Bukan Sekedar Gerhana ‎

gerhana
gerhana

Khutbah Pertama

إن الحمد لله، جلَّ شأنه، الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ ثُمَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ
 ‏
وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وَأَشْهَدُ أَنْ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَهُوَ خَيْرُ الْبَشَرِ، وَصَاحِبُ الْحَوْضِ الْكَوْثَرِ لا ‏نبي ولا
رسول بعده.‏
أما بعد. عبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، فَاتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
Jamaah shalat gerhana yang semoga dirahmati Allah Ta’ala
Subhannah (Maha Suci Allah), Allahu Akbar (Allah Maha Besar), Masya Allah (Allah Maha ‎Berkehendak), inilah di antara kalimat kalimat-kalimat thoyyibah yang harus kita ucapkan selaku ‎hamba Allah Ta’ala yang beriman kepada kehendak dan kekuasaan-Nya. ‎

Pada hari sabtu dini hari, bertepatan pada tanggal 28 Juli 2018 (15, Dzulqo’dah 1349 H) akan ‎terjadi gerhana bulan total. Gerhana bulan berdurasi terpanjang se-abad ini. 1 jam 43 menit, ‎dimulai dengan gerhana persial pada jam 01.24, gerhana total 02.30, punjak gerhana total 03.21, ‎gerhana total berakhir 04.13, gerhana persial berakhir 05.19.‎

Hal lain yang menarik dari peristiwa ini adalah bahwa pada saat gerhana terjadi posisi bulan ‎berada pada jarak tarjauh dengan bumi. Hal ini akan membuat bulan tampak lebih kecil dan ‎memerah. Para pakar astronomi menyebutnya blood moon.‎
Jamaah shalat gerhana yang semoga dirahmati Allah Ta’ala
Di negeri Cina, dahulu orang percaya bahwa gerhana terjadi karena seekor naga langit membanjiri ‎sungai dengan darah lalu menelannya. Itu sebabnya orang Cina menyebut gerhana sebagai “chih” ‎yang artinya “memakan”. Di Jepang, dahulu orang percaya bahwa gerhana terjadi karena ada ‎racun yang disebarkan ke bumi. Untuk menghindari air di bumi tercampuri oleh racun tersebut, ‎maka orang-orang menutupi sumur-sumur mereka. ‎
Di Indonesia, khususnya Jawa, dahulu orang-orang beranganggap bahwa gerhana bulan terjadi ‎karena Batara Kala alias raksasa jahat, memakan bulan. Mereka kemudian beramai-ramai ‎memukul kentongan pada saat gerhana untuk menakut-nakuti dan mengusir Batara Kala. Bagi ‎orang-orang Quraisy di Arab, gerhana bulan dikaitkan dengan kejadian-kejadian tertentu, seperti ‎adanya kematian atau kelahiran seseorang. Kepercayaan ini dipegang secara turun temurun ‎sehingga menjadi keyakinan umum masyarakat di zaman itu.‎

Semua itu tidak lain hanyalah kepercayaan mitos atau takhayul belaka, dikarenakan minimnya ‎pengetahuan masyarakat tentang alam, khusunya bumi, matahari dan rembulan belum cukup ‎memadai. Sebagian dari mereka bahkan masih memegang kepercayaan yang disebut animisme ‎‎(kepercayaan kepada ruh ghaib) dan dinamisme (kepercayaan kepada yang nampak)‎

Jamaah shalat gerhana yang semoga dirahmati Allah Ta’ala
Kepercayaan-kepercayaan itu telah diluruskan oleh Rasulullah Saw. Dalam Islam, gerhana bulan ‎atau matahari tidak lain adalah bentuk keagungan Allah Ta’ala sebagai Maha Pencipta ‎sebagaimana sabda Rasulullah Saw dalam sebuah hadits diriwayatkan Bukhari: ‎
اِنَّ الشَّمْسَ وَاْلقَمَرَ لَا يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ اَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ وَلكِنَّهُمَا آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللهِ ، فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَصَلُّوا
‎“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda Allah. Gerhana ini ‎tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika kalian melihat gerhana ‎tersebut, maka lakukanlah shalat gerhana.” (Shahih Bukhari, 1042)‎
Dalam hadits tersebut ditegaskan, tidak ada kaitannya antara gerhana dengan meninggal atau ‎lahirnya seseorang, baik seseorang itu dari kalangan orang-orang biasa maupun orang-orang ‎terhormat. Tetapi sesungguhnya gerhana adalah tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran Allah ‎Ta’ala sebagai pencipta langit dan bumi serta seluruh alam berserta seluruh isinya.‎
Jamaah shalat gerhana yang semoga dirahmati Allah Ta’ala

Ibrah Yang Bisa Diambil

Ibrah atau pelajaran berharga yang bisa kita ambil dari peristiwa alam berupa gerhana bulan ini, di ‎antaranya adalah,‎

Pertama, semua benda-benda langit di alam semesta ini adalah ciptaan Allah Ta’ala. Sejak awal ‎diciptakan sebagai makhluk-Nya, mereka tunduk, taat, dan patuh kepada Rabbnya, tanpa sifat ‎membangkang. Tidak ada satupun benda-benda langit yang menentang perintah Allah semisal ‎bergerak meninggalkan orbitnya untuk memasuki orbit lainnya. ‎

Kedua, Manusia sebagai makhluk-Nya Allah Ta’ala sudah seharusnya membersamai sikap langit ‎dan bumi dalam hal ketaatannya kepada Allah Ta’ala. Lebih dari itu, manusia lah yang sejak ‎awal diposisikan penciptaannya sebagai wakil Allah Ta’ala yang sedang mengemban dakwah ‎Ilahi. Karenanya, manusia diberi perangkat yang cukup untuk itu, baik ruh, akal, dan jasad yang ‎sempurna. ‎

