Bumi Syam Dulu, Kini Dan Yang Akan Datang.

syam

An-Najah.net – Syam, bumi penuh keberkahan, dan kelak peperangan akhir zaman akan dimulai dari bumi Syam (kota Gauthah). Negeri Syam adalah bagian barat negara Saudi Arabiya mencakup Lebanon, Palestina, Suriah, Yordania. Diantara keistimewaan tanah yang diberikan oleh Allah pada kawasan ini adalah kesuburannya, karena Negeri Syam adalah buminya para Nabi.

Tanah Penuh Berkah

Dan Allah mengabarkannya di dalam Firman-Nya; di antaranya Nabi Muhammad Saw ketika Isra’ Mi’raj (Qs:17/1). Nabi Sulaiman yang terhembus oleh angin dan sampi di bumi Syam, (Qs. 21/81). Nabi Ibrahim dan Nabi Luth di taruh di bumi Syam agar aman, (Qs. 21/71). Nabi Musa menyuruh umatnya untuk masuk tanah suci (Palestina), (Qs. 5/21). Nabi Isa dan ibunya Maryam di lindungi di daerah Palestina oleh Allah Ta’ala, (Qs. 23/50)

Dan Rasulullah Saw sendiri yang langsung mendo’akan negeri Syam bukan negeri yang lain dan  Beliau mengulangi do’anya dua kali. Sebagaimana do’anya yang tidak lagi asing di telingga kita.

»اللهُم بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا، وَفِي يَمَنِنَا«

Ya Allah berkahilah untuk kami pada negeri Syam kami dan pada negeri Yaman kami

Di tambah lagi Malaikat, makhluk Allah Ta’ala yang tidak pernah durhaka kepada-Nya, melebarkan sayapnya di atas negri Syam

»طُوبَى لِلشامِ«

Suatu kebaikan untuk negeri Syam

Kami (para sahabat) bertanya: Kenapa demikian ya Rasulullah?, Rasulullah menjawab:

»لِأَن مَلَائِكَةَ الرحْمَنِ بَاسِطَةٌ أَجْنِحَتَهَا عَلَيْهَا»

Karena malaikat Ar-Rahman melebarkan sayapnya padanya” [Hr. Tirmidzi]

Bahkan Bukan hanya Malaikat-Nya namun Allah Ta’ala  sendiri yang langsung menjamin untuk negeri Syam lewat lisannya Rasulullah.

»عَلَيْكَ بِالشامِ، فَإِنهَا خِيرَةُ اللهِ مِنْ أَرْضِهِ، يَجْتَبِي إِلَيْهَا خِيرَتَهُ مِنْ عِبَادِهِ»

Pilihlah di Syam, karena ia adalah pilihan Allah dari bumi-Nya, Allah mengumpulkan padanya hamba-hamba pilihan-Nya“. [Hr. Abu Daud]

Tempatnya keimanan saat penuh cobaan Rasulullah Saw bersabda:

“» بَيْنَا أَنَا فِي مَنَامِي، أَتَتْنِي الْمَلَائِكَةُ فَحَمَلَتْ عَمُودَ الْكِتَابِ مِنْ تَحْتِ وِسَادَتِي، فَعَمَدَتْ بِهِ إِلَى الشامِ، أَلَا فَالْإِيمَانُ حَيْثُ تَقَعُ الْفِتَنُ بِالشامِ»

Ketika aku dalam tidurku, beberapa malaikat mendatangiku lalu membawa tiang Al-Kitab dari bawah bantalku kemudian menjadikannya tiang di Syam. Ketahuilah bahwa keimanan itu berada di Syam ketika fitnah (cobaan) terjadi“. [Hr. Ahmad]

Fakta Berbicara

Namun hari ini, ketika kita melihat bumi yang penuh berkah itu, telah menjadi pusat perhatian internasional. Duina dan seisinya menjadi saksi baik dari kalangan muslim maupun non muslim. Maret 2018, bulan kemarin, menandai genap tujuh tahun pertumpahan darah di Suriah (salah satu kota di Syam) – yang diawali dengan penindasan luar biasa kepada rakyat oleh rezim Al-Assad yang sudah membangun kekuasaannya selama lebih dari 40 tahun. Jumlah korban tewas yang sesungguhnya, hanyalah Allah Ta’ala yang tahu. Ada sebagian pihak yang mencoba menelusuri jumlah kematian bahkan sesudah Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) berhenti menghitung di pertengahan tahun 2014.

