Bertawakkal Seperti Tawakal (Pasrahnya) Burung

Ilustrasi, Tawakal burung
Ilustrasi, Tawakal burung

AN-NAJAH.NET-, Tawakal adalah kesungguhan hati untuk bersandar kepada Allah SWT dalam mendapatkan kemashlatan dan mencegah kemudharatan. Baik dalam urusan akherat, maupun urusan dunia.

Allah menjamin siapa saja yang bertawakal kepada-Nya dalam segala urusannya, maka Allah akan mencukupinya. Dalam ayat, Allah berpesan:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (Qs. Ath-Thalaq: 2-3)

Barangsiapa yang mewujudkan takwa dan tawakal akan dapat menggapai seluruh kebaikan dín dan dunianya.

Sahabat Umar bin Khattab a meriwayatkan dari Rasulullah `, bahwa beliau ` bersabda,

لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا تُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

“Seandainya kalian benar-benar bertawakkal pada Allah, tentu kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki. Ia pergi di pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali di sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi no. 2344. Abu ‘Isa Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih).

Hadits ini sekaligus menunjukkan bahwa yang disebut tawakkal berarti melakukan usaha, bukan hanya sekedar menyandarkan hati pada Allah. Karena burung saja pergi di pagi hari untuk mengais rezeki. Maka tentu manusia yang berakal tentu melakukan usaha, bukan hanya bertopang dagu menunggu rezeki turun dari langit.

Imam Abu Hatim ar-Raziy berkata, “Hadits ini merupakan tonggak tawakal. Tawakkallah modal utama dalam mencari rezeki.”

Sa’id bin Zubeir berkata, “Tawakal itu keseluruhan iman.” Mewujudkan tawakal bukan berarti meniadakan ikhtiyar dan usaha. Takdir Allah ﷻ dan sunnahnya sehubungan dengan makhluk berkait erat dengan ikhtiyar. Allah memerintahkan untuk berikhtiyar sekaligus bertawakal. Berusaha dengan anggota bada sebagai bentuk ketaatan kepada Allah ﷻ , dan bertawakl dengan hati sebagai manifestasi iman kepadaNya. Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا خُذُوا حِذْرَكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, bersiap siagalah kamu,” (Qs. An-Nisá’: 71)

Sahl bertutur, “Barangsiapa cacat dalam berikhtiyar berarti cacat dalam sunnah. Barangsiapa cacat dalam bertawakal berarti cacat dalam iman. Tawakal adalah tauladan Nabi SAW, sedangkan ikhtiyar adalah sunnahnya. Barangsiapa yang hendak meneladani nabi, maka janganlah ia meninggalkan sunnahnya.”

Jika dalam menjalani kehidupan dunia ini, baik saat beraktifitas untuk dunia atau untuk akherat, sikap tawakal adalah wajib, untuk mengurangi beban pikiran dan meringankan hati.

Orang yang tidak memiliki sikap tawakal akan mudah terkena depresi dan berbagai macam penyakit tekanan mental lainnya. Sebab, ia akan banyak menemui kegagalan, dan kekecewaan atas usaha keras yang hasilnya tak sesuai harapan.

Semoga Allah menjadikan kita orang2 yang bertawakkal selalu.* (Akrom Syahid -SIBMA_Vol 17-)