Beramal Mengikuti Sunnah

Segala puji hanyalah milik Allah subhanahu wata’ala, Rabb semesta alam. Yang mengutus sebaik-baik makhluq-Nya yaitu nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam untuk dijadikan suri tauladan bagi ummat-Nya.

Shalawat dan salam senantiasa kita curahkan kepada junjungan kita, Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wasallam , beserta keluarga, sahabat-sahabatnya, tabi’in, tabi’ut tabi’in dan orang-orang yang berjalan di atas tuntunannya.

Kemudian tidak lupa kami wasiatkan kepada diri kami pribadi dan kepada jama’ah sekalian, marilah kita senantiasa meningkatkan iman dan taqwa kita, karena keimanan dan ketaqwaan merupakan sebaik-baik bekal menuju akhirat nanti.

Jama’ah sholat jum’ah yang dimulyakan Allah Ta’ala

Allah Ta’ala berfirmand alam al qur’an :

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. [ QS. Al Ahzab : 21 ]

Pada ayat ini Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk mengikuti junjungan kita yaitu nabi agung Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Ialah sebaik-baik manusia yang Allah turunkan ke bumi. Dan lewat beliaulah syari’at islam ini diturunkan hingga sampai pada kita. Dan kita sebagi seorang mukmin juga dilarang untuk mengikuti contoh-contoh tidak baik yang menyelisihi teladan kita yaitu nabi Muhammad sallalhu alaihi wasallam.

Imam As Sa’di dalam tafsirnya mengatakan bahwa contoh itu ada dua. Contoh yang baik dan contoh yang buruk.

Contoh yang baik hanya ada pada Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Dengan mengikutinya seseorang akan dituntun pada jalan yang mulia, yaitu jalan yang lurus menuju jannah-Nya. Dan ingatlah bahwa mencontoh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam ini tidak akan dilakukan seseorang kecuali orang yang mengharap rahmat Allah dan hari kiamat. Iman inilah yang menjadikannya takut akan siksa-Nya, mengharap pahala-Nya sehingga ada keinginan mengikuti nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam.

Sedangkan contoh yang jelek adalah contoh yang menyelisihinya. Hal ini persis ketika orang-orang kafir diajak untuk kembali kepada apa yang diturunkan Allah Ta’ala, mereka menjawab ;

إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آثَارِهِم مُّهْتَدُونَ

Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka. [ QS. Az Zuhruf : 22 ].

Allah Ta’ala menyebutkan pada ayat ini sifat dan karakter orang-orang kafir yaitu mengikuti tradisi nenek moyang mereka. Maka siapa saja yang berpaling dari sunnah, pasti ia akan mengikuti jalan selainnya dan akan tersesat sebagaimana orang kafir.

Jama’ah sholat jum’ah yang dimulyakan Allah Ta’ala

Dengan mengikuti sunnah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam seseorang akan mendapatkan berbagai kebaikan. Diantaranya adalah ;

  1. mendapatkan salah satu sebab diterimanya amalan.

Telah kita ketahui bersama bahwa dua prinsip dasar yang harus selalu beriringan dalam melandasi suatu amal agar diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala adalah keikhlasan dan mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebaliknya, apabila hilang salah satu dari keduanya, maka amalan itu tidak akan diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Dan hendaknya kita khawatir jika amal kita ditolak oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang tidak pernah kami tuntunkan, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim)

Al Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata: “Dalam mengikuti Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terdapat keberkahan dalam mengikuti syari’at, meraih keridhoan Allah subhanahu wa ta’ala, meninggikan derajat, menentramkan hati, menenangkan badan, membuat marah syaithan, dan berjalan di atas jalan yang lurus.” (Dharuratul Ihtimam, hal. 43)

  1. Membuahkan kesatuan ummat islam

Setiap muslim tentu sangat merindukan terwujudnya persatuan kaum muslimin. Kita tahu bahwa persatuan merupakan perkara yang diridhoi Allah subhanahu wa ta’ala, sedangkan perpecahan merupakan perkara yang dibenci-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (artinya):

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

“Dan berpegang-teguhlah kalian semua dengan tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai-berai.” (Ali Imran: 103)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Allah telah memerintahkan kepada mereka (umat Islam, red) untuk bersatu dan melarang mereka dari perpecahan. Di dalam banyak hadits juga terdapat larangan dari perpecahan dan perintah untuk bersatu dan berkumpul.” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/367)

Adapun asas bagi persatuan yang diridhoi dan diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala bukan berasaskan kesukuan, organisasi, kelompok, daerah, partai, dan sebagainya. Akan tetapi asasnya adalah: Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan pemahaman As-Salafush Shalih (para shahabat Rasulullah, para tabi’in, dan tabi’ut tabi’in).

