Beginilah Kematian Mendatangimu

Kematian
Kematian

An-Najah.net – Jika Anda melakukan perjalanan menuju tempat asing yang belum pernah mendengarkan detail lokasinya, juga tidak pernah melihat video, foto, tentang tempat tersebut, tentunya akan mempersiapkan cukup bekal.

Bahkan berusaha mencari tahu tentang tempat tersebut; rute, tempat-tempat persinggahan, bekal yang perlu disiapkan, dan lain sebagainya.

Kenapa harus serius bersiap? Karena tidak mau sesuatu yang tidak diinginkan terjadi atau terkena marabahaya. Kurangnya bekal dan minimnya ilmu tentang perjalanan membuat orang tersesat atau menyimpang. Juga bisa mengalami kecelakaan dan lain sebagainya.

Ada sebuah perjalanan yang pasti dilalui setiap manusia. Setiap makhluk yang bernyawa, suka atau tidak suka, senang atau benci, akan melaluinya. Perjalanan tersebut adalah kematian.

Allah berfirman, “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu.” (QS. Ali Imran: 185)

Sudah seharusnya setiap muslim merenungkan perjalanan menuju kematian dan menghayati perjalanannya. Renungan ini mendekatkan seseorang kepada Allah.

Ia pun bersemangat dalam beribadah, senantiasa menjaga kualitas ibadahnya dan meluruskan niatnya untuk Allah. Beginilah kondisi para salaf dalam kesehariannya.

Imam al-Hasan Bashri berkata “Selayaknya selalu bersedih orang yang mengetahui bahwa kematian pasti menghampirinya, hari kiamat adalah hari yang ditunggu, dan berada di hadapan Allah adalah peristiwa yang pasti dia lalui di hari kiamat.

“Sesungguhnya,” lanjut beliau, “orang mukmin itu di pagi hari bersedih, di waktu sore juga bersedih. Keadaannya, selalu berada di antara dua ketakutan yaitu dosa yang telah ia kerjakan, karena dia tidak tahu hukuman apa yang akan Allah timpakan atasnya karena dosa itu. Juga kematian yang pasti mendatanginya. Sebab, ia tidak tahu siksa apa yang akan menimpa dirinya kelak.” (Hilyatul Auliya 2/133)

Suatu waktu, tabi’in Bisyr bin Manshur berkata kepada Atho’ as-Sulaimi, “Wahai Atho’, kenapa engkau sedih?” Beliau menjawab, “Saya sedih karena memikirkan kematian yang siap menjemputku, kuburan adalah rumahku.

Di hari kiamat, aku berdiri menghadap Allah, di atas neraka jahanam jalanku meniti sirot, dan aku tidak tahu apa yang akan diperbuat Allah kepadaku.” Kemudian Atho’ mengambil nafas panjang dan tiba-tiba pingsan (Sifatus Sofwah 3/231)

Kematian (al-maut) memiliki sifat-sifat yang harus dipahami oleh setiap manusia. Antara lain;

Pertama: Kematian adalah kepastian. Kematian akan datang kepada siapapun, tanpa mengenal status sosial, maupun pangkat. Baik raja maupun rakyat; tua-muda, miskin-kaya, semua akan mati.

Kedua: Kematian tidak dihalangi oleh apapun. Jika ajal sudah datang, tidak ada daya dan upaya untuk menghindar.
Salah seorang ulama yang bernama Imam Ibnu Abi Syaibah mengisahkan dalam kitabnya Al-Mushonnif dan juga Imam ats- Tsa’labiy, mengisahkannya dalam tafsirnya bahwa Nabi Sulaiman q memiliki seorang perdana menteri yang hebat.

Suatu waktu Nabi Sulaiman duduk bersama dengan Perdana Menteri tersebut. Masuklah seorang tamu asing yang menyampaikan salam kepada Nabi Sulaiman.

