Belajar Dari Tarbiyah Rasulullah, Strategi Mendidik Anak

Ilustrasi, Tarbiyah Anak
Ilustrasi, Tarbiyah Anak
Ilustrasi, Tarbiyah Anak

An-najah.net – Kita kerap menyaksikan kekeliruan yang dilakukan seseorang anak. Metode pendidik sangat menentukan keberhasilan upaya mengatasi kekeliruan serta mendorong anak untuk tidak mengulangi kekeliruan yang sama. Terdapat beberapa cara yang senantiasa digunakan Rasulullah dalam mengatasi berbagai masalah. Diantaranya melalui teguran langsung.

Diceritakan Umar bin Abi Salmah ra. Ia Berkata, Dulu aku menjadi pembantu di rumah Rasulullah Saw. Ketika makan, biasanya aku mengulurkan tanganku ke berbagai penjuru. Melihat itu berliau berkata,

يَاغُلاَمُ سَمِّ الله وَكُلْ بِيَمِيْنِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيْكَ

:”Hai Ghulam, bacalah basmalah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah apa yang ada didekatmu.” (HR. Al Bukhari)

Kisah diatas memberikan sebuah pelajaran beberapa nilai tarbiyah yang dapat kita terapkan dalam mendidikan anak.

Pertama, Rasulullah Saw senantiasa menyempatkan duduk dengan anak kecil dan makan bersama mereka. Hal ini bisa membawa kepada pertautan hati.

Rasulullah senantiasa menyempatkan untuk makan bersama anak-anak. Cara ini untuk mempererat keterikatan batin antara seorang pendidik dengan anak didiknya.

Dengan begitu kita dapat meluruskan kembali berbagai kekeliruan yang mereka lakukan melalui dialog terbuka dan diskusi. Alangkah baiknya jika ibu dan bapak berkumpul dengan anak-anaknya ketika makan bersama, sehingga mereka merasakan pentinya peran kedua orang tua.

Hal ini, juga dapat mempermudah meresapnya segala nasihat orang tua kepada anak-anaknya, baik itu nasihat dalam hal perilaku, keimanan, atau pendidikan.

Kedua, Rasulullah Saw memilih waktuyang tepat dalam meluruskan kekeliruan.

Waktu yang beliau pilih pun sangat tepat. Beliau segera menegur ketika kekeliruan Umar bin Abi Salamah itu terjadi berulang-ulang sebelum kebiasaan tersebut menjadi kebiasaan sehari-hari. Jika dibiarkan, kekeliruan akan sulit diluruskan.

Kalaupun dapat, kita membutuhkan waktu dan tenaga yang lebih banyak lagi. Karenanya, mengacu pada metode Rasulullah Saw diatas, kita harus sesegera mungkin meluruskan kebiasaan jelek anak-anak kita. Model pendidikan ini wajib diambil dari patinya oleh para orang tua dan pendidik zaman sekarang.

Ketiga, Rasulullah Saw menegur dengan memakai panggilan yang paling baik.

Sebagai seorang pendidik, Rasulullah Saw, memanggil anak dengan panggilan yang menyenangkan, seperti “Wahai Ghulam”. Abu Salam pun menyenangi panggilan tersebut. Cara tersebut cukup efektif menarik perhatian anak sehingga mereka tidak kesulitan menerima nasihat.

Ironisnya, yang kita saksikan dewasa ini, jika melihat kekeliruan anak-anaknya, para orang tua marah besar sambil memanggil dengan sejelek-jelek nama. Hal itu menjadikan anak jauh dari orang tuanya dan nasihat akan sulit mereka terima.

Keempat, Rasulullah Saw membetulkan kesalahan dari sumbernya.

Rasulullah Saw tidak hanya meluruskan kesalahan Abu salmah dalam hal berpindah-pindah tangan. Seluruh nasihat beliau ungkapkan, mulai dari adab duduk ketika makan. Berpedoman pada cara tersebut, para orang tua harus mencari sumber kekeliruan.

Misalnya, ketika orang tua tahu bahwa penyebab anaknya merokok adalah pengaruh pergaulan dengan teman-temannya, orang tua bertugas mengambil rokok dan melarang anaknya membeli rokok serta bergaul dengan teman-teman yang membawa pengaruh jelek itu. Mudah-mudahan setelah itu para orang tua tak melihat lagi kenakalan anaknya.

Kelima, Rasulullah Saw menggunakan susunan yang akurat dalam mengatasi kesalahan.

Susunan nasihat yang tepat pun harus diperhatikan Rasulullah Saw sendiri melalui hadits diatas telah memberikan contoh. Susunan yang akurat dan ilmiah sangat membantu upaya meluruskan kesalahan.

Keenam, Rasulullah Saw menyatukan hati ghulam dengan penciptanya sehingga ia merasakan keagungan nikmat yang telah diberikan kepadanya.

Dalam nasihatnya, Rasulullah Saw menyatukan hati ghulam dengan Rabb-nya ketika memulai bersantap denga menyuruhnya membaca basmalah. Cara tersebut merupakan pengarahan yang fitrah bagi otak anak untuk mencintai Allah Swt sekaligus memberikan pengertian bahwa dialah yang memberikan rezeki makanan, tanpa dia pastilah kita akan mati kelaparan dan kehausan.

Dengan begitu, kecintaan mereka kepada Allah akan bertambah. Saat mereka memulai mencintai Rabb, saat itu pula tertancaplah dalam pikiran dan benak mereka kesiapan menerima segala apa yang diserukan Allah Swt. Dengan begitu, para pendidik telah berhasil menyambungkan tali penghubung antara anak dengan penciptanya.

Penulis : Anwar Ihsanuddin S.Pdi

Editor : Abu Mazaya

Sumber : Najib Kholid Al A’mar, Tarbiyah Rasulullah, Jakarta : Gema Insani, 1990.