maka sifat ngeyel (tidak mau diatur) sama sifatnya dengan anjing. Dan ini adalah ‎seburuk-buruk perumpamaan.‎

Sifat yang lain adalah patuh dan tunduk kepada seseorang yang telah menjinakkannya dengan ‎harta dunia. Sama seperti anjing yang patuh dan tunduk kepada majikannya yang telah ‎menjinakkanya dengan makanan dan layanan yang memuaskan.‎

Banyak sekali di era kekinian ini, mengatas namakan ulama, “penegak hukum”, penguasa, tokoh ‎dan lain sebagainya, namun pada dasarnya mereka hanyalah para “penjilat” negeri ini. Menjual ‎agama dan keimanan mereka hanya karena urusan dunia yang hina dan fana. ‎

Oleh karena itu saudaraku, ayat ini sangat penting untuk ditadaburi oleh setiap individu agar ‎tidak terperdaya dengan perbuatannya atau dengan ilmu yang dimilikinya, karena ia tidak dapat ‎mengetahui bagaimana kondisinya nanti di akhir hidupnya. Apakah dia su’ul khotimah ataupun ‎husnul khotimah.‎

Semoga Allah Ta’ala selalu membimbing kita di jalan-Nya dan mematikan kita dalam keadaan ‎husnul khotimah, amin. Wallahu ‘alam

Penulis : Ibnu Jihad‎

Editor: Ibnu Alatas