Akidah

Wajib Taat Kepada Pimpinan Kaum Muslimin Dalam Kebaikan

images (30)(An-najah) -Termasuk dari prinsip aqidah Salafush Shalih, Ahlus Sunnah wal Jama’ah: “Mereka berpendapat bahwa wajib taat kepada pimpinan Muslimin selama mereka tidak menyuruh kepada kemaksiatan. Jika mereka menyuruh kepada kemaksiatan, maka tidak boleh taat kepada mereka dan ketaatannya hanya berlaku dalam masalah kebaikan bukan kemaksiatan”.

Berdasarkan firman Allah Ta’ala, “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-(Nya) dan ulil amri di antara kamu : Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dna lebih baik akibatnya.” (An-Nisa’ : 59)

Dan juga berdasarkan sabda Rasulullah saw. “Barang siapa taat kepadaku, maka berarti ia telah taat kepada Allah, dan barang siapa mendurhakaiku, maka berarti ia telah durhaka kepada Allah. Barang siapa taat kepada pimpinannya, maka berarti ia telah taat kepadaku. Dan barang siapa yang durhaka kepada pimpinannya, maka berarti ia telah durhaka kepadaku.” (Muttafaq ‘alaih).[1]

Dan sabdanya, “Dengarkan dan taatilah (pimpinanmu)! Walaupun yang berkuasa atas kalian adalah seorang hamba Habasyi (kulit hitam); yang seakan-akan kepalanya seperti kismis.” (HR. Al-Bukhari).[2]
Sabdanya pula, “Engkau dengarkan dan taati pemimpin (mu)! Walaupun punggungmu dipukul dan hartamu dirampas, maka dengarkan dan taatilah!” (HR. Muslim)[3]

Dan sabdanya, “Barangsiapa benci kepada suatu (tindakan) dari pimpinannya, maka hendaknya ia bersabar. Karena sesungguhny atida seorang pun dari manusia yang keluar sejengkal saja dari pimpinannya kemudian ia mati dalam keadaan demikian melainkan dia mati dalam keadaan mati jahiliyah.” (HR. Muslim)[4]

Ahlus Sunnah wal Jama’ah berpandangan bahwa taat kepada Ulum Amri dalam kebaikan merupakan salah satu prinsip penting dalam ‘aqidah. Dan dari sinilah para ulama salaf memasukkannya dalam kategori masalah ‘aqidah. Dan hampir tidak ada buku-buku tentang aqidah yang tidak mencantumkan tentang hal ini, menerangkan dan menjelaskannya. Taat kepada Ulil Amri merupakan kewajiban bagi setiap muslim secara syar’i. Karena hal itu merupakan pondasi yang pokok dalam mewujudkan ketertiban dalam negara Islam.

Ahlus Sunnah wal Jama’ah berpandangan pula bahwa shalat (lima waktu), shalat Jum’at dan shalat Iedain (dua hari raya, Idul Fitri dan Idul Adha) dilakukan bersama para pemimpin, menyuruh yang ma’ruf dan mencegah yang munkar, jihad dan haji bersama mereka baik, mereka (Ulil Amri) itu orang baik maupun jahat. Dan mendo’akan [5] mereka dengan kebaikan dan istiqamah serta memberikan nasehat [6] kepada mereka jika zhahirnya baik.

Ahlus Sunnah mengharamkan keluar dari kepemimpinan mereka (memberontak) dengan pedang jika mereka berbuat dosa selain kekufuran. Hendaknya sabar jika terjadi hal tersebut, karena Nabi saw memerintahkan agar taat kepada mereka dalam hal selain maksiat, selama tidak melakukan kekufuran yang nyata. Mereka tidak boleh diperangi dalam kondisi ada fitnah, namun diperbolehkan untuk memerangi siapa yang hendak memecah belah persatuan ummat.

Nabi saw bersabda, “Sebaik-baik pemimpinmu adalah pemimpin yang kalian cintai dan mereka mencintai kalian; mereka mendo’akan kalian dan kalian mendo’akan mereka. Dan sejelek-jelek pemimpin kalian adalah pemimpin yang kalian benci dan mereka membenci kalian, yang kalian laknat dan mereka melaknat kalian.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bolehkah kami memerangi mereka dengan pedang?” Beliau menjawab, “Tidak, selama mereka mendirikan shalat. Dan jika kalian melihat dari pemimpin kalian sesuatu yang kalian tidak sukai, maka bencilah perbuatannya (saja); dan janganlah keluar dari ketaatan kepadanya.” (HR. Muslim). [7]

Nabi saw bersabda, “Sesungguhnya akan diangkat atas kalian pemimpin-pemimpin, maka ada yang kalian akui dan ingkari. Barang siapa membecinya maka ia telah terbebas. Dan barangsiapa mengingkari (perbuatannya) maka ia telah selamat, namun barangsiapa yang rela dan mengikutinya (maka tidak selamat).” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bolehkah kami memerangi mereka?” Beliau menjawab, “Tidak, selama mereka mendirikan shalat.”[8] (HR. Muslim).[9]

Adapun taat kepada mereka dalam kemaksiatan, maka tidak boleh; sebagai perwujudan dari Sunnah yang telah melarang hal tersebut. Nabi saw bersabda, “Bagi setiap orang muslim harus mendengar (ucapan) dan taat (perintah pimpinannya) baik yang dia sukai maupun dia benci; selama dia diperintah dengan maksiat. Jika diperintah (berbuat) kemaksiatan, maka tidak boleh mendengarkan maupun mentaatinya.” (HR. Al-Bukhari). [10]

Dan juga beliau bersabda, “Tiada ketaatan dalam bermaksiat kepada Allah; sesungguhnya ketaatan itu dalam kebaikan.” (Muttafaq ‘alaihi)[11]
Seorang pemimpin itu hendaknya bertakwa kepada Allah dalam memimpin rakyatnya, dan hendaknya dia tahu bahwa pemimpin adalah seorang yang dipekerjakan oleh Allah Ta’ala untuk mengurusi rakyatnya, melayani agama Allah dan syari’atnya serta melaksanakan hukum Nya secara umum maupun khusus. Dan hendaknya menjadi pemimpin yang kuat demi menegakkan (agama) Allah, dia tidak takut cacian dari orang yang mencaci, jujur terhadap rakyat, agama, darah, harta benda, kehormatan, keamanan, kemaslahatan dan akhlaknya. Tidak boleh balas dendam karena kepentingan dirinya semata, namun marahnya karena Allah Ta’ala.

Nabi saw bersabda, “Tiada seorang hamba yang diangkat oleh Allah untuk memimpin rakyatnya, kemudian dia wafat dan dalam keadaan menipu rakyatnya, melainkan Allah mengharamkan baginya (masuk) surga.” (HR. Muslim)[12]

Sumber: Diadaptasi dari Abdullah bin Abdul Hamid Al-Atsari, Al-Wajiiz fii Aqiidatis Salafis Shaalih (Ahlis Sunnah wal Jama’ah), atau Intisari Aqidah Ahlus Sunah wal Jama’ah), terj. Farid bin Muhammad Bathathy (Pustaka Imam Syafi’i, cet.I), hlm.189 -196.

Read More »Wajib Taat Kepada Pimpinan Kaum Muslimin Dalam Kebaikan