Bijak Mengukir Batu

Batu
Batu
Batu
Batu

An-Najah.net – Ketika ayahnya menimang sepucuk senapan angin yang akan digunakan berburu, Fatimah mendekat. “Tembakannya buat apa Bi?” tanya si anak sambil bergayut manja di pundak ayahnya. “Buat nembak burung,” jawab ayahnya singkat.

Reaksinya mengejutkan, tiba-tiba Fatimah bangkit dan dengan polos menyergah. “Nggak boleh Bi, kata ustadzah kita harus sayang binatang. Nggak boleh membunuh mereka.”

Fatimah bersekolah di sebuah TK Islam. Para ustadzahnya adalah akhwat yang terbina dalam pengajian.

Namun ternyata ia diajarkan tak boleh memburu dan membunuh binatang. Padahal itu lebih mirip ajaran Budha yang mengharamkan membunuh binatang dan memakannya, hingga melahirkan manhaj makan ala vegetarian.

Di tempat lain, keluarga Idris mendidik anaknya konsep wala’ wal baro’ dengan sedikit berlebihan. Konsep tentang thaghut diajarkan secara vulgar pada anak yang masih polos dan ceplas-ceplos.

Terjadilah peristiwa yang membuat orang tuanya salah tingkah. Saat itu ayah, ibu dan Idris pergi ke sebuah tempat umum. Di sana mereka menjumpai seorang aparat militer berseragam.

Dengan polos, khas anak kecil sebayanya, Idris tiba-tiba menarik tangan ayahnya. Lalu ia berteriak sambil menunjuk-nunjuk si aparat, “Bi, Abi.. Ada thaghut tuh!”

Sang ayah tentu kebingungan menghadapi situasi seperti itu. Beruntung saat itu kosakata thaghut masih menjadi bahasa eksklusif kalangan aktifis Islam. Maka insiden itu pun berlalu begitu saja.

Sementara seorang anak lain yang cerdas, membuat heboh di sekolahnya. Amir tak pernah diajari konsep wala’ wal baro’ secara vulgar, bahkan ia disekolahkan di sekolah umum.

Namun ia diajari bahwa syirik haram dilakukan, dan salah satu bentuknya adalah memberikan penghormatan yang berlebihan kepada benda mati.

Di sekolah, saat upacara bendera, Amir tak mau menghormat pada bendera. Tentu ini membuat para gurunya penasaran. Saat ditanya kenapa ia tak mau hormat bendera, dengan polos anak itu menjawab, “Bendera kan benda mati, buat apa dihormati?”

Para guru dan wali murid lain yang mengetahui peristiwa itu tentu berpikir bahwa Amir itu diajari tak menghormat bendera di rumahnya.

Padahal sama sekali tidak, anak itu yang berpikir sendiri bagaimana mengejawantahkan konsep “haram berlaku syirik dengan memberikan penghormatan berlebihan pada benda mati” dalam realita di sekolahnya: ia tak mau hormat bendera.

Kisah Tinta Pemilu

Ada kisah lain lagi di saat pemilu. Seorang ayah memutuskan untuk golput alias tidak memilih saat pemilu. Namun, untuk menghindari perhatian lingkungan, ia tetap berangkat ke TPS dan ikut proses pencoblosan.

Saat itu ia bersama istri dan Nadia, anaknya yang masih TK. Sang anak ikut saat ayahnya membawa kartu suara ke bilik dan melihat bahwa ayahnya hanya membuka lipatan kartu lalu melipatnya kembali tanpa mencoblos.

Sebelumnya, saat Nadia melihat jari peserta pencoblosan dimasukkan ke dalam tinta, ia bertanya “Yah, itu kok jarinya pada dimasukin tinta sih?” Sang ayah menjawab dengan sabar, “Oh, itu yang sudah mencoblos kartu suara supaya tidak bisa mencoblos lagi.”

Begitu keluar bilik dan menuju pintu keluar, jari si ayah pun mendapat gilirannya. Dimasukkan ke dalam bak tinta oleh petugas KPPS. Tiba-tiba Nadia berteriak, “Ayah kan tadi tidak mencoblos, cuma dibuka doang kartunya, kok jarinya dikasih tinta sih?!”

