Berudhiyah, Bukan Sekedar Kuantitas

Ilustrasai Udhiyyah
Ilustrasai Udhiyyah
Ilustrasai Udhiyyah

An-najah.net – Udhiyyah merupakan Ibadah tertua yang diwariskan umat-umat terdahulu kepada umat Nabi Muhammad saw. Udhiyyah atau yang oleh masyarakat umum dikenal dengan istilah qurban telah ada sejak zaman Nabi Adam.

Baca Juga: Gunakan Istilah Udhiyah!‎

Hal ini sebagaimana yang diceritakan oleh al-Qur’an dalam menggambarkan kisah pengurbanan dua putra Nabi Adam, Habil dan Qabil.

Ketika Habil dan Qabil memasuki usia dewasa, Nabi Adam menjodohkan Habil dengan Iklimah, sedangkan Qabil dengan Lubada. Namun keputusan itu ditolak oleh Qabil, ia tidak mencintai Lubada karena parasnya tidak secantik Iklimah. Selain itu Iklimah adalah saudari kembar Qabil, sehingga ia merasa lebih berhak untuk menikahinya.

Takwa Dan Kesabaran

Dengan wahyu Allah Ta’ala, Nabi Adam memberikan solusi bahwa mereka harus mempersembahkan qurban dari hasil usaha masing-masing untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Habil yang bekerja sebagai petani, memilih harta yang akan dikorbankannya dari hasil panen sawah ladangnya. Dia pun mengambil buah atau tanaman yang buruk sebagai korbannya. Sedangkan Habil, bekerja sebagai penggembala ternak. Dia memilih untuk korbannya salah satu ternaknya yang terbaik, paling gemuk dan sehat.

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ ۖ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

Ceritakan kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qabil ) menurut agama yang sebenarnya ketika keduanya mempersembahkan Qurban, maka diterima dari seorang dari mereka berdua (Habil ) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil) : “Aku pasti membunuhmu”. (Habil) berkata : “ Sesungguhnya Allah hanya menerima (Qurban ) dari orang-orang yang takwa”.(QS. Al-Maidah: 27).

Kisah di atas mengandung banyak faidah. Diantaranya adalah udhiyyah merupakan  salah satu sarana ibadah untuk mendapatkan ridho Allah Ta’ala. Oleh karna itu, yang menjadi nilai di sisi Allah Ta’ala tidak hanya kuantitas, tapi juga kualitas dan keikhlasan. Bukankah Allah Ta’a’a telah berfirman:

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Hajj: 37).

Udhiyyah juga pernah diperintahkan Allah Ta’ala kepada Nabi Ibrahim. Tidak tanggung-tanggung, isi perintah tersebut adalah agar nabi Ibrahim mengurbankan Nabi Ismail, putra yang baru saja dijumpainya setelah sekian lama ditinggal pergi. Lewat mimpinya, Allah Ta’ala memerintahkan Nabi Ibrahim agar menyembelih anak yang telah lama diidam-idamkannya. Dengan penuh keimanan Nabi Ismail rela  menjaladi kurban. Karena ia tahu, apa yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala pasti ada kebaikan di dalamnya.

Ridho Dengan Ketetapan Ilahi

Singkat cerita di saat Nabi Ibrahim merebahkan badan anaknya untuk disembelih, Allah Ta’ala mengganti Nabi Ismail dengan sembelihan seekor domba yang besar. Kisah ini di abadikan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya;

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ * فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ* وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ * قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata:` Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu! `Ia menjawab:` Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar ` Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia:` Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu `, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Ash-shaffat: 102-105). Wallahu Ta’ala ‘Alam

Sumber  : Mading An-Najah edisi 118

Penulis   : Abu Kholid

Editor    : Ibnu Alatas