Browse By

Ciri dan Kriteria Ahlul Ahwa’

An-Najah.net   Pada edisi sebelumnya telah dibahas tentang sifat dan ciri ahlul ahwa’, tulisan kali ini akan melengkapi dan menyempurnakan pembahasan tentang ciri-ciri tersebut. Ahlul bid’ah dapat dikenali dari tanda-tanda yang lengkap dan nampak.

Dalam Al-Qur’an dan hadits, Allah dan Rasul-Nya telah mengabarkan tentang tanda-tanda mereka dan Para Salaf pun telah menjelaskannya. Berikut ini penjelasan tentang sebagian dari tanda ahlul ahwa’.

Pertama, Berpecah-Belah

Allah taala telah mengabarkan tentang mereka dalam Al-Qur’an. Allah Ta’ala berfirman, “Dan janganlah kalian menyerupai orang-orang yang berpecah dan berselisih setelah datang keterangan kepada mereka dan bagi mereka adzab yang besar.” (Ali-Imran: 105)

Allah juga berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka.” (Al-An’am: 159)

Allah mengutus nabi-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar agar memenangkannya atas semua agama. Syariatnya adalah satu yang tidak ada perselisihan dan perpecahan padanya. Barang siapa yang menyelisihi petunjuk rasul tersebut, merekalah golongan yang menyempal dan memecah belah agama seperti halnya pengikut hawa nafsu dan orang-orang sesat.

Ibnu Taimiyah menegaskan bahwa syi’ar ahli ahwa’ adalah perpecahan. Oleh karena itu al-Firqatun Najiah (golongan yang selamat) disifati dengan Ahlus Sunnah wal Jamaah, pengikut sunnah dan jamaah.

Kedua, Mengikuti Hawa Nafsu

Inilah sifat mereka yang paling jelas. Allah taala berkata mensifati mereka, “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilahnya (sesembahannya) dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya. (Al-Jatsiyah: 23)

Ibnu Katsir berkata, Yakni ia berjalan dengan hawa nafsunya. Patokan baik-buruknya ialah hawa nafsu. Apa yang menurut nafsunya baik, ia lakukan. Apa yang dilihatnya jelek, ia tinggalkan.

Ketiga, Mengikuti Ayat-Ayat Musytabihat

Sifat mereka ini telah Allah kabarkan dalam firman-Nya, “Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat (ayat-ayat yang samar) untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya.” (Ali-Imraan: 7)

Imam al-Bukhari meriwayatkan hadits dari Aisyah ia berkata, Rasulullah SAW membaca ayat ini, “Dialah yang menurunkan Al-Qur’an kepada kamu di antara isinya ada aya-ayat yang muhkamat. Itulah pokok-pkok isi ajaran Al-Qur’an dan yang lain ayat-ayat mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya.” Ia (‘Aa-isyah) berkata, Rasulullah berkata, Bila engkau melihat orang-orang yang mengikuti ayat-ayat mutashyabihat maka merekalah yang Allah namakan sebagai orang-orang yang harus dijauhi”. (HR. Bukhari Muslim)

Keempat, Tidak Berpegang dengan Madzhab Salaf

Syaikhul Islam berkata, Kelompok-kelompok bidah yang terkenal di kalangan Ahlus Sunnah wal Jamaah yang tidak menganut madzhab salaf antara lain kelompok Rafidhah, sampai orang awam tidak mengetahui syiar-syiar bid’ah kecuali rafdh (menolak kepemimpinan khulafaur rasyidin selain Ali).

Oleh karena itu dalam risalah yang ditujukan kepada Abdus bin Malik, Imam Ahmad berkata, Asas sunnah menurut kami adalah berpegang dengan apa yang dijalani sahabat Muhammad SAW.

Kelima, Memvonis Kafir Tanpa Bukti dan Hujjah Yang Nyata

Dalam banyak tempat Syaikhul Islam menyebutkan tentang bantahan terhadap orang yang menvonis orang yang masih belum jelas kekafirannya. Beliau berkata, orang-orang Khawarij, Mutazilah dan Rafidhah menvonis kafir Ahlus Sunnah wal Jamaah. Demikian juga mayoritas ahlul ahwa’ menvonis bid’ah dan kafir golongan yang menyelisihi mereka berdasarkan logika semata.

