Bercermin Dari Runtuhnya Daulah Islamiyah Al Mahdi

muhammad ahmad al mahdi

“Kalau Mesir ingin aman, gerakkan Al Mahdi mesti dihancurkan. Jika anda ingin menghancurkan pergerakkan Al Mahdi, kirimkan 100 ribu Pound dan 200 orang tentara British India ke Wadi Haifa. Kirimkan juga seorang pegawai ke Dongola di bawah agenda memeriksa basis pasukan di sana. Saat itulah kita dapat menghancurkan Al Mahdi dengan suka-cita.” (Surat jendral Inggris, Gardon kepada atasanya, Lord Cromer).

Imperium Inggris berkali-kali meminta Jenderal Gardon menarik diri sebelum terlambat namun ia enggan dan keras kepala. Ia pun mengirimkan telegram kepada lord Cromer:

“Saya bersumpah, saya tidak akan meninggalkan Sudan sebelum Imperium Inggris dapat ditegakkan di sini. Sampai hal itu tercapai, saya tidak akan berhenti dari tugas.”

Ucapan inilah yang mengorbitkan Jendral Gardon sebagai pahlawan di Inggris dalam sekejap.
.
Melihat gelagat Inggris yang hendak campur tangan di Sudan, Al Mahdi menganggap bahwa penting bagi mereka untuk menyerang Khartum, ibu kota Sudan. pada malam Jumat 5 Januari 1885, Al Mahdi menyeberangi Sungai Nil dan memberi arahan kepada panglimanya Najmi untuk menyerang.

Serangan dilancarkan sejam sebelum masuk waktu Subuh. Dalam beberapa saat saja, Inggris berhasil dikalahkan. Bahkan di dalam peperangan tersebut, Jendral Gardon terbunuh dengan satu tikaman lembing di atas tangga kediamannya. Empat hari kemudian Al Mahdi memasuki kota pelabuhan tersebut, dan menjadi imam shalat Jumat.

Berita jatuhnya Khartum sampai ke telinga Ratu Inggris, Ratu Victoria hingga membuatnya sedih. Sekretaris pribadinya menyatakan, “Ratu berada dalam keadaan yang sesak setelah mendengar kejatuhan Khartum. Dan inilah yang menyebabkan beliau jatuh kurus.

Selanjutnya Ratu Victoria mengirim sepucuk surat kepada adik Jendral Gardon yang berada di Southampton, “Saya tidak tahu bagaimana memberitahu anda mengenai apa yang saya rasakan sekarang. Dunia merasa malu karena tidak menyelamatkan kakak anda yang berani, mulia, dan terhormat. Yang telah berbakti kepada negara dan Ratunya dengan jujur, berani, dan semangat berkorban. Inilah yang menyedihkan saya dan menyebabkan saya menjadi kurus.”

Lima bulan selepas Khortum dibebaskan, Al Mahdi mengalami demam Typhoid (tifus) di Omdurman, ibukota negaranya. Beliau meninggal dunia Beberapa hari kemudian. Al Mahdi meninggal di puncak kejayaannya. Abdullah bin Muhammad, muridnya yang setia meneruskan tampuk kepemimpinannya.

Abdullah bin Muhammad penerus Muhammad bin Ahmad Al Mahdi

Inggris merasa khawatir akan kekuatan Negara Islam di Sudan dan tidak berani melancarkan serangan. kekhalifahan Islam tersebut menguasai sebuah negara yang luasnya setengah Eropa khalifah. Abdullah bin Muhammad telah mengirimkan Sepucuk Surat kepada Ratu Victoria dan mengundangnya ke Omdurman Iya mengajaknya tunduk kepada pemerintahan Islam serta memeluk agamanya.

Khalifah Al Mahdi memimpin negaranya dengan tulus dan ikhlas. ketulusannya terpantul dalam amal dan aktivitas di sepanjang hayatnya. Perasaan tanggung jawab sebagai pemimpin amat besar, sehingga ia tidak rela meninggalkan Omdurman untuk mewakilinya ia mengarahkan pegawai-pegawainya untuk melihat keadaan masyarakat di sekitar kota tersebut.

Abdullah bangun dari tidur subuh pagi dan berjalan kaki ke masjid untuk menunaikan sholat fardhu sesudah itu ia akan tidur selama 2 jam selepas bermusyawarah dengan para amirnya ia akan mengendarai kuda untuk menginspeksi pasukan yang bertugas di tepi pelabuhan.

Hari Jumat dianggap sebagai Hari Istimewa. Sekitar 50.000 penunggang kuda akan memacu kudanya membawa Bendera Hitam Al Mahdi yang bertulis dengan ayat Al-Quran. Mereka mengangkat pedang, lembing terhunus, dan melepaskan tembakan ke udara. Selepas itu, beliau sarapan dan menjadi imam shalat jumat yang di ikuti berbagai kabilah. Pengarahan akan disampaikan sehabis sholat.

