Character Assassination, Pembunuhan Karakter

Pembunuhan Karakter
Pembunuhan Karakter

An-Najah.net – Tertuduh belum tentu bersalah. Banyak tokoh dituduh dengan tuduhan ini dan itu. Ada yang dituduh dengan radikal, ekstrim, kolot dan teroris. Ini yang terjadi pada zaman now. Intinya sebenarnya satu pemisahan yang dituduh dari umat.

Upaya pembunuhan karakter, atau bahasa lebih kerennya adalah character assassination itu ternyata sudah terjadi sejak dahulu. Allah Swt yang maha tahu, memberi tahu kepada umat Islam. Agar umat ini senantiasa mengambil pelajaran dari peristiwa yang menimpa pada pejuang al haq ini.

Sudah menjadi sunnatullah, pertarungan antara al haq dan al batil terus berjalan. Salah satu strategi pejuang kebatilan untuk menjauhkan umat ini dari al haq adalah dengan membunuh karakter massenger pembawa pesan al haq.

Baca Juga : Berbagai Fitnah di Akhir Zaman

Pembunuhan Karakter Nabi

Kita semua mengenal dengan baik. Nabi kita Muhammad Saw, beliau seorang nabi yang dikenal sebagai al amin. Manusia yang berakhlak mulia, bahkan mendapatkan pengakuan dari al qur’an. Bahwa beliau itu berada diatas akhlak yang mulia.

Ternyata dalam perjalanan dakwahnya. Beliau tidak lepas pula dari upaya pembunuhanKarakter terhadap dirinya. Beliau dituduh sebagai pemecah belah bangsa arab, orang yang gila, tukang pembuat sya’ir, dukun.

Padahal faktanya beliaulah yang menyatukan jazirah arab menjadi umat yang satu. Dahulu mereka dikenal sebagai bangsa yang gemar berperang satu antara dengan yang lainnya. Seperti aus dan khajraj akhirnya mereka dipersaudara karena iman.

Rasulullah Saw bukanlah orang yang gila, akan tetapi orang yang berakhlak mulia. Gemar membantu sesama. Beliau bukanlah orang yang suka membuat sya’ir, bagaimana beliau membuat sya’ir padahal beliau adalah orang yang ummi, tidak bisa membaca dan menulis.

Al Qur’an itu bukanlah buatan nabi muhammad saw, akan tetapi al qur’an itu merupakan wahyu ilahi. Fungsinya sebagai pedoman hidup manusia dimuka bumi ini. Agar mereka mendapatkan kebahagian didunia hingga diakhirat nanti.

Baca Juga : Ujian Pewaris Nabi

Petunjuk Al Qur’an

Al Qur’an, Kitab suci umat Islam ini sudah memberikan pedoman bagaimana cara menghadapi upaya pembunuhan karakter pejuang al haq ini. Caranya adalah dengan mempelajari bagaimana etika menerima sebuah berita.

Saat ini dikenal sebagai zaman digital, berita cepat sekali menyebar. Orang mukmin adalah orang yang bijak. Haruslah mempunyai kepekaan dalam menerima sebuah berita.

Pertama, ketika kita mendapatkan berita itu. Dilihat dahulu dari manakah sumber berita ini. Apakah berita ini dibawa oleh orang yang bisa dipertanggung jawabkan atau orang yang fasiq.

Kedua, Budayakan tabayun untuk melakukan chen and richek kebenaran berita itu. Ketika menerima berita jangan ditelan mentah-mentah sehingga dengan begitu akan mudah terkena yang namanya berita hoax.

Baca Juga : Share Berita Hoax, Hati-hati dosa jari-jarimu

Kita haruslah waspada ketika menerima berita. Karena kehidupan ini bukan hanya didunia ini semata. Hati-hati  terhadap dosa-dosa dari jari-jari kita. Jangan langsung share ketika menerima berita yang belum jelas kebenarannya.

Akan tetapi akan ada kehidupan setelah kehidupan kita didunia. Semua tindak dan tanduk kita akan dimintai pertanggunjawaban oleh Allah yang maha kuasa. Tidak ada yang bisa lari dari kekuasaannya.

Nabi Muhammad Saw jauh-jauh hari sudah memberi tahu akan datangnya tahun-tahun penuh tipudaya. Ciri-ciri tahun itu adalah orang yang pendusta itu malah dipercaya. Sementara orang yang jujur itu malah didustakan.

Ini terjadi karena para pendusta telah melakukan manupilasi kebenaran. Mereka telah menghiasi  keburukan itu sehingga tampak sebagai kebenaran. Sedangkan kebenaran itu ditampakkan sebagai keburukan.

Tentu seorang mukmin yang cerdas. Untuk membongkar itu semua haruslah mempunyai ilmu dengan standar kebenaran itu adalah al qur’an dan as sunnah dengan pemahaman para salafush shalih. Dengan ilmu inilah kabut syubhat itu akan terbongkar.

Umat ini harus waspada upaya pembunuhan karakter terhadap tokoh-tokoh Islam. Kalau para ulama telah dijauhkan dari umat. Karakter mereka sudah dimatikan. Maka ketika mereka mendapatkan masalah maka akan merujuknya bukan kepada orang yang berilmu. Sehingga hasilnya adalah sesat dan menyesatkan.

Penulis : Miqdad Abdurrahman

Editor : Anwar