Belajar dari Anak Palestina

Al aqsha bumi jihad
Al aqsha bumi jihad

An-Najah.net – “Ayolah, apa kalian tak mau hadiah-hadiah menarik ini? Aku hanya ingin mendengar kalian mengatakan Yerusalem adalah ibu kota Israel. Kameraku akan kumatikan biar kalian leluasa”.

Ungkapan di atas adalah rayuan Omar Abdel Rahman dalam ekperimen sosial terhadap anak-anak Palestina untuk mau mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.Video sebagai eksperimen sosial Omar Abdel Rahman pada Desember tahun 2016 lalu kembali viral sejak memanasnya kembali konflik Israel-Palestina pasca deklarasi pengakuan Trump atas Yerusalem sebagai ibukota Palestina.

Dalam video tersebut, Omar mencoba mewawancarai sejumlah anak-anak Palestina dan memberi pertanyaan kepada mereka mengenai Israel dan Yerusalem. “Aku akan melakukan percobaan, yakni melemparkan pertanyaan kepada anak-anak ‘apakah ibu kota Israel?’ Apakah ada dari mereka yang mau menjawab ‘Yerusalem? Aku akan mengiming-imingi hadiah untuk mereka yang mau mengatakan hal itu,” kata Omar dalam pembukaan videonya.

Omar lantas meminta waktu seorang bocah Palestina bernama Sami Yusuf Guraib. “Aku akan mengajukan tiga pertanyaan. Pertama, Apakah ibu kota Mesir?” tanya Omar. Sami cepat menjawab secara benar pertanyaan tersebut. “Kairo.” “Ok, benar. Pertanyaan kedua, apakah ibu kota Israel?” tanya Omar. Ternyata, jawaban Sami terbilang mengejutkan. “Israel? Apa itu Israel? Tak ada yang namanya negara Israel! Mereka cuma pemukim dari luar negeri yang datang ke negara kita” tukas Sami.

Omar melanjutkan wawancaranya dengan sekelompok bocah Palestina. Ia juga melontarkan pertanyaan yang sama kepada seorang bocah perempuan. “Orang bilang ibu kota Israel adalah Al Quds (Yerusalem dalam bahasa Arab), benarkah?”. Si bocah perempuan lantas menjawab, “Mereka salah! Mereka memang berpikir seperti itu, tapi aslinya bukan. Al Quds adalah ibu kota kami, Palestina,” jawab anak tersebut.

Jawaban yang sama juga diterima Omar oleh seorang anak laki-laki lainnya. “Israel yang mana ya?” tanya si bocah setelah diberikan pertanyaan oleh Omar. “Ya, Israel, kau tahu kan, Israel,” tutur Omar. Bocah itu terdiam agak lama sembari tersenyum sebelum akhirnya menjawab, “Mereka tak punya ibu kota. Mereka cuma penjajah!” “Jadi Israel tak punya ibu kota ya?” cecar Omar. “Tidak, mereka tidak punya, karena mereka hanya penjajah. Bahkan mereka bukan negara. Mereka datang dari Amerika. Al Quds adalah ibu kota negara kita, Palestina,” tandasnya.

Senjata Menjadi Mainan Favorit Anak Palestina

Karakter perjuangan sangat lekat dalam diri anak-anak Palestina. Tak heran, senjatapun menjadi mainan favorit mereka. Hal ini terungkap saat Idhul Fitri tahun 2017 lalu. Di jalan-jalan utama di kota-kota Palestina sejak akhir Ramadhan dan sepanjang hari raya Idul Fitri para pedagang berjajar memenuhi lapak mereka dengan model sejumlah permainan, yang sebagian besar didominasi karakter bersenjata, terutama senjata laras panjang dan tank-tank.

Di tengah kota Nablus ada lebih dari 20 lapak yang mengelilingi lapangan Syuhada yang didominasi oleh berbagai macam jenis mainan senjata laras panjang dan pistol plastik, di samping model kendaraan tank dan lapis baja, yang menarik anak-anak yang sedang berjalan-jalan bersama keluarga mereka.

