Bibit Unggul untuk Generasi Idaman

Mencetak Generasi Rabbani
Mencetak Generasi Rabbani
Mencetak Generasi Rabbani

Memilih bibit unggul adalah langkah pertama yang harus dilakukan seseorang jika kelak ingin mendapatkan generasi idaman. Seorang calon ibu harus memilih calon suami yang unggul, begitu pula sebaliknya bagi seorang calon bapak. Tak asal sembarang pilih. Kegagalan dalam memilih bibit unggul seperti  menanam tanaman di tanah yang gersang. Tumbuh dan berkembang namun hasilnya jauh dari harapan.

Merancang generasi idaman harus dimulai saat mencari calon pendaping. Seorang laki-laki harus memilih calon istri yang sholehah, karena calon istri kelak akan menjadi ibu bagi anak-anaknya. Mereka kelak yang akan mengasuh, merawat dan mendidik anak-anak. Begitu pula seorang perempuan,ia juga harus memilih calon suami yang sholeh. Suami yang mampu melindungi, menjaga, membimbing dan mengarahkan istri dan anak-anaknya.

Secara khusus Rasulullah memberikan empat kriteria dalam memilih bibit unggul. Pertama; hartanya, kedua; keturunannya, ketiga; kecantikannya, keempat; agamanya. Dari keempat kriteria tersebut, Rasulullah menempatkan agama menjadi pertimbangan utama. Agama ini pula yang akan menjadi pondasi untuk membangun keluarga yang sakinah, mawadah wa rahmah.

Belajar dari Ulama

Abdullah bin Mubarok adalah seorang ulama tabi’in di Madinah. Bapaknya bernama Mubarok, seorang budak dan penjaga pohon anggur. Suatu ketika, sang majikan datang kepadanya untuk diambilkan buang anggur yang paling manis. Dengan segera, Mubarok memilihkannya dan memberikan kepada majikannya. Namun saat dirasakan, bukan rasa manis yang didapat, namun rasa masam. Sang majikan tersebut memerintahkan kembali  untuk mencarikan anggur yang paling manis. Begitu mendapatkan, Mubarok memberikan kepada sang majikan, namun lagi-lagi anggur tersebut bukan anggur yang manis. Begitulah seterusnya sampai tiga kali sang majikan tidak mendapatkan anggur yang manis dari budaknya tersebut.

Akhirnya, sang majikan bertanya apakah Mubarok tidak bisa membedakan anggur yang manis dan anggur yang masam. Dengan penuh hormat, Mubarok menjawab bahwa dia belum mengetahui mana anggur yang manis karena belum pernah merasakan, ia hanya diperintah untuk menjaga dan merawatnya.

Melihat kewara’an dan kezuhudan budaknya, sang majikan kemudian menceritakan bahwa ia memiliki seorang putri, sudah banyak yang melamarnya, tetapi belum ada satupun yang berkenan.  Ia meminta pendapat Mubarok seperti apa pendamping bagi anaknya tersebut. Mubarok menjelaskan bahwa semasa jahiliyah orang Yahudi dan Nasrani lebih suka memilih pendamping bagi anak-anaknya yang memiliki kecantikan dan ketampanan. Sementara masa Rasulullah lebih mendahulukan kesholehan dan ketaqwaan, adapun saat ini manusia lebih memilih calon pendamping yang memiliki harta dan kedudukan.

Dengan jawaban tersebut, sang majikan merasa mantab telah menemukai calon pendamping bagi anaknya, tak lain adalah budak yang ada dihadapannya. Dengan agak memaksa, sang majikan menawarkan anaknya kepada Mubarok. Singkat kata, Mubarok dinikahkan dengan anak sang majikan. Dari pernikahan ini lahirlah seorang ulama besar yang dermawan, zuhud, pejuang dan ahli ibadah bernama Abdullah bin Mubarok. Abdullah bin Mubarok lahir dari bibit unggul kedua orang tuanya.

