Bedah Majalah Islamia: Sunni-Syiah, Beda Aqidah, Syariat Atau Politik?

Peneliti INSIST, Henri
Peneliti INSIST, Henri Shalahuddin sedang menuturkan penjelasannya [foto: an-najah]

JAKARTA (an-najah)  – Mungkin ditengah benak masyarakat khususnya ummat Islam banyak yang bertanya-tanya, mengapa kajian tentang Syiah ini baru dimulai belakangan. Padahal ajaran Syiah ini telah berdiri ratusan tahun lamanya dan tersebar di penjuru dunia. Pertanyaan ini terasa wajar dilontarkan oleh peserta diskusi Bedah Majalah ISLAMIA edisi terbaru yang mengangkat tema utama, ” Syiah dan Ahlusunnah, Beda Aqidah, Ajaran atau Politik?”

Diskusi ini digelar oleh INSIST di Gedung Diskusi INSIST, Jalan Kalibata Utara, Jakarta Selatan, Sabtu (09/03) siang ini. Hadir sebagai pengupas majalah tersebut adalah Henri Shalahuddin, MA. 

Henri, yang juga merupakan Peneliti INSIST (Institute for The Study of Islamic Thought and Civilizations) ini menegaskan bahwa problem mendasar perbedaan antara sunni dan syiah ada pada perkara yang pokok sehingga sulit ditemukan kesamaan dan persamaannya dengan aqidah ummat Islam.

Ia menegaskan, “Problem mendasar sunni vs syiah adalah problem ushuliyah, bukan problem fiqih yang menyangkut perbedaan furuiyah ijtihadiyah,” ujarnya.

Jika dalam fiqh, muaranya adalah hukum khata’-shawab (salah/betul). Namun, dalam persoalan beda aqidah akan berujung pada status haq atau bathil. Kesalahan ijtihad dalam fiqh bisa berpahala satu, namun kesalahan dalam aqidah bisa menjerumuskan orang pada kesesatan bahkan kekufuran, terang Henri. 

Sayangnya, di Indonesia para tokoh-tokoh ormas islam justru malah mengeluarkan pernyataan yang bernada ‘membela’ ajaran syiah. Seperti Said Agil Siradj yang merupakan Ketua PBNU. Padahal pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Hasyim Asyar dengan tegas pernah memfatwakan kesesatan syiah.

Gerakan Syiah di Indonesia

Peserta diskusi kajian INSIST antusias mendengarkan paparan pembicara [an-najah]
Peserta diskusi kajian INSIST antusias mendengarkan paparan pembicara [an-najah]

Menurut Henri, Gerakan Syiah di Indonesia masuk melalui berbagai lini, diantaranya melalui pembangunan pusat kebudayaan dan penelitian seperti ICC (Islamic Cultural Centre) dan Iranian Corner yang telah hadir di 13 Perguruan tinggi Islam di Indonesia. Selain itu, mereka pun giat mendirikan lembaga pendidikan dan kajian-kajian ilmiah seperti ICAS, STAI SADRA,  Pesantren YAPI Bangil, melalui seminar-seminar dan majelis ta’lim.

Kelompok Syiah juga aktif dalam menyebarkan pemikiran mereka melalui penyebaran buku-buku yang mengajarkan paham syiah, penerbitan-penerbitan itu gencar mendakwahkan ajaran mereka secara terselubung kepada kaum ahlu sunnah di Indonesia. Penerbit yang membawa pemahana syiah di Indonesia diantaranya adalah, Citra, Al-Huda, Penerbit Lentera, sebagian buku-buku Mizan, dan lainnya.

Tak cukup disitu, gerakan kelompok syiah di Indonesia sudah mulai membangun organisasi masyarakat dan lembaga terbuka seperti ABI (Ahlul Bait Indonesia) dan IJABI (Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia). Mereka ini ditengarai banyak juga yang masuk ke lembaga-lembaga  Islam seperti DMI atau MUI, bahkan menyusup ke parpol dan lembaga konstitusi agar dapat mengamankan kebijakan yang akan merugikan kelompok mereka.

Syiah Paguyuban Politik 

Sejatinya, Syiah adalah paguyuban politik, sehingga kelompok ini selalu berupaya untuk mencapai kekuasaan. “Syiah sejak awal adalah paguyuban atau partai politik,” ujar penulis buku yang juga kandidat doktor di Universiti Malaysia ini. Namun, ia melanjutkan, Syiah berhasil memanipulasi ajarannya yang melakukan fanatisme berlebihan terhadap Ali Bin Abi Thalib.

Hal ini akan semakin jelas kita pahami jika kita juga ikut memahami sejarah awal lahirnya syiah yang diawali dari proses tahkim (arbitrase) kepemimpinan Islam pada zaman Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah radhiyallahu ‘anhuma.

Di akhir acara diskusi, dibuka sesi dialog untuk menuntaskan pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab. Yang menarik, ada salah seorang penanya asal Depok yang merasa keberatan atas penjelasan pembicara yang hanya menceritakan hal-hal buruk yang ada dalam syiah seperti pelaknatan sahabat, penyimpangan Al-Quran dan nikah mut’ah yang tertera dalam kitab-kitab syiah.

Ia merasa bahwa isi-isi kitab tersebut dikupas dan ditafsirkan hanya berdasarkan teksnya namun tidak dipahami sesuai konteksnya. Ia menegaskan bahwa dalam sebuah buku (tidak disebutkan judulnya, red) yang ditulis oleh Murtadha Muthahari terbitan Penerbit Lentera disitu dijelaskan bahwa kawin mut’ah itu logis kalau dijelasan secara kontekstual.

Henri Shalahuddin kemudian langsung memotong, “Biologis mas, bukan logis,” jawabnya yang langsung disambut gelak tawa para hadirin.

Ia kemudian menerangkan bahwa justru ulama syiah yang selalu menafsirkan teks dari ayat/hadits menuruti hawa nafsunya, tanpa bersandar pada pemahaman yang disepakati para ulama salaf (sahabat, tabiin dan tabi’ tabi’in). [fajar/an-najah]