Bersatu di Atas Kebenaran

Bersatu di Atas Kebenaran
Bersatu di Atas Kebenaran
Bersatu di Atas Kebenaran
Bersatu di Atas Kebenaran

An-Najah.net –

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa jahiliyyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadi lah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara.” ( QS. Ali Imran: 103)

Persatuan kaum muslimin di atas Al Haq dan larangan berpecah belah, merupakan prinsip yang agung dalam agama Islam. Sejarah telah memberi kita pelajaran berharga.

Ketika umat Islam bersatu, umat ini menjadi kuat dan disegani. Namun, ketika bibit-bibit perpecahan mulai merajalela, umat menjadi lemah dan dipandang rendah musuh-musuhnya.

Allah berfirman:

أَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ ۖ وَاصْبِرُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Dan taatlah kepada Allah dan rasulnya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan Bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. Al-Anfal: 46)

Namun layak disesalkan, kenyataan yang terjadi di kalangan kaum muslimin berbeda dengan ajaran agama yang suci ini. Masing-masing golongan membanggakan golongannya. Menjadikan kebenaran bersumber dari kelompoknya, dan kesesatan bersumber dari selain kelompoknya.

Tak jarang, vonis kafir, sesat menyesatkan, menyelisihi ahlussunah dan tuduhan semisal dialamatkan pada kelompok lain. Padahal tuduhan yang tidak berlandaskan bukti dan sikap berpecah-belah dalam agama dilarang dalam Islam. Allah Ta’ala telah menjelaskan dalam Al-Qur’an:

“Dengan kembali bertaubat kepada-nya dan bertakwalah kepadanya serta Dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka. (QS. Ar-Ruum: 31-32)

Tafsir

Ibnu Jarir Ath-Thabari menjelaskan ayat ini, bahwa Allah Ta’ala menghendaki dengan ayat ini untuk berpeganglah kamu semuanya kepada agama Allah yang telah Dia perintahkan,

dan (berpeganglah kamu semuanya) kepada janji-Nya yang Dia (Allah) telah mengadakan perjanjian atas kamu didalam kitab-Nya, yang berupa persatuan dan kesepakatan di atas kalimat yang Haq dan berserah diri terhadap perintah Allah. (Jami’ul Bayan 4/30)

Ibnu Katsir menulis dalam tafsirnya. Ketika kaum muslimin bersatu, mereka dijamin terjaga dari kesalahan. Hal ini telah ditegaskan dalam banyak Hadits. Namun dikhawatirkan terjadi perpecahan dan perselisihan di tubuh umat Islam. Kekhawatiran itu terbukti dengan perpecahan umat menjadi 73 firqah.

Dari puluhan kelompok tersebut, hanya satu saja yang selamat menuju Jannah dan terhindar dari azab neraka. Kelompok tersebut yaitu orang-orang yang meniti jalan Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya. (Tafsir Qur’anil ‘Azhim, Surah Ali Imran: 103)

Al-Qurthubi berkata tentang tafsir ayat ini,
“Sesungguhnya Allah Ta’ala memerintahkan persatuan dan melarang perpecahan. Karena sesungguhnya perpecahan merupakan kebinasaan dan al-jama’ah (persatuan) merupakan keselamatan.” (Al-Jami’ Li Ahkamil Qur’an 4/159)

Al-Qurthubi juga mengatakan, “maka Allah ta’ala mewajibkan kita berpegang kepada kitab-Nya dan Sunnah nabi-Nya, serta (ketika berselisih) kembali kepada keduanya. Dan memerintahkan kita bersatu di atas landasan Alkitab dan as-sunnah, baik dalam keyakinan dan perbuatan.

Hal ini merupakan sebab persatuan kalimat dan tersusunnya perpecahan (menjadi persatuan), yang dengannya maslahat-maslahat dunia dan agama menjadi sempurna, dan selamat dari perselisihan. Dan Allah memerintahkan persatuan dan melarang dari perpecahan yang telah terjadi pada kedua ahli kitab.” (Al-Jami’ Li Ahkamil Qur’an 4/164)

Beliau juga mengatakan, “boleh juga maknanya, janganlah kamu berpecah-belah karena mengikuti hawa nafsu dan tujuan-tujuan yang bermacam-macam. Jadilah kamu saudara-saudara di dalam agama Allah, sehingga hal itu menghalangi dari (Sikap) saling memutuskan dan membelakangi. (Al-Jami’Li Ahkamil Qur’an 4/159)

Asy-Syaukani berkata tentang tafsir ayat ini, “Allah memerintahkan mereka bersatu di atas landasan agama Islam, atau kepada Al-Qur’an. Dan melarang mereka dari perpecahan yang muncul akibat perselisihan di dalam agama. (Fahul Qodir 1/367)

Asas dalam Persatuan

Dari pemaparan para ulama di atas dapat disimpulkan bahwa persatuan adalah wajib. Sedangkan landasan persatuan tersebut adalah berdasarkan pada kalimat yang al-haq yang bersumber dari Alquran serta assunnah Dengan pemahaman para Salaf. Dengan ini semua, umat harus bersatu untuk mengembalikan dan menyongsong kejayaan Islam yang hilang.

Berbagai usaha iqomatuddin di berbagai tempat mengajari kita bahwa Islam tidak bisa tegak hanya lewat parlemen saja, atau lewat dakwah saja, atau lewat salah satu organisasi saja.

Tetapi menyatukan potensi umat dalam dakwah di bawah naungan Al-Qur’an dan As-Sunnah Dengan pemahaman Salaf serta saling menasehati sesama organisasi menjadi tugas besar kita.

Kebanggaan yang berlebihan terhadap partai, jamaah, organisasi yang menjadikan munculnya ta’ashub harus dibuang. Akankah umat ini terus berseteru di saat orang-orang kafir telah bersatu menyerang Islam?

Dimanakah ukhuwah islamiyah yang selalu didengung-dengungkan? Akankah itu hanya sebuah pepesan kosong dan syiar yang tidak ada kenyataannya?

 

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 118 Rubrik Tafsir

Penulis : Amru

Editor : Helmi Alfian