Kepemimpinan dari menggembala

Belajar Kepemimpinan dari Mengembala

An-Najah.net – Rasulullah Saw bersabda :

مَا بَعَثَ اللهُ نَبِيَّا إِلاَّ رَعَى الْغَنَمَ

“Tidaklah Allah mengutus seorang nabi, melainkan ia pernah menggembala kambing.”

Para sahabat bertanya, “Baginda juga”. Beliau menjawab, “Iya, aku pernah menggembala kambing milik penduduk Makkah dengan upah beberapa qirath.” (HR. Bukhari)

Dahulu ketika Rasulullah Saw ditinggal mati oleh kakeknya Abdul Muthalib. Kemudian beliau diasuh oleh pamannya, Abu Thalib. Sedangkan pamannya ini adalah orang yang miskin.

Rasulullah Saw mengembala kambing untuk membantu pamannya mencari rezeki. Rasulullah Saw telah mengabarkan tentang dirinya yang mulia dan tentang saudara-saudara beliau dari kalangan para nabi bahwa mereka semua pernah menggembala kambing.

Adapun beliau pernah mengembala kambing milik penduduk Makkah. Ketika itu, beliau masih kecil dan beliau mengambil upah dari pekerjaan menggembalanya.

Baca Juga : Nabi Ibrahim Potret Kepemimpinan Yang Sukses 

Pelajaran dari Menggembala

Menggembala kambing memberikan pemiliknya beberapa nilai pendidikan. Diantaranya adalah sebagai berikut :

Pertama, Kesabaran

Menggembala kambing sejak matahari terbit hingga terbenam tidaklah mudah. Karena domba pada umumnya makanannya lambat.

Maka dari itu, orang yang menggembalanya haruslah memiliki kesabaran dan daya tahan. Demikian pula pendidikan manusia.

Orang yang menggembala tidak tinggal di istina yang tinggi atau dalam kehidupan mewah. Tetapi ia hidup dalam udaya yang sangat panas, terutama di jazirah arab. Karena itu, dibutuhkan air yang banyak untuk menghilangkan dahaganya.

Dia juga tidak mendapatkan apa-apa selain makanan yang kasar dan kehidupan yang sulit. Maka ia harus mempersiapkan dirinya dalam menahan kondisi yang keras ini. Ia harus senantiasa tenang dan sabar menghadapinya.

Baca Juga : Tiga Contoh Kepemimpinan dalam Surat Al Baqarah 

Kedua, Tawadhu’ (Rendah diri)

Pekerjaan penggembala kambing biasanya adalah melayani kambing, mengawasi kelahirannya, terus siap untuk menjaganya dan tidur didekatnya.

Bahkan mungkin ia terkena sesuatu yang biasa mengenainya, seperti air seni atau sedikit kotorannya. Tapi beliau tidak merasa gelisah karenanya.

Dengan pengalaman seperti itu yang berkelanjutan dan terus menerus. Hal itu dapat menjauhkan diri beliau dari sifat kesombongan dan berbangga diri. Jiwanya fokus pada sifat tawadhu’.

Rasulullah Saw mengingatkan bahayanya sombong dan keutamaan tawadhu’. Beliau bersabda :

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Tidak masuk surga orang yang dalam hatinya ada seberat atom dari sifat sombong.” Seorang berkata, “Ada orang yang suka pakaiannya bagus, sandalnya bagus.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah itu Indah dan mencintai keindahan. Kesombongan berarti menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.” (HR. Muslim)

Baca Juga : Urgensi Kepemimpinan Dalam Islam 

Ketiga, Keberanian

Biasanya, pekerjaan penggembala itu berbenturan dengan binatang-binatang liar yang buas. Maka dari itu, ia harus memiliki sifat keberanian yang menjadikannya cakap dalam mengatasi binatang-binatang liar itu dan mencegahnya dari memangsa kambing-kambingnya.

Keempat, Belas kasih dan lemah lembut

Seorang penggembala melakukan sesuatu yang sesuai dengan pekerjaannya dalam membantu kambing. Jika kambing itu sakit atau terluka. Melalui kondisi sakitnya itu dapat mengundang rasa belas kasihan padanya, mengobatinya, dan meringankan rasa sakitnya.

Maka orang yang sayang kepada binatang, lebih sayang kepada manusia. Terutama jika ia adalah seorang rasul yang diutus oleh Allah untuk mengajari manusia, membimbing mereka, dan menyelamatkan mereka dari api neraka, serta membuatnya bahagia di dunia dan di akhirat.

Baca Juga : Wajah Pemimpin Di Akhir Zaman

Kelima, Mencintai hasil usaha keringat sendiri

Sesungguhnya Allah Swt berkuasa untuk membuat Muhammad Saw tidak perlu mengembala kambing. Akan tetapi, ini adalah bentuk tarbiyah bagi beliau dan umatnya untuk makan dari hasil usaha tangan dan keringat sendiri.

Menggembala kambing adalah salah satu macam usaha dengan tangan sendiri. Rasulullah Saw bersabda :

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ وَإِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ

“Tidaklah seorang makan makanan lebih baik daripada memakan dari hasil pekerjaan tangan sendiri. Dan sesunggunya nabiyullah Dawud As makan dari hasil pekerjaan tangannya sendiri.” (HR. Bukhari)

Tidak diragukan lagi bahwa berpegang pada keuntungan usaha yang halal. Membuat dirinya memiliki kebebasan penuh dan kemampuan untuk mengatakan perkataan yang benar. Serta berbicara kebenaran dengan penuh terang-terangan.

Menggembala kambing merupakan salah satu sarana untuk melatih kepemimpinan. Saat ini tentu sarana untuk mencetak kader-kader pemimpin amat banyak. Melatih generasi muda untuk menjadi pemimpin masa depan perlu dipersiapkan.

Baca Juga : Pemimpin Islam Vs Diktator Jahiliyah 

Kepemimpinan itu diperoleh melalui sebuah proses yang panjang. Lahirnya pemimpin-pemimpin dimasa yang akan datang perlu dipersiapkan. Karena pemimpin itu ada tidak turun dari langit, tetapi ada karena hasil tarbiyah.

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 170 Rubrik Fiqih Sirah

Penulis : Abu Khalid

Editor : Anwar

Tinggalkan komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.