Siang hari, Ia berada di rumahnya atau bekerja di Baitul Mal. Adapun ketika sore hari, beliau melaksanakan shalat Ashar, ceramah, serta pengumuman berita-berita penting dimesjid, kemudian makan malam, sholat Maghrib dan Isya dan selanjutnya beristirahat dalam biliknya hingga paginya.

Khalifah yang selain Al Quran dan As Sunnah syariat Islam dijadikan undang-undang tertinggi negara shalat zakat puasa ramadhan pengharaman khamr rokok lagu dan tarian dipertegas pergaulan laki-laki dan perempuan dan hijab diatur dengan ketat.

Strategi Inggris Melumpuhkan Gerakan Al Mahdi

Pada tahun 1896 Inggris memutuskan untuk menaklukkan Negara Islam Sudan. Jendral Kitchener telah diangkat sebagai pemimpin intelijen. Bersamanya terdapat seorang tentara yang nantinya akan menjadi perdana menteri Inggris di masa mendatang yaitu Winston Churchill. Kali ini Inggris berhati-hati agar tidak melakukan kesalahan dan terburu-buru.
Pada musim panas 1898 Kitchener dengan segala kelengkapan perang modern menyerang Omdurman. Ketika menyerang, mereka tidak memberikan peluang dan membantai bertu beribu-ribu kaum muslimin.

Para pengamat di luar Sudan sebagian besar menilai bahwa gerakan Al Mahdi tidak memiliki peluang untuk menang. Pasukannya yang berjumlah 50.000 orang sebagian besar hanya bersenjatakan lembing, kayu, dan senapan yang sudah ketinggalan zaman.

Pasukan Al Mahdi dengan gagah berani menyongsong Serdadu Inggris tanpa menghiraukan tambahkan dalam menyongsong kesyahidan. Churchill pernah berkomentar dalam catatannya, “Itu bukanlah peperangan, tapi pembunuhan massal. manakala Sir H. Kitchener menutup teleponnya dia berkata, “Mereka sudah dibersihkan dengan sebersih-bersihnya.”

Ketika memasuki Omdurman, Kitchener memerintahkan agar makam Al Mahdi dihancurkan, dan jenazahnya dilemparkan ke dalam Sungai Nil. Sementara bagian kepalanya dipotong dan tengkoraknya disimpan oleh Kitchener sebagai piala perang. Kemudian dikirimk ke Kairo, selanjutnya ke London untuk diteliti. Namun Lord Cromer diam-diam mengambil tengkorak itu dan menguburkannya di Wadi Haifa pada malam hari.

Bagaimana dengan Abdullah bin Muhammad? Rupanya ia dapat meloloskan diri dari Omdurman bersama dengan 700 Mujahidin ke Jabal Gedir di selatan Khortum. Tempat ia dilahirkan dan dibesarkan. Kitchener pun mengirimkan 8000 tentaranya untuk melakukan pengejaran. Senapan mesin memuntahkan peluh dan darah Mujahidin bertetesan membasahi bumi.

Evaluasi Untuk Gerakan Al Mahdi

Jika dievaluasi, kekalahan gerakan Al Mahdi sedikit banyak adalah karena kelemahan dalam pergerakan. Walaupun pengakuannya sebagai Imam Mahdi dapat diterima tanpa soal oleh para pengikutnya. Dakwahan ini sulit diterima oleh kaum muslimin di luar Sudan. Sehingga dukungan eksternal pun kurang.

Tidak dinafikan bahwa Pengakuan itu bisa jadi berangkat dari keikhlasan. Namun barangkali pengaruh yang lebih besar dapat dicapai jika dirinya hanya mendudukkan diri sebagai seorang Mujahid Pelopor sebagaimana sifatnya yang sesungguhnya.

Di dalam surat terakhir Jenderal Najmi kepada khalifah sebelum ia meninggal dunia. Najmi mengakui bahwa orang Islam di luar Sudan kurang peduli dengan perjuangan Al Mahdi. Sebaliknya, sebagai mereka bekerja sama dengan Inggris dalam memboikot bantuan makanan kepada kaum muslimin, dam justru menyuplai senjata untuk Inggris serta turut memerangi orang-orang Sudan.

Kelemahan lainnya adalah karena Negara Islam yang dibangun oleh Al Mahdi kurang memperhatikan aspek Tarbiyah (pendidikan). Tidak satu pun buku sejarah yang memuat keterangan adanya pendirian madrasah atau institusi pengajaran Islam yang berperan dalam menanamkan semangat perjuangan. Indikasi lain terlihat pada banyaknya tentara Al Mahdi yang kurang mengetahui aturan sipil di dalam jihad.

Adapun faktor terbesar lainya adalah kebijakan untuk mengucilkan diri dari dunia luar. Yang berujung pada kekalahan Al Mahdi dan khilifahnya. Ia tidak mengikuti perkembangan luar negeri. Perkembangan dunia luar sudah tentu perlu dipahami untuk memprediksi dengan realistis kekuatan musuh dan menyiapkan pertahanan yang standar dan kuat. (Ferry).

Diambil dari majalah an-najah edisi 55. Rubrik Harokah. Hal. 33-35.
Editor: Sahlah Ahmad.