Bijak Dalam Perkara Bidah

Bijak dalam perkara bidah

An-Najah.net – Kebimbangan dan tidak jelasan dalam memahami bidah akan melahirkan banyak ‎keburukan. Bahkan kerusakan yang sangat parah di tengah masyarakat Islam. Sebab, ‎pemahaman akan melahirkan sikap. Jadi, benar-salahnya sebuah aksi, ditentukan dengan ‎benar-salahnya pemahaman‎

Baca juga: Neraca Bidah

Inilah yang disadari oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, “Yang terpenting dalam kajian ‎ini adalah kemampuan membedakan antara bidah dan sunnah. Sunnah adalah apa saja ‎yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala (syar’i), dan bidah adalah semua perkara yang tidak ‎diajarkan oleh agama.‎

Dalam perkara ini banyak terjadi kebingungan di tengah umat Islam, baik dalam perkara ‎ushul maupun furu’. Setiap kelompok mengklaim bahwa diri mereka saja yang sesuai ‎sunnah. Sementara yang menyelisihinya adalah bidah.‎

Mereka pun menyikapi orang-orang yang menyelisihinya dengan hukum-hukum ahlu ‎bidah. Akhirnya, kerusakan yang ditimbulkan oleh sikap ini, tak bisa terbendung, hanya ‎Allah Ta’ala yang mengetahuinya.” (Ibnu Taimiyah, al-Istiqomah, cet I, jilid 1, hal. 42)‎

Di sinilah pentingnya kita memahami definisi, dan rumus-rumus mengenal bidah. Agar ‎tidak serampangan dalam bersikap maupun bertindak. Pada edisi ini, Dirasatul Firoq, ‎mengetengahkan kajian tentang definisi bidah dalam kajian ulama.‎

Bidah Menurut Ulama

Dalam mendefinisikan bidah, para ulama membahasakannya dalam bentuk yang ‎berbeda-beda. Hanya saja, semuanya tetap memiliki kesamaan substansi.‎

Imam Ibnu Rajab al-Hambali mengatakan, “Segala perkara yang baru, disandarkan kepada ‎agama (ad-Din), namun tidak ada dasarnya dalam ad-Din. Maka, ini adalah kesesatan ‎‎(kebidahan). Dan Islam berlepas diri dari itu.” (Ibnu Rajab, Jaami’ul Ulum wal Hikam, cet VII, jilid 1, hal. 177)

Adapun jika memiliki landasan dalam Islam, itu bukan bidah. Ibnu Hajar al-Asqolani, ‎menulis, “Setiap bidah sesat, maksudnya setiap perbuatan baru, dan tidak ada dalil syari, ‎baik dalil khusus ataupun umum.” (Ibnu Hajar, Fathul Baari, jilid 13, hal. 254)‎

Baca juga: Syahadat, Bukan Sekedar Ucapan

Sedangkan Imam Asy-Syathibi menjelaskan: ‎

طَرِيقَةٌ فِي الدِّينِ مُخْتَرَعَةٌ، تُضَاهِي الشَّرْعِيَّةَ، يُقْصَدُ بِالسُّلُوكِ عَلَيْهَا مَا ‏يُقْصَدُ بِالطَّرِيقَةِ الشَّرْعِيَّةِ.‏

‎“Sebuah jalan/ metode yang dibuat-buat dengan disandarkan kepada agama, sehingga ‎menyerupai syariah, dikerjakan dengan maksud untuk menjadikannya tata-agama.” (Ibrahim asy-Syathibi, Al-‎I’tishom, cet I, jilid 1, hal. 51)‎

Syekh Hafidz al-Hakamiy, “Makna bid’ah adalah sebuah syari’ah (aturan) yang tidak ‎memiliki dasar dalam syari’at, baik dasar dari Allah Ta’ala, Rasul atau sahabat-sahabat ‎Rasulullah Saw.” (Hafidz al-Hakamiy, Ma’arijul Qobul, cet I, jilid 2, hal. 426)‎

Dari penjelasan para ulama ini, syekh Prof Dr. al-Jizani menyimpulkan, ‎

مَا أُحْدِثَ فِي دِيْنِ اللهِ وَ لَيْسَ لَهُ أَصْلٌ عَامٌ وَ لَا خَاصٌ ‏يَدُلُّ عَلَيْهِ

‎“Segala perkara yang baru dalam agama Allah Saw. Dan tidak ada dasar (dalil) yang ‎melegitimasinya, baik secara umum maupun khusus.” (Prof al-Jizani, Qowa’id Ma’rifatil Bida’, hlm. 24)‎

Sumber            : Majalah An-Najah, edisi 148, hal 16

Penulis             : Akrom Syahid

Editor               : Ibnu Alatas