Imam Bukhari juga tidak jauh berbeda. Ia lahir dari keluarga yang alim. Ayahnya seorang ahlu hadist, dan meninggal saat Imam Bukhori berusia 10 tahun. Sebelum meninggal, sang ayah mengungkapkan bahwa ia meninggalkan banyak harta yang sedikitpun tidak didapatkan dari cara yang haram.

Sepeninggal ayahnya, Imam Bukhori menjadi yatim. Ia dalam kondisi buta sejak kecil. Suatu ketika, ibunya bermimpi bertemu dengan kholilullah Ibrahim as. Yang menyatakan bahwa Allah menyembuhkan anaknya karena doa seorang ibu yang sampai kepada-Nya.Sejak saat itu, Imam Bukhori mampu melihat. Mulailah ia menimba ilmu dengan berbagai ulama. Berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain dengan bekal yang ditinggalkan ayahnya.  Akhirnya ia menjadi seorang ulama besar dan ahlu hadits sepanjang zaman. Imam Bukhori lahir dari benih yang unggul.

Ada cerita menarik yang pernah dikisahkan seorang teman. Pada tahun 1980-an, ada seseorang pemuda naik kereta api jurusan Jakarta-Yogyakarta. Saat berada di kereta api, ia bersin dengan mengucapkan ‘alhamdulillah’. Tiba-tiba ada suara samar-samar menyahutnya, ‘yarhamukallah’. Secara spontan orang tersebut menjawab, ‘yahdikumullah wa yuslih balakum’. Selesai menjawab, ia menoleh ke arah suara tersebut, ternyata didapati seorang perempuan dengan jilbab putih, padahal saat tahun 1980, orang berjilbab sesuatu yang masih langka.

Akhirnya tergerak hatinya dengan menyodorkan kertas dan bulpen, meminta alamat orang tuanya. Dalam batin pemuda ini, tentu orang tuanya adalah orang yang sholeh karena mampu mendidik anaknya menjadi anak yang sholehah.

Beberapa hari kemudian ia datangi alamat tersebut. Saat dibukakan pintu, tampak seorang bapak yang sejuk tatapan matanya, kemudian ia dipersilakan masuk. Setelah berada didalam, pemuda tersebut mengungkapkan kedatangannya, pertama untuk silaturahmi, kedua untuk tholabul ilmi karena yakin orang tua tersebut adalah orang yang sholeh. Ketiga; untuk menjadi bagian dari keluarga orang tersebut, dengan kata lain ingin melamar anaknya.

Bapak tersebut kaget. Kemudian bertanya, ‘anak saya yang mana?. Karena anak saya ada  5 semuanya perempuan”. Pemuda tersebut kaget. Apalagi saat ditanya, siapa nama anak yang akan dilamar tersebut. Dimana kenalnya. Dengan malu-malu akhirnya pemuda tersebut menceritakan kisahnya saat di kereta. Ia yakin, anak yang sholehah tentu lahir dari keluarga yang sholeh.

Dengan kisah tersebut, akhirnya bapak tersebut faham, ia meminta pertimbangan kepada anaknya dan anaknya menyetujuinya. Setelah itu, bapak tersebut menikahkan anaknya dengan pemuda tersebut dengan mahar pena yang dipakai untuk menulis alamat rumahnya. Sekarang pemuda tersebut memiliki 6 anak. Seorang meninggal dan 5 anak lainnya adalah para penghafal al Qur’an. Subhanallah.

Memilih bibit unggul harus dimulai sejak dini. Orang tua yang sholeh akan melahirkan anak-anak yang sholeh dan sholehah. Tak ada pilihan lain, kecuali memulai dari diri sendiri  menjadi sholeh, bertaqwa dan taat menjalankan perintah Allah. Dari situlah akan terpancar keluarga dengan generasi-generasi pilihan masa depan.

Sumber : Dikutip dari majalah annajah rubrik usratuna edisi 100

editor ; Anwar