Cara Mensucikan Rumah Terkena Air Liur Anjing

Rumah terkena air liur anjing
Rumah terkena air liur anjing
Ilustrasi, Rumah terkena air liur anjing
Ilustrasi, Rumah terkena air liur anjing

An-najah.net – Saya bermaksud membeli rumah yang dijual oleh pemiliknya, satu keluarga nasrani. Keluarga ini memiliki beberapa ekor anjing yang kemungkinan besar anjing-anjing mereka sering masuk rumah dan air liurnya pun menempel di mana-mana. Bagaimanakah cara mensucikan rumah tersebut? Haruskan saya mencucinya tujuh kali dan salah satunya dicampur dengan tanah? Apakah pencucian itu juga harus dilakukan pada dinding-dinding yang diduga terkena air liur anjing? (Syafa—Magetan)

الْحَمْدُ لِلهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَ مَنْ واَلاَهُ

Jumhur ahli fiqh—yakni para ahli fiqh madzhab Hanafi, Syafi’i dan Hambali—berpendapat, air liur anjing itu najis yang apabila menempel pada suatu benda, maka cara mensucikannya adalah dengan mencucinya tujuh kali dan salah satunya dicampur dengan tanah. Perbedaan pendapat ini bermula dari perbedaan cara pandang mereka terhadap hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim berikut ini:

طُهُورُ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ إِذَا وَلَغَ فِيهِ الْكَلْبُ أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ أُولاَهُنَّ بِالتُّرَابِ

“Sucinya bejana salah seorang di antara kalian apabila anjing menjilatnya adalah dengan mencucinya tujuh kali dan yang pertama dengan tanah.” (HR. Muslim no. 279)

Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad memandang perintah untuk mencuci bejana yang dijilat anjing sampai tujuh kali dan yang pertama dengan tanah sebagai isyarat bahwa air liur anjing itu najis. Sebab, apabila tidak najis tentunya tidak perlu dicuci. Najis termasuk sesuatu yang bersifat kongkrit yang cara mensucikan benda-benda dari pengaruhnya adalah dengan mencucinya. Karena harus dicuci tujuh kali dan salah satunya dicampur dengan tanah itulah, para fuqaha menyebutnya dengan najis mughalladhah (najis yang berat).

Imam Malik bin Anas dan para pengikutnya punya pandangan yang berbeda. Menurut mereka, asal dalam penyucian najis adalah dicuci sampai hilang zat najisnya, berapapun jumlah cucian yang dibutuhkan. Jika najis sudah hilang dengan sekali siraman maka kesucian telah terhasilkan dan tak perlu disiram dengan air berulang kali. Lantaran kita diperintahkan untuk mencucinya sebanyak tujuh kali bahkan salah satunya harus dicampur dengan tanah, maka ini menunjukkan perintah mencuci di sini adalah ta’abbudi (murni penghambaan) dan bukan karena bejana tersebut menjadi najis. Sebab, sekiranya najis, maka mestinya sudah sah mencuci bejana kurang dari tujuh kali selama liurnya sudah hilang.

Hikmah Menggunakan Tanah

Air liur anjing mengandung virus berbentuk pita cair. Para ilmuwan membuktikan, virus yang dibawa oleh anjing sangatlah kecil dan lembut. Sebagaimana diketahui, semakin kecil ukuran mikroba, ia akan semakin efektif untuk menempel dan melekat pada dinding sebuah wadah. Ternyata, tanah yang dijadikan sebagai syarat sah mencuci bejana yang dijilat anjing berperan sebagai penyerap mikroba berikut virus-virusnya yang menempel dengan lembut pada bejana atau wadah. Menurut ilmu kedokteran modern, tanah diketahui mengandung dua materi yang dapat membunuh kuman-kuman, yakni tetracycline dan tetarolite. Dua unsur ini digunakan untuk proses pembasmian (sterilisasi) beberapa kuman. Eksperimen dan beberapa hipotesa menjelaskan bahwa tanah merupakan unsur yang efektif dalam membunuh kuman.

Kita juga bakal terkejut ketika mengetahui tanah kuburan orang yang meninggal karena sakit aneh dan keras, yang kita duga terdapat banyak kuman karena penyakitnya itu, ternyata para peneliti tidak menemukan bekas apapun dari kuman penyakit tersebut di dalam kandungan tanahnya. Menurut Muhammad Kamil Abdush Shamad, tanah mengandung unsur yang cukup kuat menghilangkan bibit-bibit penyakit dan kuman-kuman. Hal ini berdasarkan bahwa molekul-molekul yang terkandung di dalam tanah menyatu dengan kuman-kuman tersebut, sehingga mempermudah dalam proses sterilisasi kuman secara keseluruhan. Ini sebagaimana tanah juga mengandung materi-materi yang dapat mensterilkan bibit-bibit kuman tersebut.

Para dokter mengemukakan, kekuatan tanah dalam menghentikan reaksi air liur anjing dan virus-virus di dalamnya lebih besar karena perbedaan dalam daya tekan pada wilayah antara cairan (air liur anjing) dan tanah. Dr. Al-Isma’lawi Al-Muhajir mengatakan anjing dapat menularkan virus tocks characins. Virus ini dapat mengakibatkan kaburnya penglihatan dan kebutaan pada manusia.

Kemudahan yang Diberikan Islam

Sehubungan dengan rumah yang akan dibeli, para ulama menjelaskan bahwa hukum asal benda-benda yang ada di sekitar kita adalah suci, kecuali yang terbukti secara yakin terkontaminasi oleh najis. Sekedar dugaan air liur anjing yang menempel di mana-mana tidak membuat kita wajib mensucikannya tujuh kali dan salah satunya dicampur dengan tanah. Namun demikian, mengingat hikmah penyucian benda-benda yang terkontaminasi air liur anjing sebagaimana dijelaskan oleh para ilmuan, bersikap hati-hati dan mengharapkan bersihnya rumah yang kita tinggali dari berbagai kuman dan penyakit yang dibawa anjing, tentu lebih utama. Wallahu a’lam.

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 103 Rubrik Konsultasi Islam

Penulis : KH. Imtihan Syafi’i

Editor : Anwar