Barometer Muslim Kafah

Barometer Muslim Kafah
Barometer Muslim Kafah

An-Najah.net – Hari ini kita patut bahagia melihat antusias kaum muslimin mengucapkan kata-kata muslim kafah atau kembali kepada Islam kafah. Yang mana sebelumnya, idiom tersebut hanya familiar di tengah komunitas ikhwan dan akhwat pengajian saja. Kini, hampir setiap musim sudah terbiasa untuk mendengarkan dan bahkan mempraktikkannya.

Baca juga: Kenapa Harus Muslim Kaffah?

Dalam kenyataannya tidak sedikit yang memaknai kata muslim kafah sesuai dengan background-nya masing-masing. Mereka yang terpengaruh dengan pemikiran Murji’ah memaknai Islam kafah hanya sebatas menuntut ilmu dan mengamalkan sunnah lahiriah semata. Sementara yang berkaitan dengan amar makruf nahi mungkar apa lagi politik, mereka menyerahkannya kepada tagut.

Barometer Muslim Kafah

Seorang dikatakan telah menjadi muslim kafah manakala ia telah mendapatkan setidaknya dua predikat dari Allah Ta’ala. Yaitu predikat mukminunahaqqa (orang yang benar-benar beriman) dan telah diseru dengan panggilan ula’ikahumus shodiqun (orang-orang yang jujur). Mengenai dua predikat ini, Allah Ta’ala berfirman:

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu” (QS. Al-Hujurat: 15)

Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakal. (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya.” (QS. Al-Anfal: 2-4)

Dari dua ayat tersebut, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa setidaknya ada empat barometer muslim kafah. Antara lain:

Pertama, Beriman Kepada Allah Ta’ala Dan Rasul-Nya

Beriman kepada Allah Ta’ala dan Rasulullah Saw bukan sekedar mengucapkan dua kalimat syahadat atau sebatas pengakuan semata. Sebab yang dimaksud dengan iman kepada Allah Ta’ala dan Rasulullah Saw adalah memahami dan menjalankan konsekuensi dari beriman keduanya. Salah satunya dengan menjadikan perintah keduanya di atas perintah yang lain.

Baca juga: Kekalkan Cintamu Kepada Allah

Betapa banyak orang yang mengaku beriman, namun ketika diajak untuk memperjuangkan syariat Islam, mereka menolak dan menjauh dari seruan tersebut. Seolah Al-Qur’an diturunkan untuk dibaca. Andai Al-Qur’an diturunkan hanya untuk dibaca, lalu apa artinya perjuangan Rasulullah dan para sahabatnya?

Jika ada orang yang dikatakan sebagai orang yang beriman secara kafah, maka ada orang yang dikatakan kafir secara kafah. Siapakah mereka? Mereka adalah orang yang beriman kepada sebagian Al-Qur’an dan mengingkari sebagiannya. Jika ingkar sebagian saja dikatakan cap sebagai orang kafir yang nyata, bagaimana dengan orang yang menolak syariat secara penuh?

Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan Rasul-Rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: “Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)”, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir), merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan.” (QS. An-Nisa:150-151)

Kedua, Yakin Tidak Pernah Ragu

Yakin merupakan salah satu karakter utama seorang muslim. Ia yakin dengan janji kemenangan yang akan Allah Ta’ala berikan kepada orang-orang beriman. Karena itu lah, ia tidak berhati lemah untuk memperjuangkan apa yang dianggap mustahil oleh orang lain. Ketika mayoritas manusia ragu dengan sistem khilafah, ia tetap memperjuangkannya. Karena Allah Ta’ala telah berjanji:

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka,…”

“…dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada menyekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nur: 55)

Baca juga: Istiqomah Di Tengah Gelombang Fitnah

Ketiga, Berjihad Di Jalan Allah Ta’ala

Pada dasarnya seorang muslim adalah pencemburu. Cemburu jika Allah Ta’ala dan syariat-Nya dilecehkan. Ia tidak rela jika kehormatan agamanya dinodai. Dari rasa cemburu itulah muncul reaksi untuk melawan. Melawan kezaliman dan kemungkaran. Sehingga lahirlah semangat untuk berjihad dan berkorban. Dengan demikian, orang yang tidak memiliki semangat juang, sama saja tidak memiliki keimanan.

Baca juga: Fitnatul Akbar Ketika Meninggalkan Jihad

Di zaman Rasulullah Saw, orang munafik cukup dilihat dari ke tidak-ikut sertaan mereka dalam kancah jihad. Dalam urusan shalat, orang munafik masih bisa melaksanakan shalat berjamaah, meskipun dalam hadir dan melaksanakannya dengan malas dan terpaksa. Demikian juga dalam urusan ibadah lainnya. Namun dalam urusan jihad, mereka tidak mampu untuk menyembunyikan jati dirinya.Mereka menganggap seruan kepada jihad sebagai seruan kepada fitnah.

Di antara mereka ada orang yang berkata: Berilah saya izin tidak pergi berperang dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus ke dalam fitnah”. Ketahuilah, bahwa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah. Dan sesungguhnya Jahanam itu benar-benar meliputi orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Taubah: 49)

Keempat, Bertawakal Kepada Allah

Banyaknya rintangan di jalan perjuangan mungkin akan sebagian orang berkata, “Apa mungkin jalan jalan yang kita tempuh akan membawa kita pada kemenangan?” Mengingat ganasnya musuh dan lengkapnya peralatan perang mereka.

Baca juga: Bertawakkal Seperti Tawakal (Pasrahnya) Burung

Namun bagi seorang yang telah masuk kepada Islam secara kafah, mereka tidak pernah ragu dengan janji Allah Ta’ala. Mereka selalu menggantungkan harapan mereka kepada Allah Ta’ala. Karena Rasulullah telah mengajarkan umatnya untuk bertawakal penuh kepada-Nya.

“Ketahuilah sesungguhnya jika sebuah umat berkumpul untuk mendatangkan manfaat kepadamu atas sesuatu, mereka tidak akan dapat memberikan manfaat sedikit pun kecuali apa yang telah Allah tetapkan bagimu, dan jika mereka berkumpul untuk mencelakakanmu atas sesuatu , niscaya mereka tidak akan mencelakakanmu kecuali kecelakaan yang telah Allah tetapkan bagimu.” (HR. Tirmidzi: 2516) Wallahu Ta’ala ‘Alam

Sumber : Majalah An-Najah edisi 150, hal 8,9

Penulis  : Sahlan Ahmad

Editor    : Ibnu Alatas