Bentengi Keluarga dan Masyarakat dari Virus LGBT

Tolak LGBT
Tolak LGBT
Tolak LGBT
Tolak LGBT

An-Najah.net – Beberapa bulan terakhir, neziten ramai membicarakan isu LGBT.

Terlebih lagi setelah ada artis tenar diamankan pihak keamanan lantaran tersandung kasus asusila yang menyangkut LGBT.

Kasus itu satu dari ribuan kasus lain yang tak terungkap. Ibarat gunung es, fenomena LGBT jauh lebih mengerikan dari yang diperkirakan.

LGBT adalah akronim dari lesbian, gay, biseksual, dan transgender. Istilah ini digunakan semenjak tahun 90-an, menggantikan frasa komunitas gay. Karena istilah ini lebih mewakili kelompok-kelompok yang telah disebutkan.

Dewasa ini, komunitas LGBT berjuang untuk mendapatkan kesetaraan di seluruh dunia, tidak luput pula di Indonesia. Mereka berjuang untuk mendapatkan hak-hak orientasi seksual supaya dilegalkan oleh hukum dan negara serta diterima masyarakat luas.

Hingga saat ini, perjuangan mereka telah membuahkan hasil nyata. Setidaknya ada 22 negara yang melegalkan LGBT dengan dalih HAM atau kemanusiaan.

Negara-negara yang melegalkan LGBT antara lain Argentina, Belanda, Inggris, Brasil, Finlandia dan Amerika. Bahkan pada April 2001, Belanda menjadi negeri pertama yang mengesahkan perkawinan sesama jenis (gay dan lesbian).

Syaratnya, salah seorang dari pasangan yang menikah harus warga atau penduduk tetap Belanda. Pada 29 Juni 2015, Mahkamah Agung Amerika Serikat melegalkan perkawinan sesama jenis di 50 negara bagian.

Kini Indonesia menjadi sasaran. Meski mayoritas warga negeri ini muslim, tapi pemerintah tidak memberikan keputusan tegas tentang pelarangan LGBT. Bahkan beberapa elemen masyarakat tidak begitu peduli terhadap isu ini atau menganggapnya hal yang lumrah.

Ditambah adanya kelompok yang mengaku Islam tapi ikut mensahkan LGBT lewat syubhat-syubhat yang dicomotnya dari Al-Qur’an, Al-Hadits serta sejarah Islam.

Berdasarkan nash-nash yang qath’i, ijma’ dan fitrah naluri manusia; baik lesbian, gay, biseksual dan transgender, keempat-empatnya adalah perilaku tidak normal dan menyimpang. Bahkan ancaman, siksaan dan hukuman yang Allah timpakan untuk penyimpangan ini yang lebih dahsyat dari dosa yang lain.

Lalu akankah kita berdiam diri tanpa andil terhadap kemungkaran yang satu ini. Atau membiarkannya sampai akhirnya Allah menurunkan hukuman atas negara ini? Na’udzu bilaahi min dzâlik.

Benteng Pertama Bernama Keluarga

Dalam Tafsir al-Baghawi (6/270) disebutkan, “Anak yang baru lahir bawaannya di atas fitrah, atau di atas tabiat yang lurus siap menerima Islam. Seandainya anak ini dibiarkan di atas fitrah, tentulah kebenaran selalu bersamanya.

Adapun penyimpangan yang terjadi pada dirinya, itu adalah karena salah asuhan dan kecondongan kepada yang lainnya. Andai saja dia selamat dari berbagai kecondongan, dia tidak akan meyakini yang lain-lainnya.”

Inilah seperti yang disabdakan Rasulullah SAW yang artinya, “Tidaklah ada anak yang lahir kecuali di atas fitrah. Ayah ibunya yang menjadikannya Yahudi, Nashrani atau Majusi. Persis seperti kamu memiliki hewan ternak dan melahirkan anak yang sempurna. Apakah kamu mendapatinya ketika lahir jelek (terpotong hidungnya), kamu sendirilah yang menjadikannya jelek.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dan sebagaimana firman Allah dalam hadits qudsi yang artinya, “Sesungguhnya Aku telah menciptakan hamba-hamba-Ku itu hanif (lurus). Maka syetanlah yang memalingkan mereka dari Dien mereka.” (HR. Muslim)

Fitrah manusia adalah Islam, sesuai tafsiran ulama’ dari dulu hingga sekarang. Jika anak diajari edukasi Islam, penyimpangan dalam rumah tangga tidak terjadi. Keluarga adalah benteng pertama untuk menyelamatkan generasi muda dari perilaku seks menyimpang yang digembar-gemborkan kaum LGBT.

Orang tua bertanggung jawab menjaga dan mengarahkan akhlak putra-putrinya. Bukan mustahil, maraknya LGBT disebabkan kesalahan atau ketidaktahuan orang tua dalam mengarahkan orientasi seksual anak. Sehingga membuat anak mengalami penyimpangan seksual saat beranjak dewasa.

Itulah mengapa edukasi Islam sangat penting diajarkan semenjak usia kanak-kanak. Materi penting yang perlu ditanamkan antara lain tauhid, rasa takut kepada Allah, siksa dan azab-Nya dan konsep muraqabah.

Tegaskan kepada anak bahwa LGBT adalah perilaku tidak normal. Selain itu mengajarkan adab, etika dan kesopanan, dan pemahaman yang benar tentang aurat. Seorang ayah menanamkan jiwa maskulin bagi anak laki-laki. Sedangkan seorang ibu menanamkan jiwa feminim bagi anak perempuan.

Anak laki-laki dijaga agar tidak meniru suara, gaya berjalan, permainan dan lenggak-lenggok anak perempuan. Demikian juga sebaliknya untuk anak perempuan. Ketika mencapai umur 10 tahun, tempat tidur anak laki-laki dan perempuan sudah dipisahkan.