Korban terus berjatuhan terutama di tahun 2013, ketika korban meninggal per hari bisa mencapai lebih dari 200. Sebagai contoh, ketika rezim Assad (21/08/13) melancarkan serangan senjata kimia ke kawasan Gauthah Syarqiyya di pinggiran Damaskus yang menyebabkan matinya sekitar 1.700 orang (termasuk 400 anak) dalam hitungan jam.

Penderitaan Tanpa Jeda

Rasa sakit terus dirasakan oleh bumi Syam -bumi yang penuh berkah- baik dari segi jasmani maupun rohani. Hujan bom dan serangan udara. Penyiksaan dengan senjata tajam sampai mati di pusat-pusat penahanan, pemerkosaan massal dan penculikan mengalir seperti air bah. Pengungsian hingga hari ini sudah lebih dari separuh dari 22 juta penduduk Suriah terpaksa berpindah dan mengungsi dari satu kota ke kota lain, dan ke negeri tetangga seperti Iraq, Yordania, Lebanon dan Turki.

Sudah 70 tahun Palestina dijajah. Sudah seabad lamanya Masjidil Aqsha dijajah dan lepas dari tangan kaum Muslimin. Sudah sebelas tahun Gaza dikepung dan dicekik sampai hampir mati oleh Zionis Yahudi ‘Israel’, sudah tujuh tahun Suriah ditindas dan dijadikan ladang pembunuhan oleh rezim Bashar al-Assad dan sekutunya, terutama milisi Syiah dari Lebanon, oleh Iran dan oleh Rusia.

Jika penindasan ini terus berlanjut, maka benarlah sabda Rasulullah Saw, jika bumi Syam rusak maka tiada lagi kebaikan di muka bumi ini.

»إِذَا فَسَدَ أَهْلُ الشامِ فَلَا خَيْرَ فِيكُمْ، لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمتِي مَنْصُورِينَ لَا يَضُرهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتى تَقُومَ الساعَةُ»

Jika rusak Ahlusy-Syam maka tidak ada lagi kebaikan tertinggal dalam diri kalian (ummat manusia).” [Hr. At-Tirmidzi]

Pintu Gerbang Peperangan Akhir Zaman

Suriah adalah salah saru kota di Syam, dan Suriah adalah pintu gerbang perang akhir zaman al-Malhah al-Kubra atau orang barat menyebutnya dengan Armageddon (Bahasa Ibrani Har Meghiddohn’, yang berarti ‘Gunung Megido’)

Gauthah adalah kota yang terletak di Damaskus, dan kota itu adalah kota yang terbaik di negeri Syam. Kelak kota ini akan menjadi perkemahan, persembunyian pada saat perang al-Malhamah.

Rasulullah Saw bersabda, “Perkemahan kaum Muslimin pada saat terjadinya malhamah (perang besar) adalah Gauthah, disamping Damaskus. (HR. Ibnu Majah, Al Hakim)

Jika kita mengimani sabda sabda Nabi Muhammad Saw, maka kita harus meyakini bahwa bumi Syam adalah bumi yang penuh berkah, buminya para nabi. Bumi yang langsung dido’akan oleh Rasulullah Saw. Bumi pilihan dan jaminan Allah Ta’ala. Dan kelak peperangan akhir zaman akan dimulai dari bumi Syam (kota Gauthah). Wallahu a’lam

Penulis: Ibnu Jihad

Editor: Abu Mazaya