Bolehkah Qashar Lebih dari Empat Hari?

travellerSaya sering melihat orang-orang yang melakukan perjalanan atau safar lebih dari sebulan dan tinggal di suatu tempat. Shalat mereka dengan cara dijama’ dan diqashar selama sebulan itu. Alasannya masih berstatus musafir dan bukan penduduk mukim. Benarkah yang mereka kerjakan itu?

(Syahid – 0878 3616 ***)

Alhamdulillah. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah, para shahabat dan seluruh pengikut beliau sampai hari kiamat.

Terkait dengan masalah safar, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mengklasifikasi orang menjadi tiga: mustawthin, musafir dan mukim.

  1. Mustawthin adalah orang yang tinggal di negeri dan kampung halamannya sendiri.
  2. Musafir adalah orang yang bepergian, meninggalkan negeri dan kampung halamannya.
  3. Mukim adalah adalah musafir yang menetap di suatu negeri.

Mukim sendiri ada dua macam:

Pertama: Mukim yang berniat tinggal di suatu negeri untuk waktu tertentu, baik lama maupun sebentar.

Kedua: Mukim yang berniat tinggal tapi tidak dapat menentukan berapa lama ia akan tinggal.

Perlu diperhatikan bahwa para fuqaha bersepakat, qashar adalah rukhshah atau keringanan bagi musafir. Sedangkan jama’, para fuqoha berbeda pendapat. Kebanyakan mengaitkan rukhshah jama’ dengan ketidakmampuan seseorang mengerjakan shalat pada masing-masing waktu, baik dalam safar maupun ketika tidak bersafar.

Meskipun dalam safar, jika seseorang dapat mengerjakan shalat di masing-masing waktu, itulah yang seyogyanya dilakukan.

Para ulama bersepakat mustawthin tidak mendapat rukhsah qashar dan jama. Musafir yang sedang berjalan mendapatkan rukhshah qashar. Bahkan sebagian ulama mewajibkannya.

Para fuqoha sepakat, siapa saja yang berniat mukim secara mutlak, tanpa menyebut batas waktu, tidak mendapat rukhshah qashar.

Para fuqoha juga sepakat bahwa orang yang menetap untuk tujuan yang belum pasti kapan selesainya, sehingga ia tetap tinggal sampai urusannya selesai. Kemudian ia pulang begitu urusannya rampung. Statusnya adalah musafir. Dia mendapat rukhshah qashar. Meskipun waktu yang dihabiskannya hingga berhari-hari bahkan berbulan-bulan.

Para fuqaha berbeda pendapat, mengenai seseorang yang berniat mukim di suatu daerah untuk menyelesaikan urusannya yang diperkirakan akan selesai dalam waktu pendek. Berapa hari batasan maksimal mendapat rukhshah qashar?

Menurut Madzhab Maliki dan Syafi’i, empat hari selain hari tiba dan pergi. Menurut Madzhab Hanbali, empat hari termasuk hari datang dan pergi. Imam Ahmad sendiri berpendapat, apabila seseorang berniat menetap di suatu daerah lebih dari 21 kali shalat fardhu, status musafirnya hilang.

Wallahu A’lam.

 

* Rubrik konsultasi ini diasuh oleh Ust. Imtihan Syafi’i. Layangkan pertayaan anda ke email: [email protected]

Tinggalkan komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.