Serta diajari bagaimana menjaga pandangan mata dan tidak ikhtilath (berbaur) dengan lawan jenisnya. Semua materi itu disampaikan dengan komunikasi yang baik agar anak tidak salah paham.

Bagi orang tua, ada satu peringatan dari Rasulullah SAW agar selalu sensitif dan tidak membiarkan perbuatan keji terjadi di keluarganya. Jika tidak demikian, kelak tidak akan mendapatkan jaminan masuk surga dan tidak dilihat oleh Allah pada hari kiamat.

“Tiga orang yang Allah mengharamkan surga baginya; peminum khamer, anak yang durka, dan dayyuts. Yaitu orang yang mendiamkan perbuatan keji/dosa di tengah-tengah keluarganya.” (Shahih al-Jami’ ash-Shaghir, 3052).

Perbuatan keji yang dimaksud antara lain zina, liwath dan lesbi. Karena itu, baik LGBT atau orang tua yang mengacuhkan anaknya hingga terjerumus LGBT, termasuk golongan yang tidak dilihat oleh Allah pada hari kiamat, dan ancaman seterusnya.

Pintu Taubat Masih Terbuka

Tidak ada solusi tepat bagi komunitas LGBT kecuali hanya taubat. Diawali dengan kesadaran bahwa perilaku dan dorongan LGBT adalah abnormal dan bukan bawaan lahir.

Melainkan karena pengaruh dari luar. Kondisi psikis pelaku LGBT bermula bisikan syetan yang menyuruh manusia kepada hal yang menyimpang, dan bukan suara hati.

Setelah kesadaran itu muncul, mereka membutuhkan dorongan untuk kembali ke kondisi fitrah semula. Dukungan ini akan menjadi spirit yang sangat berarti dalam menjalani upaya untuk sembuh. Karena LGBT adalah penyakit, sudah tentu ada obatnya.

Maka sebaiknya penderita LGBT mencari obat agar penyakitnya dapat terobati. Bila menghadapi kesulitan, hendaknya terus berusaha berobat, tetap sabar dan tetap punya harapan tinggi terhadap kesembuhannya.

Dengan selalu berdoa dan optimis meminta kepada Allah agar dikembalikan kepada jalan yang lurus dan fitrah. Selalu meminta, “Ihdinas shirothal mustaqim”. “Tunjukilah kami kepada jalan yang lurus”. Dan punya azam (kemauan kuat) untuk menghadiri majelis-majelis ilmu.

Berhijrah kepada komunitas masyarakat yang baik, berbaur dan bergaul dengan orang-orang yang shalih. Dan mencegah diri dari faktor-faktor yang mengajaknya kepada perasaan LGBT. Semoga pada akhirnya kembali menjadi laki-laki atau perempuan yang seutuhnya dan diakui sebagai bagian masyarakat yang baik.

Suara Bulat Menolak LGBT

Ketidaktegasan pemerintah terhadap LGBT membuat kelompok ini leluasa mencari celah untuk unjuk mensosialisasikan orientasinya dengan mengatasnamakan HAM. Terbukti dari belum adanya UU yang menjerat pelaku LGBT serta dibiarkannya organisasi LGBT seperti LGBTIQ Indonesia dan GWLINA yang telah mendapat backup dari organisasi internasional.

Bahkan gerakan LGBT hampir dilegalkan saat Komnas HAM menggelar rapat paripurna pada Juli 2013 untuk membahas pengakuan tentang LGBT. Namun rapat tersebut tidak mensahkan.

Melihat fenomena tersebut, masyarakat perlu satu suara bulat melawan LGBT. Diawali dengan mengeluarkan statemen tegas menolak LGBT. Kemudian mengambil peran dalam program-progam edukasi kepada umat seperti penyuluhan atau ceramah tentang LGBT.

Pihak sekolah atau kampus bisa memberikan konseling terhadap pelajar atau siswa yang terinfeksi dan mendukung LGBT. Pada tahap tertentu, mengeluarkan dari lembaga pendidikan dengan pertimbangan matang.

Ini dilakukan agar kaum LGBT tidak mendapat tempat di masyarakat, lingkungan sekolah dan kampus. Ada contoh menarik ketika umat Islam berupaya menolak syiah dengan membentuk gerakan aliansi nasional anti syiah.

Langkah serupa bisa ditiru dengan membentuk aliansi anti LGBT disetiap daerah. Tujuan utamanya tentu untuk menangani dan menyadarkan anak-anak muda tentang bahaya LGBT. Serta mengobati mereka yang terlanjur terjerembab dalam LGBT atau ketika menemukan dorongan psikis yang menyalahi fitrah.

Para da’i dan muballigh yang suaranya didengar umat juga bisa mengambil peran. Hendaknya mengingatkan umat selalu bencana besar jika LGBT dilegalkan. Minimal seminggu sekali di atas mimbar khutbah.

Sangat aneh jika isu terorisme dipandang sebagai ancaman serius, sedangkan LGBT yang lebih jelas dampak dan efek buruknya tidak dipandang sebagai ancaman berbahaya.

Upaya terakhir ialah amar ma’ruf nahi munkar. Di saat pemerintah kurang tegas, masyarakatlah yang akan bergerak dan membatasi aktivitas LGBT lewat amar ma’ruf nahi munkar.

Umat akan menjadi baik jika tidak membiarkan sikap individualis dan selalu menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar. Semoga dengan amar ma’ruf nahi munkar, Allah tetap menjaga negeri ini dari kehancuran akibat ulah orang-orang yang durhaka.

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 125 Rubrik Opini

Penulis : Abu Asiyah Zarkasyi

Editor : Helmi Alfian