Barang Wakaf Yang Rusak

Barang Wakaf
Barang Wakaf
Barang Wakaf
Barang Wakaf

An-Najah.net – Saya ingin menanyakan permasalahan yang terjadi di masjid saya. Yaitu tentang masalah benda wakaf yang sudah rusak.

Karpet di masjid saya merupakan benda wakaf dari salah satu jamaah. Sekarang, karpet tersebut sudah rusak karena sudah lama sekali.

Lalu salah satu takmir mengusulkan membeli karpet baru dari uang infak masjid sebagai pengganti karpet yang sudah rusak.

Tetapi, salah satu takmir yang lain menolak karena mengganti benda wakaf membuat pahala pihak pewakaf terhenti, sehingga tidak lagi menjadi amal jariyah. Apakah benar demikian? Apakah wakaf memang tidak boleh diganti jika rusak? Apa solusi untuk masalah ini? Syukran. (Budi—Solo)

 

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُولِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ اتَّبَعَ هُدَاهُ

Wakaf adalah menahan sesuatu benda yang tahan lama zatnya, untuk diambil manfaatnya untuk kebaikan dan kemajuan Islam. Menahan suatu benda yang tahan lama zatnya, artinya tidak dijual dan tidak diberikan serta tidak pula diwariskan, tetapi hanya diambil manfaatnya.

Meskipun tergolong pemberian sunnah, namun wakaf tidak bisa dikatakan sebagai sedekah biasa. Sebab harta yang diserahkan haruslah harta yang tidak habis dipakai, tapi bermanfaat secara terus-menerus dan tidak boleh pula dimiliki secara perseorangan sebagai hak milik penuh.

Oleh karena itu, harta yang diwakafkan harus berwujud barang yang tahan lama dan bermanfaat untuk orang banyak, misalnya sebidang tanah, pepohonan untuk diambil manfaat atau hasilnya, bangunan masjid, madrasah, atau jembatan, dan lain sebagainya.

Barang tahan lama bukan berarti tidak mungkin rusak. Apabila barang wakaf rusak, para ulama memutuskan, apabila kadar kerusakannya tidak memengaruhi fungsi barang tersebut, maka barang tersebut tidak boleh dijual atau diberikan kepada siapa yang mau atau dihancurkan.

Sedangkan bila barang tersebut sudah rusak sehingga tidak dapat lagi dipakai, atau masih bisa dipakai tetapi sangat amat merepotkan—seperti karpet yang telah rusak parah, berlubang di sana-sini, bau, dan tidak mungkin dicuci—maka menurut madzhab Syafi’i dan Maliki, barang tersebut tetap tidak boleh dijual.

Sedangkan menurut para ulama madzhab Hambali, barang tersebut boleh dijual dan uangnya dapat dibelikan barang baru dengan fungsi sejenis, baik uang tambahannya dari pewakaf yang sama, pewakaf yang lain, kotak infak masjid, dan baitul mal (lembaga penerima wakaf).

Akan lebih baik, jika problem yang dihadapi dibicarakan dengan pihak pewakaf dan disampaikan pula kesulitan-kesulitan yang didapat apabila karpet lama dipertahankan akan menyulitkan takmir masjid dan membuat tidak nyaman para jamaah.

Dengan begitu, semoga hatinya tergerak untuk menukar karpet yang lama dengan karpet yang baru atau merelakan apabila karpet wakafnya dijual untuk dibelikan karpet baru dengan tambahan uang dari pihak lain. Wallahu a’lam.

Sumber : Majalah An-najah Edisi 124 Rubrik Konsultasi Islam

Editor : Helmi Alfian