Bersetubuh Di Siang Ramadhan Karena Jahil

bersetubuh 2

An-Najah.net – Suami mensetubuhi istrinya di siang Ramadhan karena kejahilannya. Tak terasa ‎kita telah berada dipertengahan bulan Ramadhan tahun 1439 H. Bulan yang penuh berkah, ‎rahmat, dan ampunan dari Allah Ta’ala terbuka lebar di dalamnya. ‎

Namun jangan kita nodai ibadah tersebut dengan amalan-amalan yang bisa mengurangi ‎pahalanya, bahkan bisa membatalkan ibadah puasa itu sendiri. Di antaranya adalah suami istri yang ‎bersetubuh di siang Ramadhan karena kebodohannya. Lantas bagaimana hokum seputara ‎permasalahan tersebut?‎

Dalam permasalahan ini ulama membagi menjadi dua ketegori:‎

Pertama, jahil (bodoh atau lupa) dalam urusan waktu. Apabila ada suami istri yang bersetubuh di ‎siang Ramadhan di karenakan lupa atau tidak tahu waktu. Maka keduanya di jatuhi qodho’ dan ‎kafarat. Seperti bersetubuh di awal Ramadhan, namun anggapan mereka (suami istri) masih di ‎bulan Sya’ban. Atau bersetubuh setelah terbit fajar, yang anggapan mereka (suami istri) belum ‎terbit fajar. Ini pendapatnya Muhammad at-Tamimi al-Hambali (At-Tamimi Al-Hambali, Majmu’ ‎Ar-Rosail Wal Masail Wal Fatawa, cet. I, jilid: 1, hal. 74)‎

Namun ada sebagian ulama yang berpendapat mereka hanya meng-qodho’ tanpa kafarat, dan ini ‎pendapat yang dibenarkan kebanyakan ulama. (Muhammad bin ‘Abdul Lathif, Fatawa Wa ‎Rasailu Samahah, cet I, jilid: 4, hal. 195)‎

Kedua, jahil (bodoh) dalam masalah hukum. Apabila ada suami istri yang bersetubuh di siang ‎Ramadhan karena kebodohannya terhadap hukum itu sendiri. Maka, mereka harus bertaubat, ‎meng-qodho’-nya serta kafarat bagi mereka. Yaitu memerdekakan budak, jika tidak mendapatkan ‎budak, puasa dua bulan berturut-turut, dan bila tidak mampu memberi makan enam puluh orang ‎miskin. (Fatwa Lajnah Daimah, Majmu’ ats-Tsaniah, jilid: 9, hal. 220)‎

Namun, Muhammad bin Shalih Utsaimin menjelaskan dalam buku fatwanya. Mereka (suami istri) ‎tidak meng-qodho’ puasanya serta tidak ada kafarat bagi mereka. Dengan alasan setiap ibadah ‎yang dikarenakan lupa atau bodoh maka dia tidak terbebani. Sebagaimana firman-Nya, surah al-‎Baqoroh: 286. Yang artinya, “Ya, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami ‎tersalah….” (Q.S Al-Baqoroh: 286). ‎(Muhammad bin Shalih Utsaimin, Majmu’ Fatawa Wa Rosailu, jilid 19, hal. 3‎‏40‏‎) Wallahu ‘alam.‎ Wallahu ‘alam.‎

Penulis: Ibnu Jihad
Editor: Abu Mazaya