Tiga Alasan Mengapa Kami Membela Kalimat Tauhid

Alasan Mengapa Membela Kalimat Tauhid
Alasan Mengapa Membela Kalimat Tauhid

An-Najah.net – Jika diam saat agamamu dihina, gantilah bajumu dengan kain kafan. (Prof. Dr. Buya Hamka)

Kalimat tauhid bukan sembarang kalimat. Kalimat yang bila masuk ke relung hati, maka cahaya nya akan menerangi anggota tubuh, lalu memberikan dorongan kuat untuk melakukan amal kebaikan.

Kalimat yang sangat berat timbangannya di sisi Allah Ta’ala. Kalimat yang mampu membuka pintu-pintu surga. Kalimat yang akan memelihara dari nyala api neraka. Ya, itulah kalimat tauhid, ‘لاإله إلاالله محمد رسول الله’ tiada Ilah (Tuhan) yang berhak disembah melainkan Allah Ta’ala

Namun, ironisnya kalimat yang suci lagi agung tersebut ternodai oleh tangan kaum muslimin sendiri. Beberapa oknum dari ormas tertentu membakar bendera yang bertuliskan kalimat tauhid. Dengan alasan bendera tersebut adalah simbol dari organisasi terlarang di Indonesia.

Perbuatan tersebut membuat mayoritas kaum Muslimin naik darah, marah karena inti dari ajarannya di hinakan. Mengapa harus marah? Karena ada beberapa alasan;

Pertama, Cemburu Karena Allah Ta’ala.

Ghirah (rasa cemburu) dalam konteks beragama adalah konsekuensi dari iman Itu sendiri. Ketika yang dicintai diganggu atau dilecehkan, maka terusiklah hatinya. Bahkan, agamanya itu akan didahulukan dari pada keselamatan dirinya sendiri.

Seperti cemburunya seorang muslim ketika Islam yang dianutnya dilecehkan syariatnya, maka dia tidak akan tinggal diam. Apalagi membakar inti dari ajaran Islam. Kalimat pembeda antara yang hak dan yang batil, muslim dan kafir.

lnilah ghirah mahmudah (terpuji), cemburu yang terpuji, yakni cemburu karena Allah Ta’ala. Ia tak rela ada kemungkaran terpampang di hadapan matanya. Rasa cemburunya akan mendorongnya untuk mencegahnya Iantaran kecemburuannya ketika ada kemungkaran yang diterjang oleh manusia.

Adapun ghirah sayyiah (tercela), adalah cemburu kepada Allah Ta’ala. Gelisah bahkan marah ketika kalimat Allah Ta’ala ditinggikan. Panas hatinya saat syariat Allah Ta’ala ditegakkan. Mereka tidak ingin Allah Ta’ala di nomor satukan di atas segalanya.

Mereka lupa bahwa Allah Ta’ala juga memiliki rasa cemburu, yang ketika berkehendak menimpakan siksa mereka tak satu pun mampu menghalangi-Nya. Buya Hamka berkata, “Jika diam saat agamamu dihina (hilang rasa cemburunya karena Allah), gantilah bajumu dengan kain kafan.”

Kedua, Inti Dan Simbol Ajaran Islam 

Sekilas, ketika terlihat simbol Jangkar dan Salip menandakan umat Kristus. Sekilas, ketika melihat simbol Mandala dan Padma menandakan umat Hindu dan Budha. Begitu pula ketika terlihat simbol Bulan Sabit dan Bintang serta kalimat tauhid menandakan itu umat Islam.

Semua agama tidak mau jika simbol agamanya dilecehkan, dihina, direndahkan bahkan dibakar. Suatu perbuatan yang buruk, keji, bahkan biadab jika ada orang yang membakar simbol agama suatu umat. Jika ada simbol umat yang dilecehkan, dihinakan, bahkan dibakar simbolnya, lantas mereka ridho karenanya, maka perlu dipertanyakan keyakinannya terhadap agamanya.

Kalimat tauhid bukan hanya sekedar simbol bagi umat Islam. Bukan hanya sebatas kalimat yang tertulis di helaian kain ataupun lembaran kertas. Namun, kalimat yang menjadikan seseorang bisa memeluk Islam. Kalimat Inti dari risalah Islam. Kalimatut Takwa

Kalimat yang bersifat furgon bembeda antara yang hak dan yang batil. Antara keimanan dan kesyirikan. Kalimat yang bisa menggeluarkan pemeluknya dari agamanya jika ia mengingkarinya. Kalimat yang bisa menjerumuskan ke neraka kelak di akhirat bagi manusia yang tidak beriman.

Inilah kandungan kalimat tersebut. Tidak ada yang membenci kalimat tersebut kecuali setan dan sekutunya. Jika kita mengaku beriman kepada Allah Ta’ala, jangan menjadi setan dalam bentuk manusia.