Meski pihak-pihak berwenang memburu para pedagang yang mengimpor senjata mainan berpeluru plastik ini, karena dianggap membahayakan anak-anak, namun model mainan tersebut tersedia di lapak-lapak baik secara terang-terangan maupun tersembunyi.

Salah seorang pemilik lapak di tengah kota Nablus, Saad Khalili, mengatakan, “Mayoritas anak-anak paling suka membeli pistol mainan dan petasan dan tidak bisa digantikan dengan mainan lainnya.”

Dia menegaskan bahwa mayoritas anak-anak yang membeli dari toko dan kios atau lapak memilih pistol, senjata laras panjang dan model mobil militer dan tank. Mainan model ini menjadi monopoli anak-anak, bahkan anak-anak perempuan juga membelinya, bahkan menolak bila ibu-ibunya membelikan mainnya yang lain yang biasa menjadi mainan anak-anak perempuan.

Matang dengan Realitas

Berbeda dengan anak-anak Indonesia yang justru belajar dari buku terbitan Intan Pariwara dan Yudistira yang menyebutkan Yerusalem sebagai ibukota Israel. Anak-anak Palestina justru tidak mau sedikitpun mengakui keberadaan Israel, apalagi Yerusalem sebagai ibukotanya.

Termasuk dalam hal mainan, anak-anak Indonesia berbeda jauh dengan anak-anak Palestina. Anak Palestina matang dengan realitas yang mereka hadapi. Mereka merasakan betul apa yang terjadi. kekejaman Israel terpatri kuat dalam benak mereka. Mereka melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana orang-orang yang mereka cintai menjadi korban.

Kekejaman Israel menjadi  cerita-cerita berseri yang mereka lihat dan dengar setiap hari. Gerakan Intifadah juga menjadi medan praktek perlawanan mereka yang tidak mengena batas usia. Intifadah ini menjadi semakin mematangkan mereka saat Israel menghadapi batu-batu yang mereka lempar dengan senjata laras panjang dan senjata-senjata mematikan lainnya. Spirit perlawanan ini menjadi bagian tak terpisahkan jiwa-jiwa anak-anak Palestina.

Hasil Pendidikan yang Gigih

Tak bisa dilupakan adalah pendidikan orang tua terhadap anak-anak mereka di Palestina. Kegigihan mereka membentuk karakter perlawanan terhadap Israel. Karakter-karakter kotor Israel yang disebutkan dalam Al Qur’an menjadi cerita harian anak-anak Palestina. Para ulama tak kalah perannya dalam mengkader anak-anak menjadi anak-anak yang gigih dan memiliki jiwa perlawanan.

Anak yang gigih akan tumbuh menjadi seorang yang berjiwa kuat, tidak gampang mengeluh, dan biasanya menjadi seorang yang berhasil, karena mampu menyelesaikan berbagai tantangan kehidupan yang mereka hadapi.

Medidik Anak dengan Spirit Perjuangan

Spirit perjuangan perlu ditanamkan pada anak. Sejak kecil anak dikondisikan untuk mencintai kebenaran. Jujur dan berjiwa amanah. Memiliki semangat amar ma’ruf nahi munkar. Sebaliknya, dari kecil pula anak dibiasakan membenci berbagai kemaksiatan dan kemungkaran. Berani utuk melawan kemungkaran.

Kisah-kisah perjuangan Musa melawan Fir’aun berlu menjadi cerita yang tertanam kuat dalam diri anak. Narasi Musa melawan Fir’aun harus menjadi cerita yang hidup dengan menegaskan siapa-siapa sosok Musa dan Fir’aun hari ini. Sehingga anak tidak berimajinasi, tetapi melihat secara nyata sosok perlawanan Musa melawan Fir’aun dengan berbagai fariabel dan pendukungnya.

Jika Narasi Musa melawan Fir’aun ini hidup, terpatri dalam diri anak, maka akan melahirkan spirit perjuangan saat melihat model-model Fir’aun muncul disekitarnya. Wallahu ‘alam bishowab.

Penulis : Mulyanto

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 146 Rubrik Tema Utama

Editor : Anwar