Belajar dari Nabi Ibrahim As

Dunia ibarat seperti lautan yang dalam, telah banyak orang yang tenggelam didalamnya. Hendaklah menjadikan taqwa kepada Allah sebagai Kapalnya.
Dunia ibarat seperti lautan yang dalam, telah banyak orang yang tenggelam didalamnya. Hendaklah menjadikan taqwa kepada Allah sebagai Kapalnya.

An-najah.net – Manusia hidup memerlukan contoh yang baik dalam menjalani hidup ini. Jika manusia salah dalam memilih contoh akan mengakibatkan kesengsaraan baik di dunia dan diakhirat. Allah Swt selaku pencipta dari manusia, tidak membiarkan bergitu saja. Sehingga mereka harus bingung dalam mengarungi samudra kehidupan ini.

Namun, Allah Swt telah menurunkan kitabnya untuk dijadikan petunjuk bagi orang yang bertaqwa. Al Qur’an pula nantinya juga akan menjadi furqan, pembeda mana jalan yang lurus dan jalan yang menyimpang.

Salah satu metode untuk mengajari manusia agar mengetahui tujuan hidupnya. Allah menggunakan metode cerita, atau lebih dikenal dengan istilah qishah. Karena didalam kisah-kisah itu terdapat pelajaran yang bisa diambil, kemudian diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kisah yang akan diangkat dalam makalah ini adalah kisah Nabi Ibrahim as. Beliau merupakan kholilullah (kekasih Allah Swt), Abul Anbiya’ (bapaknya para nabi), dan juga termasuk ulul azmi (nabi yang dikenal kesabarannya dalam menghadapi ujian hidupnya).

Empat Sifat Nabi Ibrahim

Hari raya Idhul Adha mengingatkan umat Islam terhadap kisah pengorbanan Nabi Ibrahim. Allah Swt memberikan ujian kepada dirinya untuk mengangkat derajatnya. Didalam surat An Nahl ayat 120 – 123, Allah Swt menjelaskan ada empat sifat Nabi Ibrahim yang bisa dijadikan tauladan Kaum muslimin.

Pertama, Ummah

Ummah adalah sekumpulan orang atau sekelompok yang berkumpul menjadi satu. Tetapi dalam ayat tersebut Ibrahim secara sendiri dan dalam kesendiriannya disebut dengan kata Ummah. Penyebutan Ibrahim sebagai ummah adalah karena pada masa itu hanya Ibrahim satu-satunya orang yang bertauhid diantara orang-orang Musyrik dibawah kekuasaan raja yang musyrik, dalam lingkungan masyarakat musyrik dan ditengah-tengah adat yang penuh dengan syirik.

Nabi Ibrahim disebut dengan ummah, juga karena dialah seorang imam, seorang pemimpin yang dapat dijadikan tauladan. Ditengah badai fitnah yang menimpanya, dibawah tekanan dan ancaman penguasa. Ibrahim tetap memegang erat ajaran tauhid yang diyakininya. Maka sempurnalah sifat Ibrahim sebagai Ummah, sebagai orang yang teguh pendirian meski dalam kesendirian menjadi tauladan dan mengajarkan kebaikan kepada manusia.

Kedua, Qanitan Lillah

Setelah Allah Swt menjelaskan sifat Ummah pada diri Nabi Ibrahim. Allah menjelaskan sifat kedua, Qanitan lillah. Qanitan lillah berarti orang yang tunduk, patuh, dan taat kepada Allah Swt. Ketaatannya benar-benar telah teruji dengan perintah Allah untuk menyembelih putranya Ismail. Seorang anak yang saat itu adalah baru tumbuh dan bisa diajak bekerja.

Padahal anak ini ditunggu sudah sekian lamanya. Namun nabi Ibrahim tetap melaksanakan perintah untuk menyembelih anaknya itu. Kisah ini diabadikan Allah dalam surat 100-111

Ketiga, Hanifa

Sifat ketiga yang melekat dalam diri Ibrahim adalah hanifa. Hanifa berarti orang yang menjauhi diri dari syirik menuju tauhid. Oleh karena itulah pada akhir surat an nahl ayat 120 menegaskan “Dan bukanlah dia (Ibrahim) termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah.

Tauhid inilah inti dakwah semua nabi dan rasul. Pokok ajaran yang mereka sampaikan adalah sama, yaitu agar manusia bertauhid dan menjauhi diri dari syirik. Nabi Nuh, Idris, Hud, Sholeh, dan seluruh Nabi hingga Nabi Muhammad Saw semua menyeru kepada tauhid.

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللَّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ

“Dan sungguh kami telah mengutus rasul tiap-tiap ummat (untuk menyerukan) : “sembahlah Allah saja dan jauhilah thaghut.” (Qs. An Nahl : 36)

Keempat, Syakiran Li an’umihi

Sifat keempat yang terdapat pada diri nabi Ibrahim adalah syakiran li an’umihi. Syakiran li an’umihi berarti orang yang selalu mensyukuri nikmat-nikmat allah swt. Syukur bukan hanya dilisan saja, namun juga dihati juga dibuktikan dalam amal kehidupan yang nyata.

Allah memberikan janji akan adanya tambahan nikmat bagi orang yang bersyukur. Namun, sebaliknya allah mengancam akan memberikan adzab dan siksa yang pedih bagi hamba-hamba yang kufur. Hal ini terdapat dalam surat Ibrahim ayat 7.

Dikehidupan ini berlaku hukum kausalitas (sebab – akibat). Setelah menjelaskan empat sifat yang dimiliki nabi Ibrahim diatas. Allah memberikan kebaikan kepada nabi Ibrahim.

Pertama, Allah senantiasa memberikan hidayah kepada shiratal Mustaqim.

Kedua, Allah memberikan kebaikan didunia. Kebaikan dunia itu adalah Rizqi yang banyak, Istri yang sholihah, anak sholih, dan akhlak yang mulia.

Ketiga, Allah memberikan kebaikan diakhirat berupa surga dan beliau digolongkan sebagai orang yang sholih.

Kehidupan Bagaikan Roda

Ujian dalam kehidupan merupakan sunnatullah yang pasti berjalan. Kadang kala mausia ada diatas puncak kenikmatan, kadang pula kenikmatan itu hilang darinya. Sehingga kehidupan itu bagaikan roda.

Dalam menghadapi ujian ini ada orang yang lulus dalam ujian itu sehingga madecer (masa depan cerah), adapula yang gagal dalam menghadapi ujian itu sehingga madesur (masa depan suram). Dengan adanya ujian ini, nantinya akan bisa mengangkat derajat seseorang. Bahkan balasan pahalanya sesuai dengan beratnya ujian itu.

Ujian itu ada dua macam jenisnya. Pertama, ada ujian yangmenyenangkan. Kedua, ujian yang tidak menyenangkan. Sehingga dalam menghadapinya seorang mukmin dituntut untuk menggunakan dua pilihan antara syukur dan sabar. Dengan dua hal ini, akan membuat seorang mukmin menjadi mukmin yang menakjubkan.

Kisah nabi Ibrahim merupakan kisah yang bagus untuk dijadikan tauladan. Sudah selayaknya ketika seorang Bapak ingin memiliki istri yang sholihah, anak yang sholih dan sholihah, rizqi yang melimpah, dan akhlak yang mulia. Mereka harus meneladani kehidupan Nabi Ibrahim. Bahkan, mengikuti millah Ibrahim ini juga termasuk perintah Allah Swt supaya umat ini menjadi ahli tauhid. (Anwar/annajah)