Cara Menghitung Zakat Rumah Warisan

rumah-kontrakan
rumah-kontrakan

An-Najah.net – Ustadz, saya mendapatkan warisan rumah yang sangat luas. Kalau dikalkulasi nilainya bisa mencapai 1 milyar rupiah. Rumah warisan itu saya jadikan sebagai tempat tinggal, sekaligus saya gunakan untuk usaha rumah makan. Bagaimana cara saya mengeluarkan zakat rumah saya tersebut? Apakah cukup sekali saja atau setiap tahun harus saya keluarkan zakatnya? (Abu Nabila—Surakarta)

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُولِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ

Sebelum saya menjawab pertanyaan Antum, saya perlu sampaikan bahwa Antum mesti banyak bersyukur kepada Allah atas harta yang Allah berikan kepada Antum. Tidak banyak muslim yang mendapat ujian kemudahan seperti Antum. Moga-moga Allah senantiasa membimbing Antum ke jalan yang diridhai-Nya.

Harta seseorang yang berupa rumah, tanah, kendaraan atau barang tidak wajib dizakati. Sama saja, apakah harta itu hasil usahanya sendiri ataukah pemberian orang lain—termasuk warisan. Kecuali jika harta itu dikelola sedemikian rupa sehingga berkembang, maka yang wajib dizakati adalah harta yang berupa uang dan usaha dagang.

Untuk kasus rumah warisan Antum, jika rumah tersebut dijadikan tempat usaha perdagangan, yang dizakati adalah barang dagangan ditambah uang tabungan dari hasil dagangan. Semua setelah dikurangi pengeluaran sehari-hari. Dalam istilah akuntansi disebut Aktiva Lancar. Nishab zakat perdagangan adalah 20 dinar = (20 x 4,25 gram = 85 gram emas). Maka, jika Aktiva Lancar usaha dagang Antum mencapai nilai 85 gram emas (dengan asumsi harga emas Rp. 500.000/ gram, nishab = Rp. 42.500.000). Adapun zakatnya 2,5 %. Zakat ini wajib dihitung dan dikeluarkan sekali dalam satu tahun kalender hijriyah. Jika sejak memulai usaha, modal yang Antum belanjakan untuk membeli barang sudah mencapai nishab, maka setahun kemudian Antum wajib mengeluarkan zakatnya. Antum tidak boleh menunda pembayarannya, bahkan—misalnya—menunggu datangnya bulan Ramadhan.

Demikian pula halnya jika rumah tersebut Antum kontrakkan, yang dizakati adalah hasilnya. Nishab dan zakatnya sama dengan nishab dan zakat usaha dagang. Wallahu A’lam.

Penulis : KH. Imtihan Asy Syafi’i

Sumber : Majalah An-najah Edisi 109 Rubrik Konsultasi Islam

Editor : Anwar