Bulan-Bulan Bully

presiden-partai-keadilan-sejahtera-pks-luthfi-hasan-ishaaq-_121110200823-544(an-najah.net) – Popularitas PKS terjun bebas seiring dengan penetapan Luthfi Hasan Ishaaq (LHI) sebagai tersangka oleh KPK dalam kasus impor daging sapi. Indikasi itu dapat dibaca melalui hasil survei beberapa surveyor seperti Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) dan Pusat Data Bersatu (PDB). Seperti apa gambaran kongkritnya di lapangan, hanya Allah yang tahu. Yang pasti, seperti gayung bersambut, PKS pun menjadi trending topic di pemberitaan sejumlah media besar.

Sayang, tak banyak yang peduli dengan rentetan peristiwa berikut ini: Sejak 3 Januari 2013 PDB menggelar survey popularitas partai-partai. Hasilnya PKS dan Demokrat jeblok, Gerindra dan Golkar melambung. 30 Januari, LHI ditetapkan sebagai tersangka suap impor daging sapi dengan nilai “cuma” Rp. 1 miliar(cicilan pertama dari Rp 40 miliar yang dijanjikan). Panggung politik pun goncang oleh fenomena partai (dikenal) santun ternyata menyimpan (tersangka) penyamun.

Padahal kasus LHI bukan barang baru. Majalah Tempo dua kali menerbitkan laporan utama soal keterlibatan sejumlah petinggi Partai Keadilan Sejahtera dalam bisnis daging ini. Pertama, pada Maret 2011, terbit laporan bertajuk “Main Daging Pentolan PKS”. Dua bulan kemudian, Tempo menulis laporan berjudul “Sekali Lagi ‘Daging Berjanggut’”. Namun, baru Januari 2013 (hampir dua tahun sejak pertama kali Tempo mengangkat kasus ini), LHI digarap.

Entah siapa dirigennya, hujatan terhadap PKS kali ini bak orkestra dengan alunan berbagai alat musik yang susul menyusul membentuk irama yang menghipnotis penonton. Orkestra besar, setelah sebelumnya berupa bullying (gertak) jalanan yang sporadis. Seperti ketika Nurmahmudi Ismail, Walikota Depok menggiatkan anjuran makan pakai tangan kanan. Apesnya, istri Walikota ketahuan masuk kantor Walikota menggunakan mobil di hari larangan menggunakan mobil

Selengkapnya baca An-Najah Edisi Maret 2013.. …..