Ketiga, Terkandung Banyak Fadilah

Ibnu Rajab dalam Kalimatul Ikhlas mengatakan, “Kalimat Tauhid (yaitu Laa Ilaha Illallah) memiliki keutamaan yang sangat agung yang tidak cukup dijabarkan dalam buku beliau.” Lalu beliau menyebutkan beberapa keutamaan kalimat yang mulia ini. Di antaranya;

Kalimat ‘Laa Ilaha Illallah’ merupakan harga surga. Suatu saat Nabi Saw, mendengar muazin mengucapkan ‘Asyhadu alla ilaha illallah’. Lalu beliau bersabda pada muazin tadi, “Engkau terbebas dari neraka.” (HR. Muslim no. 873)

Dalam riwayat lain Rasulullah Saw juga bersabda, “Barang siapa yang akhir perkataannya sebelum meninggal dunia adalah ‘lailaha illallah’, maka dia akan masuk surga” (HR. Abu Daud: 3116, disahihkan Al Al-Bani dalam Misykatul Mashobih: 1621)

Kalimat ‘Laa Ilaha Illallah’ merupakan kebaikan yang paling utama. Abu Dzar pernah bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, apakah ‘Laa ilaha illallah’ merupakan kebaikan?” Nabi Saw bersabda, “Kalimat itu (Laa ilaha illallah) merupakan kebaikan yang paling utama. Kalimat itu dapat menghapuskan berbagai dosa dan kesalahan.” (HR. At-Thabarani: 1498, dihasankan Al Al-Bani dalam tahqiq beliau terhadap Kalimatul Ikhlas: 55)

Kalimat pemberat timbangan. Sebagaimana wasiat Nabi Nuh. Sesungguhnya ketujuh langit dan ketujuh bumi jika diletakkan pada satu daun timbangan, serta kalimat Laa Ilaaha Illallaah diletakkan pada daun timbangan yang lain, maka kalimat Laa Ilaaha Illallaah akan lebih berat timbangannya. Dan andai kata ketujuh langit serta ketujuh bumi dalam keadaan terbelenggu dan terkunci, niscaya kalimat Laa Ilaaha Illallaah akan mematahkan belenggu kunci tersebut. (HR. Ahmad: 6583)

Kalimat dzikir yang paling utama. Rasulullah Saw bersabda, “Dzikir yang paling utama adalah bacaan ‘Laa Ilaha Illallah’.” (HR. Ibnu Majah: 3800, At-Turmudzi: 3383 dihasankan Al Al-Bani dalam tahqiq beliau terhadap Kalimatul Ikhlas: 62)

Di hadis lain menyebutkan Kalimat ‘Laa Ilaha Illallah’ adalah amal yang paling banyak ganjarannya, menyamai pahala memerdekakan budak serta pelindung dari gangguan setan. Rasulullah Saw bersabda,

“Barang siapa mengucapkan ‘Laa il aha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ’ala kulli syay-in qodiir’ (Tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya kerajaan dan segala pujian. Dia-lah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu) dalam sehari sebanyak 100 kali, maka baginya sama dengan (memerdekakan ) sepuluh budak, dicatat baginya 100 kebaikan, dihapus darinya 100 kejelekan, dan dia akan terlindung dari setan pada siang hingga sore harinya, serta tidak ada yang lebih utama darinya kecuali orang yang membacanya lebih banyak dari itu.” (HR. Bukhari: 3293)

Kalimat ‘Laa Ilaha Illallah’ adalah Kunci 8 Pintu Surga, orang yang mengucapkannya bisa masuk lewat pintu mana saja yang dia sukai. Rasulullah Saw bersabda,

“Barang siapa mengucapkan ‘saya bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya, dan (bersaksi) bahwa ’Isa adalah hamba Allah dan anak dari hamba-Nya, dan kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam serta Ruh dari-Nya, dan (bersaksi pula) bahwa surga adalah benar adanya dan neraka pun benar adanya’ maka Allah pasti akan memasukkannya ke dalam surga dari delapan pintu surga yang mana saja yang dia kehendaki.” (HR. Muslim: 28) (Ibnu Rajab, Kalimatul Ikhlas, cet. IV, hal. 52-63)

Dengan demikian sudah semestinya perkara tauhid adalah perkara yang paling penting bagi seorang Muslim. Banyak fadilah yang terkandung di dalamnya. Seorang Muslim hendaknya terus berusaha mempelajarinya, mengamalkannya dan berusaha mati di atas tauhid. Semoga bermanfaat. Wallahu Ta’la ‘Alam

Penulis             : Ibnu Jihad

Editor               : Ibnu Alatas