Beginilah Dinamika Kehidupan Ummat Islam Dengan Musuhnya

An-Najah.net – Situasi antara umat Islam dengan musuh-musuhnya sepanjang waktu bersifat dinamis, selalu berubah. Ada sunnah tadaawul (rotasi). Terkadang umat Islam unggul, kadang orang-orang kafir memenangkan pertempuran, kadang antara keduanya terlibat gencatan senjata, atau dinamika keadaan Iain yang selalu berubah.

Baca juga: Menghadapi Ujian dengan Keimanan

Tidak selalu terjadi denting senjata atau kepulan asap mesiu di medan pertempuran. Namun, keduanya merupakan perwujudan dua komunitas yang berbeda jalan hidup. Hubungan antara keduanya adalah pergulatan untuk saling mengalahkan, selalu terlibat persaingan, sekalipun tak setiap waktu terjadi pertempuran.

Keselarasan Berbagai Dimensi

Keselarasan seluruh dimensi berupa keyakinan, konstruksi sikap, ucapan dan tindakan seorang muslim menghadapi kekafiran adalah realisasi peperangan sepanjang waktunya. Mulai dari sikap wala’ (kesetiaan) antar sesama mukmin, baro’ (berlepas diri, memusuhi) kekafiran dan orang-orang kafir.

Persiapan fisik i’dad untuk memasuki pertempuran, mempersenjatai diri dan berlatih menggunakan senjata, berjaga-jaga di perbatasan, mencari informasi kekuatan dan kelengahan musuh, sampai benar-benar menerjuni pertempuran hidup-mati. Semuanya merupakan rangkaian peperangan yang pada setiap tahapnya memiliki nilai di sisi Allah Ta’ala.

Baca juga: Mendudukkan Posisi Jihad, Ibadah dan Menuntut Ilmu

Karena itu seluruh aktivitas dari mulai hulu hingga ke hilir, yang bertujuan manifestasi masyarakat yang mengimplementasikan syariat Allah Ta’ala. Asal tidak keluar dari panduan sunnah Rasulullah Saw, semua bernilai amal, dan wasilah untuk taqarrub kepada Allah Ta’ala. Baik berupa ucapan maupun perbuatan.

Terkadang, Jihad Tidak Harus Mengangkat Senjata

Tak benar, jika aktivitas hanya mengangkat pedang, atau meletupkan mesiu saja yang dianggap bernilai jihad. Sebab, kenyataannya pertempuran memang tidak mungkin berjalan di setiap waktu, tetapi sebagian waktu saja, terkadang durasinya panjang, bisa juga singkat.

Yang diperlukan di sini adalah ash-Shidqu wa al-Mujahadah (kejujuran dan kesungguhan). Jika perhitungan kondisi waqi’ memang mengharuskan memasuki pertempuran tanpa adanya penghalang. Maka, bertempur adalah tuntutannya ketika itu.

Namun, ketika diperhitungkan memasuki pertempuran tidak menguntungkan karena belum memenuhi sebab untuk mendapatkan kemenangan. Maka, ber-mujahadah dalam memenuhi sebab agar dapat memasuki kancah pertempuran, menjadi lebih urgen pada saat itu.

Bukankah Rasulullah Saw pernah bersabda,

«مَنْ فَصَلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَمَاتَ، أَوْ قُتِلَ فَهُوَ شَهِيدٌ، أَوْ وَقَصَهُ فَرَسُهُ، أَوْ بَعِيرُهُ أَوْ لَدَغَتْهُ هامَّةٌ، أَوْ مَاتَ عَلَى فِرَاشِهِ، أَوْ بِأَيِّ حَتْفٍ شَاءَ اللَّهُ، فَإِنَّهُ شَهِيدٌ، وَإِنَّ لَهُ الْجَنَّةَ»

“Barang siapa keluar di jalan Allah kemudian dia mati atau terbunuh maka dia syahid, atau terkena tendangan kaki atau terlempar dari kuda atau untanya (sehingga dia mati), atau terkena sengatan binatang berbisa, atau dia mati di tempat tidurnya (di kemahnya), atau kematian mengenainya di tempat mana pun yang dikehendaki oleh Allah, sesungguhnya dia mati syahid dan baginya surga. (Hr. Abu Dawud: 2499)

Baca juga: Mengapa Alergi Jihad?‎

Nuruddin al-Qori’ menjelaskan dalam bukunya, “Barang siapa keluar dari tempat tinggalnya untuk berjihad di jalan Allah atau semisalnya, kemudian dia terbunuh karena lukanya, entah karena terkena tendangan kaki kuda atau terlempar (darinya), atau terkena sengatan binatang berbisa (kalajengking), atau meninggal di atas kasurnya karena penyakit, maka dicacat baginya syahid (baik secara hakiki atau hukumi) dan pertama kali masuk jannah bersama para syuhada’ dan orang-orang shalih.” (Nuruddin al-Qori’, Mirqotul Mafatih Syarhu Miskatul Mashobih, cet. I, jilid 6, hal. 2485) Wallahu Ta’ala ‘Alam

Penulis             : Ibnu Jihad
Editor               : Ibnu Alatas