Sang ayah pun hanya bisa tersenyum kecut saat orang-orang di TPS memperhatikan ia dan anaknya. Beberapa tertawa, geli karena akal-akalan pura-pura mencoblos dibongkar sendiri oleh anaknya yang polos.

Sementara itu, seorang aktifis jihadi, sebut saja Fiktim, dibesarkan oleh ayahnya sejak kecil dengan nilai kejujuran. Berdusta adalah perkara terberat dalam keluarga itu. Maka sejak kecil ia terbiasa berkata jujur dan menganggap rendah kebohongan.

Setelah dewasa, ia sempat berjihad di salah satu bumi jihad. Lalu ia berhijrah dan melanjutkan jihadnya di negeri lain. Qadarullah, ia tertangkap oleh musuh dan menjadi tawanan. Ia disiksa dengan berat agar membongkar jaringan mujahidin. Namun siksaan tak membuatnya lemah, ia tetap bertahan.

Namun musuhnya tidak bodoh. Interogasi demi interogasi terus mereka lakukan sambil mempelajari karakter psikologi Fiktim. Hingga suatu ketika musuh menemukan bahwa sebenarnya ia orang yang sangat menghargai kejujuran dan merendahkan dusta.

Kartu ini mereka mainkan, dipadu dengan tekanan pada keluarga, sehingga akhirnya ia terpaksa mengaku. Ia pun membuka siapa dirinya, siapa perekrutnya untuk berjihad, siapa para guru dan pelatihnya.

Ketika aktifis ini disidangkan perkaranya di pengadilan negeri musuh, ia dikonfrontir dengan beberapa kawannya yang juga tertangkap. Termasuk dengan komandannya yang sangat ia hormati. Ternyata semua kawan dan komandannya bertahan tak mengaku.

Pengakuan sang aktifis yang membuka jaringan mereka dustakan. Puncaknya ketika komandannya mendustakan pengakuan dia kepada interogator. Hanya seorang bekas pelatihnya yang tak mendustakan dirinya, ia hanya diam tak menjawab ketika ditanya apakah pengakuan Fiktim benar.

Bijak dan Seimbang

Selepas sidang, Fiktim sempat menemui sang pelatih dan berterimakasih. Ia menyatakan, “Dari semua ikhwan, hanya Antum yang tak mendustakan kata-kata saya. Bahkan komandan pun menuduh saya sebagai pendusta.” Sang pelatih yang memahami karakternya sejak masa tadrib hanya tersenyum.

Fiktim adalah contoh bagaimana pendidikan masa kecil yang menekankan sebuah nilai bisa membekas hingga dewasa. Sayangnya, penekanan ini kurang seimbang dengan nilai lain, dalam hal ini berpikir prioritas. Akibatnya Fiktim menjadi korban rekayasa musuh dan dimusuhi, serta berbalik memusuhi, para kawannya sesama mujahidin.

Apa ibrah dari kisah Fatimah, Idris, Amir, Nadia dan Fiktim di atas? Para ayah dan orang tua perlu mengenalkan nilai-nilai Islam kepada anak-anaknya dengan lengkap dan berimbang pada saat dan dengan metode yang tepat.

Jangan sampai nilai yang mereka miliki gothang seperti belalang yang hilang salah satu kakinya. Guru dan sekolah memang dipercaya mendidik anak, namun porsi terbesar tetap menjadi bagian ayah dan ibu.

Anak memang polos dan bersih fitrahnya, maka ayah dan ibu yang telah makan asam garam kehidupan harus membantunya memahami rumitnya kehidupan dengan bijak dan tepat. Tentunya dengan berlandaskan nilai Islam sebagai manhaj kehidupan.

Orang tua harus selalu ingat bahwa didikan mereka pada anak di masa kecil bagai mengukir di atas batu. Berat dilakukan namun membentuk karakter yang bertahan hingga dewasa.

Jangan sampai mereka salah ukir. Jangan terlalu keras memukulkan palu karena batu bisa pecah, namun juga jangan terlalu lemah karena tak akan membekas. Tawazun adalah kuncinya.

Sumber : majalah an-najah edisi 116 rubrik Sekitar kita

Penulis : Togar

Editor : Helmi Alfian