Saat berbicara dengan Nabi Sulaiman sambil memandang ke arah Perdana Menteri tersebut dengan tatapan yang sangat tajam.

Ketika tamu ini keluar dari Nabi Sulaiman, Perdana Menteri bertanya kepada Nabi Sulaiman, “Wahai nabi Allah, siapakah laki-laki yang baru saja menemui Anda? demi Allah pandangannya membuat saya takut.

”Maka Nabi Sulaiman menjawab, “Dia adalah malaikat maut yang menampakkan dirinya dalam bentuk manusia.” Ketika mendengar penjelasan tersebut, sang menteri gemetar ketakutan dan menangis.

Ia pun berkata, “Wahai nabi Allah, saya meminta kepadamu -demi Allah- perintahkan angin untuk membawaku ke tempat yang paling jauh yaitu India.”

Nabi Sulaiman pun memerintahkan angin untuk membawanya ke tempat tersebut. Keesokan harinya, malaikat maut tersebut bertemu kembali Nabi Sulaiman.

Ia menyampaikan salam seperti biasanya, nabi Sulaiman pun bertanya, “Sungguh kemarin engkau telah membuat sahabatku (Perdana Menteri) ketakutan karena tatapan tajammu.”

Malaikat maut menjawab, “Wahai nabi Allah, kemarin aku menemuimu di waktu dhuha, aku dapati ia bersamamu padahal Allah telah memerintahkanku untuk mencabut nyawanya setelah Dhuhur (kemarin) di India.

Inilah yang membuat aku kaget. Lalu, Nabi Sulaiman bertanya, “Terus apa yang telah kamu lakukan terhadap menteriku itu?”

Malaikat maut menjawab, “Akupun ke tempat yang diperintahkan oleh Allah l untuk mencabut nyawanya, dan ternyata aku mendapatkan dia di tempat tersebut menungguku.

Lalu aku mencabut nyawanya di sana.” Dia akan datang seketika tanpa pemberitahuan dan dia akan datang kepada siapapun tanpa dihalangi oleh apapun.

Ketiga: Kematian tidak bisa diundur. Inilah kematian dia. Tidak menunggu seseorang pensiun dari tugasnya sebagai pegawai negeri, tidak juga menunggu seseorang sampai rambutnya beruban, dan juga kematian tidak menunggu seseorang untuk bertobat.

Tetapi, jika ajal telah ditentukan oleh Allah l, pada saat itu juga kematian akan mendatanginya. Kita banyak menyaksikan orang meninggal sebelum dia bertaubat.

Keempat: Kematian memiliki sakarat, yaitu kesulitan yang sangat saat malaikat maut datang dan tatkala malaikat mencabut nyawa. Ini adalah kondisi dan rasa sakit yang luar biasa.

Setiap manusia pasti merasakan sekarat. Dalam beberapa ayat Allah menggambarkan kondisi manusia ketika kematian, menjelang sakarat dalam beberapa ayat.

Sakarat orang yang baik dan banyak melakukan amal saleh dengan orang-orang yang jahat, banyak keburukannya jelas berbeda. Allah telah menggambarkan kedua kondisi ini dalam beberapa ayat. Tentang kematian orang-orang saleh.

Allah berfirman
“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hambahamba- Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku.” (Qs.Al-Fajr: 27-30)

Dalam menggambarkan kematian orangorang yang jahat lagi buruk, Allah l berfirman; “Bagaimanakah (keadaan mereka) apabila malaikat mencabut nyawa mereka seraya memukul-mukul muka mereka dan punggung mereka?” (Qs. Muhammad: 27)

Gambaran kematian di atas seharusnya membuat seorang mukmin, betul-betul bersungguh-sungguh dalam memperbaiki amalnya dan berusaha menutup usianya dengan khusnul khotimah. Sebab orang yang mengetahui tidak sama dengan orang-orang yang tidak tahu.

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 137 Rubrik Oase Imani

Penulis : Akrom Syahid

Editor : Helmi Alfian