Namun sayangnya, fakta-fakta di depan mata kita menggambarkan situasi yang berbeda. Berapa ‎banyak dari umat manusia yang kemudian mengabaikan tugas mulia sebagai khalifah di muka ‎bumi. Bukannya taat, malah maksiat. Pelanggaran dilakukan dimana-mana tanpa ada rasa takut ‎kepada sang penciptannya. Karena itu, umat Islam pada malam ini harus dapat mengambil ibrah ‎dari peristiwa gerhana bulan ini dengan membacanya dalam perspektif tersebut.‎

Ketiga, peristiwa-peristiwa alam ini pada dasarnya merupakan sebuah fenomena yang kemudian ‎harus ditelaah oleh manusia dengan pendekatan ilmiah berbasis ilmu pengetahuan. Dalam sejarah ‎peradaban Islam, para ulama cendikiawan muslim telah menunjukkan prestasi yang luar biasa ‎dalam hal pembangunan dan pengembangan ilmu pengetahuan. Seperti Ibnu Rusy, Ibnu Sina, Al-‎Jabbar, Al-Khawarizmi dan lain-lain sebagai para saintis atau ilmuwan baik di bidang sosial ‎maupun exact (penelitian).‎

Dalam urusan ini, kaum muslimin memiliki PR yang cukup besar. Negara-negara di Barat, ‎Amerika Serikat, Russia, Jepang, Korea, dan China telah jauh meninggalkan negeri-negeri Islam ‎seperti Indonesia, Mesir, Saudi Arabia, Pakistan dan lainnya dalam hal pengembangan sains.‎
Salah satu solusinya adalah dengan mengganti kepemimpinan baru dari umat yang memiliki visi ‎yang terpadu antara visi akherat dengan dunia, visi agama dengan ilmu pengetahuan, visi syariah ‎dan peradaban. Umat akan memiliki izzah dan wibawanya kembali dalam berbagai percaturan ‎dunia, baik pada bidang politik, ekonomi, sosial dan iptek. Demikianlah beberapa ibrah yang bisa ‎kita ambil dari peristiwa ini.‎
Jamaah shalat gerhana yang semoga dirahmati Allah Ta’ala
Jangan sampai selama hidup kita, tidak pernah melakukan shalat gerhana sama sekali. Bila kita ‎beriman kepada kehendak dan kuasa-Nya marilah kita tunaikah shalat ini walau hukumnya ‎Sunnah Muakkadah (sunnah yang ditekankan).‎
Selain ibadah shalat gerhana, kita juga dianjurkan untuk memperbanyak berdzikir, membaca ‎takbir, tasbih, tahmid, istigfar dan kalimat-kalimat dzikir yang lainnya. Karena Rasulullah Saw ‎pernah bersabda,‎
‏”إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَادْعُوا اللَّهَ وَصَلُّوا حَتَّى يَنْجَلِيَ” ‏‏. رواه البخاري
Sesungguhnya matahari dan bulan merupakan dua tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah. ‎Kedua gerhana tersebut tidak terjadi karena kematian atau lahirnya seseorang. Jika kalian ‎menyaksikan gerhana, maka berdoalah kepada Allah Ta’ala dan shalatlah sampai gerhana hilang ‎‎(berakhir).” (HR. Bukhari: 1060)‎
Bersedekah, Rasulullah Saw juga menganjurkan untuk memperbanyak sedekah. Bukti syukur kita ‎terhadap kenikmatan dan kebesaran Allah Ta’ala sehingga terjadilah gerhana bulan ini. ‎Rasulullah Saw pernah bersabda,‎
إِنَّ الشَّمْسَ وَالقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ، لاَ يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ، فَادْعُوا اللَّهَ، وَكَبِّرُوا وَصَلُّوا ‏وَتَصَدَّقُوا
‎“Sesungguhnya  matahari dan  bulan adalah termasuk tanda-tanda kekuasaan Allah Ta’ala, tidaklah ‎terjadi gerhana keduanya karena kematian seorang manusia atau kelahiran seorang manusia. ‎Maka jika kalian melihat gerhana, berdoalah kalian kepada Allah Ta’ala, bertakbirlah, shalatlah, dan ‎bersedekahlah!” (HR. Al-Bukhari: 1044)‎

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا ‏كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.‏
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. أَيـُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. أَمَّا بَعْدُ؛
Akhirnya, pada penghujung khutbah ini, marilah kita tundukan sejenak hati dan perasaan kita ‎seraya berdoa kepada Allah Ta’ala pada malam gerhana bulan ini. Pada malam dimana kita ‎menghidupkan satu di antara sunnah Rasulullah Ta’ala. Mudah-mudahan, Allah Ta’ala berkenan ‎mendengar dan mengabulkan doa dan munajat kita. Aamiin yaa Rabbal ‘alamin.
إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
اللهم صلِّ وسلِّم وبارِك على عبدك ورسولك محمد، وعلى آله وصحبه والتابعين لهم بإحسان إلى يوم الدين‎.‎
للهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ إنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْئ قَدِيْر
اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ
‏اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.‏
اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً ‏وَسَائِرِ
اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.‏
رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.‏
وصلى الله على نبينا محمد وعلى اله وصحبه أجمعين
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ ‏وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ
Penulis ‎: Ibnu Jihad‎
Editor  ‎: Ibnu Alatas‎