  1. Pahala Besar Bagi Orang Yang Berpegang Teguh Dengan Sunnah

Dari shahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

فَإِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامَ الصَّبْرِ الصَّبْرُ فِيهِ مِثْلُ قَبْضٍ عَلَى الْجَمْرِ لِلْعَامِلِ فِيهِمْ مِثْلُ أَجْرِ خَمْسِينَ رَجُلاً يَعْمَلُونَ مِثْلَ عَمَلِهِ ».وَزَادَنِى غَيْرُهُ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَجْرُ خَمْسِينَ مِنْهُمْ قَالَ « أَجْرُ خَمْسِينَ مِنْكُمْ ».

“Sesungguhnya di belakang kalian ada hari-hari kesabaran, kesabaran di hari itu seperti menggenggam bara api, bagi yang beramal (dengan Sunnah Nabi) pada saat itu akan mendapatkan pahala lima puluh.” Ada seseorang yang bertanya: “Lima puluh dari mereka, wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Pahala lima puluh dari kalian.” (Shahih, HR. Abu Dawud dan At Tirmidzi, lihat Silsilah Ash Shahihah, no. 494)

  1. Jaminan Istiqomah dan Hidayah

Selama seseorang berada di atas Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ia akan tetap berada di atas jalan istiqomah. Sebaliknya, jika menyelisihi, berarti ia telah menyimpang dari jalan yang lurus. Sebagaimana firman Allah Ta’ala ;

وَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ

Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. dan tidak lain kewajiban Rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang”. [ QS. An Nuur : 54 ]

Abdurrahman As Sa’di rahimahullah berkata: “Jika kalian menaati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam niscaya kalian akan mendapatkan petunjuk ke jalan
yang lurus, baik ucapan maupun perbuatan. Dan tidak ada jalan untuk mendapatkan hidayah melainkan dengan menaatinya, dan tanpa (menaatinya) tidak mungkin (akan mendapatkan hidayah) bahkan mustahil.” (Tafsir As Sa’di, hal. 521)

  1. Mendapatkan Cinta dari Allah Ta’ala dan akan masuk Al Jannah

Bukankah kita semua ingin mendapatkan cinta dari Allah? Ketahuilah, Bahwa cinta dari Allah subhanahu wa ta’ala hanya akan diperoleh dengan mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala :

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah (wahai Muhammad!): “Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku! Niscaya Allah pasti akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.” (Ali Imran: 31)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:

كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى قَالَ مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى

“Setiap umatku akan masuk Al Jannah (surga) kecuali orang yang enggan.” Para shahabat bertanya: “Siapakah orang yang enggan itu wahai Rasulullah ?” Beliau menjawab: “Barangsiapa yang menaatiku, ia akan masuk Al Jannah dan barangsiapa yang bermaksiat kepadaku, maka sungguh ia telah enggan.” (HR. Al Bukhari).

Jama’ah jum’ah yang rahmati Allah Ta’ala

Sebagai penutup kami sampaikan perkataan Syaikh shalih fauzan : Dan setiap orang yang meninggalkan kebenaran pasti akan ditimpakan kebatilan. Dan barang siapa meninggalkan madzhab Ahlussunnah wal jama’ah, maka ia akan masuk pada madzhab kelompok-kelompok yang sesat. Dan barang siapa berkumpul dengan kelompok-kelompok yang sesat tersebut, maka ia akan masuk pada kelompok sesat tersebut. Ini adalah sunnatullah Ta’ala. Inilah yang harus diperhatikan oleh seorang muslim untuk tidak meninggalkan kebenaran. Karena jika ia meninggalkan yang haq pasti dia kan masuk pada kebatilan. Dan jika ia meninggalkan para pengikut kebenaran, pasti ia akan menjadi pengikut kesesatan. Dan ini pasti terjadi selama-lamanya. [ syarkh masail jahiliyah : 127 ].

Semoga Allah Ta’ala senantiasa menuntun kita diajalan yang diridhai-Nya. Dan mengumpulkan kita bersama orang-orang yang dicintai-Nya. Amiiin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ.

[ Amru ]