Bengis, Santri Ditanam Hidup-Hidup Dengan Kaki Di Atas

santri kubur hidup
santri kubur hidup

An-Najah.net – PKI (Partai Komunis Indonesia) begitu dominan, arogan, sewenang-wenang, serta menghalalkan segala cara untuk tujuan politik mereka di tahun 1965.

Baca juga: Sejarah Munculnya Komunisme di Indonesia

Dikisahkan, pemuda bernama Imam Mursyid dari Kecamatan Ploso Klaten, Kediri. la adalah seorang santri asal Desa Jarak, Ploso Klaten, yang aktif sebagai Ketua Gerakan Pemuda Ansor di Ploso Klaten. Aku mendengar kisahnya Yang tragis dari beberapa saksi mata yang ada di sekitar kejadian berlangsung.

Kepulangan Yang Memilukan

Suatu hari di bulan Oktober 1965, ia (Imam) harus pulang dari pondok pesantren karena ada hajatan penting di keluarganya. Imam pulang dengan mengendarai dokar (delman), sembari membawa bahan-bahan makanan untuk acara hajatan Selamatan.

Dalam perjalanan, saat melewati Dusun Dermo, Desa Pranggang, Kecamatan Ploso, Kediri, Imam Mursyid tak menyangka bahwa bahaya besar sedang mengancam nyawanya. Di tengah jalan, ia dihadang rombongan orang yang mengaku sebagai anggota Partai Komunis Indonesia (PKI).

Tanpa sempat bertanya apa alasan pengadangan itu, Imam Mursyid Iangsung diringkus. Mulutnya dibekap. Ia disiksa tanpa belas kasih, sehingga badannya penuh dengan luka. Imam Mursyid tidak menyadari jika ia memang telah diincar cukup lama oleh para PKI yang menghadangnya.

Baca juga: Kebengisan PKI Saat Membumihanguskan Kampung Kauman, Magetan

Sungguh melewati batas norma apa pun di dunia ini, Imam Mursyid dikubur hidup-hidup di sebuah lubang, dengan posisi tubuh terbalik, kepala di bawah dan kaki di atas. Mirisnya, tubuh Imam tidak terbenam seluruhnya. Kedua kakinya masih menyembul di atas tanah. Seperti menanam pohon yang masih bibit.

Aku dan seluruh santri yang menjadi kawan atau sahabat Imam Mursyid naik pitam dengan perlakuan para PKI tersebut. Saat kami menemukan Imam Mursyid, kami semua sangat terpukul atas kejadian tersebut.

Entah apa maksud para kawanan PKI tersebut, sampai memperlakukannya sedemikian rupa. Mungkin memang disengaja. Agar tubuh Imam Mursyid yang dikubur hidup-hidup itu kelihatan kakinya oleh kami. Atau, agar tercipta kengerian dan ketakutan di dada kami. Atau, itu sebagai sebuah pesan ancaman kepada kami. Tidak, mereka para santri tidak takut dengan pesan sadis seperti ini.

Selamat jalan, sahabatku Imam Mursyid. Kamu akan tetap mewangi dalam lubuk dada kami dan anak cucu kami. Sejarah kelam yang menimpamu tidak akan kami lupakan. Wallahu Ta’ala ‘Alam

Sumber           : Buku, Ayat-Ayat Yang Disembelih, cet II, hal 186,187

Penulis             : Anab Afifi, Thowas Zuharon‎

Editor               : Ibnu Alatas‎