Sedangkan Ahlus Sunnah adalah golongan yang mengikuti kebenaran, mereka tidak menvonis kafir golongan yang menyelisihi mereka. Mereka adalah golongan yang paling tahu tentang kebenaran dan kondisi manusia.

Syaikh Abdul Lathif bin Abdur Rahman Alu Syaikh ditanya tentang orang yang menvonis kafir sebagian golongan yang menyelisihinya. Beliau menjawab, “Jawabannya, Saya tidak mengetahui sandaran ucapan itu. Berani memvonis kafir golongan lain yang menampakkan keislaman tanpa dasar syar’i dan keterangan yang akurat menyeilisihi manhaj para pakar ilmu agama dari kalangan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Jalan ini adalah jalannya ahlul bidah dan orang-orang sesat.”

Keenam, Meminta Pemimpin dan Penguasa Menghadang Para Pengikut Kebenaran

Hujjah dan madzhab ahlul bida’ah sebenarnya lemah. Tipu daya mereka juga sedikit. Karenanya mereka bersimbiosis dengan para pemimpin dan penguasa di dalam menolong dakwah mereka. Imam syathibi berkata, “Ahli bid’ah apabila dakwahnya tidak berhasil disambut oleh manusia, mereka berusaha bangkit dengan para pemimpin agar lebih memungkinkan untuk diterima. Maka dari itu, banyak orang yang masuk ke dalam dakwah ini karena kebanyakkan mereka jiwanya lemah.” (lihat Al-I’tisham, 1/220)

Bukanlah suatu hal yang asing bagi kita, apa yang telah dicatat oleh sejarah tentang cobaan yang dialami oleh Imam Ahmad bin Hanbal, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan Ahlul Haq seluruhnya pada setiap tempat dan zaman.

Imam Asy-Syathibi berkata, “Tidakkah kamu lihat ahwal (keadaan-keadaan) ahli bida’ah di zaman tabi’in dan setelahnya? Mereka bercampur dengan para penguasa dan berlindung kepada orang-orang berharta.” [Al-I’tisham karya Imam Asy-Syathibi (1/167)]

Ketujuh, Berlebih-Lebihan dalam Beribadah

Sebagian orang tertipu dengan ahli ahwa’ karena kezuhudan dan kekusyukan serta tangisan mereka. Padahal amalan mereka bukanlah parameter yang benar dalam mengetahui kebenaran.

Nabi SAW telah bersabda kepada para sahabatnya, menyebutkan sebahagian sifat ahli bid’ah;  Dalam sebuah hadis yang sahih: Abu Sa’id Al Khudriy RA berkata; “Ketika kami sedang bersama Rasulullah SAW yang sedang membagi-bagikan pembagian(harta), datang Dzul Khuwaishirah, seorang laki-laki dari Bani Tamim, lalu berkata; “Wahai Rasulullah, tolong engkau berlaku adil”. Maka beliau berkata: “Celaka kamu!. Siapa yang bisa berbuat adil kalau aku saja tidak bisa berbuat adil. Sungguh kamu telah mengalami keburukan dan kerugian jika aku tidak berbuat adil”. Kemudian ‘Umar berkata; “Wahai Rasulullah, izinkan aku untuk memenggal batang lehernya!. Beliau berkata: “Biarkanlah dia. Karena dia nanti akan memiliki teman-teman yang salah seorang dari kalian (para sahabat) memandang remeh shalatnya dibanding shalat mereka, puasanya (para sahabat) dibanding puasa mereka. Mereka membaca Al Qur’an namun tidak sampai ke tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama seperti melesatnya anak panah dari target (hewan buruan) “ [Muttafaq ‘alaih] (Akrom Asy-Syahid)

[Dinukil dari buku Mauqif Ahlus Sunnah wal Jama’ah min Ahlil Ahwa wal Bid’ah karya Dr. Ibrahim Ruhaily]

Dimuat kembali dari majalah An-Najah Edisi 104, Juli 2014. Rubrik Dirasatul Firaq

Editor: Sahlan Ahmad

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *