Belajar dari Afghanistan

Jihad Afghanistan
Jihad Afghanistan
Jihad Afghanistan

An-Najah.net – Bulan April 1978, sebuah kudeta komunis terjadi di Afghanistan. Elemen Marxist dalam militer Afghan menggulingkan Sardar Mohammed Daud yang memerintah sejak 1973.  Daud sendiri sebelumnya mengkudeta Raja Zhahir Shah dan setelahnya memberi ruang gerak bagi komunis.

Selepas kudeta, komunis gagal mengkonsolidasikan diri. Mereka terbelah menjadi dua faksi; Khalq (rakyat) dan Parcham (bendera).  Uni Soviet yang saat itu masih menjadi kiblat komunis dunia pun melakukan intervensi.

Bulan Desember 1979, pasukan Soviet menginvasi Afghan dan mengangkat pemimpin Parcham Babrak Karmal sebagai Presiden. Para ulama Afghan dan pemimpin suku pun mendeklarasikan jihad terhadap kafir komunis.

Dukungan dan relawan jihad pun mengalir ke Afghan. Para mujahid dari seluruh dunia berdatangan untuk turut bertempur mengusir Soviet. Perang panjang pun berkecamuk hingga akhirnya Soviet mundur dari negeri itu. Meninggalkan Rejim komunis Najibullah sendirian. Kabul pun dikepung dan dikuasai Mujahidin pada tahun 1992.

Meski mengorbankan ribuan Muslim, invasi Soviet itu membuka jalan bagi lahirnya gerakan jihad internasional. Yaitu dengan mengalirnya ribuan mujahidin dari berbagai bangsa ke Afghan. Hal ini menjadi benih yang kelak tersebar di berbagai negeri Muslim setelah mereka kembali ke kampung halaman masing-masing.

Revolusi komunis yang brutal di berbagai negeri memang kerap menjadikan negeri Muslim sebagai sasaran dan korban. Invasi Soviet adalah puncaknya, setelah menikam dengan para murtadin komunis lokal, Komintern (gerakan komunis internasional) memutuskan terjun langsung menjajah Afghanistan.

Hal yang sama pernah hampir terjadi di Indonesia, aktornya PKI dengan dukungan Komintern juga di tahun 1948. Saat itu agen Komintern asal Indonesia, Musso, pulang dan berusaha mewujudkan “Soviet Indonesia” dengan pemberontakan bersenjata di Madiun dan sekitarnya. Upayanya kandas ditumpas oleh tentara dan umat Islam.

Kemudian, 17 tahun berselang, PKI mencoba mengulang lagi upaya perjuta (perjuangan bersenjata) dengan pola dan backing berbeda, kali ini PKC (partai Komunis Cina). Memanfaatkan kedekatan dengan Presiden Soekarno dan situasi konflik dengan Malaysia, PKI pun menggelar Gerakan 30 September 1965.

Upaya ketiga ini gagal lagi, dan berbuah pembabatan gerakan komunis Indonesia secara besar-besaran. Namun, ideologi memang tak bisa dimatikan dengan menumpas pengikutnya. Gerakan komunis dan kiri melakukan gerilya pemikiran dan politik di bawah tanah.

Di permukaan mereka menumpangi partai-partai sekuler, ormas dan LSM yang beringatan pendek. Maka apologi peristiwa 1965 berjalan mulus. Puncaknya adalah setelah Soeharto terguling diterjang tsunami Reformasi 1998. Satu demi satu belenggu yang mengekang komunisme dilepaskan dengan sukses.

Kini, satu demi satu catatan sejarah aib kaum komunis dihapus atau dikaburkan. Anak-anak biologis dan ideologis kaum komunis pun mulai bermunculan sebagai politisi dan tokoh publik. Beriringan dengan semakin mesranya pemerintah sekarang dengan Cina Komunis, apakah ini tanda-tanda pengambilalihan Nusantara oleh komunis? Na’udzubillahi min dzalik, sepertinya kita perlu belajar dari pengalaman Afghanistan.

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 126 Rubrik Renungan Hal; 64.

Editor : Anwar