Ciri Generasi Yang Buruk, Meninggalkan Shalat

rajin-shalat
rajin-shalat

An-Najah.net – Hendaklah sebagai seorang muqimuddin takut kalau seandainya meninggalkan generasi dibelakang mereka sebuah generasi yang buruk. Anak turun kita itulah yang kelak akan melanjutkan estafet perjuangan Islam ini. Tapi apa jadinya kalau generasi yang diidam-idamkan itu malah tidak baik.

Al Qur’an sebuah kitab yang menjadi petunjuk bagi seorang muslim. Telah memberikan arahan dan penjelasan seperti apakah generasi yang buruk itu. Dan semoga sifat dan karakter yang buruk ini tidak terdapat pada anak turun kita.

Allah Swt berfirman :

“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka kelak mereka akan menemui kesesatan. Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan beramal shaleh. (Maryam : 59 -60)

Ibnu Abbas berkata, “Makna menyia-nyiakan shalat bukanlah meninggalkannya sama sekali. Tetapi mengakhirkannya dari waktu yang seharusnya.”

Sedangkan menurut Imam para Tabi’in, Said bin Musayyib berkata, “Maksudnya adalah orang itu tidak mengerjakan shalat Zhuhur sehingga datang waktu Ashar. Tidak mengerjakan shalat Ashar sehingga datang Maghrib. Tidak shalat Maghrib sampai datang Isya’. Tidak shalat Isya’ sampai fajar menjelang. Tidak shalat Subuh sampai matahari terbit. Barangsiapa mati dalam keadaan terus menerus melakukan hal ini dan tidak bertaubat, Allah Menjajikan baginya ‘Ghayy’ yaitu lembah di neraka Jahannam yang sangat dalam dasarnya lagi sangat tidak enak rasanya”.

Di Surat yang lain Allah Swt berfirman :

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang shalat, (yaitu) orang-orang yang lupa akan shalatnya. (Al Maa’uun : 4 – 5)

Dalam kitab Al Kabair karya Imam Adz Dzahabi dikatakan orang-orang yang lupa adalah orang-orang yang lalai dan meremehkan shalat.

Sa’ad bin Abi Waqqash berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah Saw tentang orang-orang yang lupa akan shalatnya. Beliau menjawab yaitu orang-orang yang suka mengakhirkan waktunya.”

Orang yang suka meremehkan shalat diancam Allah Swt dengan ‘Wail’ adzab yang berat. Ada juga yang mengatakan bahwa Wail adalah sebuah lembah di neraka Jahannam, jika gunung-gunung yang ada di dunia ini dimasukkan ke sana niscaya akan melelehlah semua karana sangat panasnya. Itulah tempat bagi orang-orang yang meremehkan shalat dan mengakhirkannya dari waktunya. Kecuali orang-orang yang bertaubat kepada Allah Swt dan menyesal atas kelalaiannya.

Umar bin Khattab juga mengatakan shalat adalah barometer orang baik atau tidak. Kalau kita ingin mengetahui anak itu baik atau tidak silahkan lihat interaksi mereka dengan shalat. Lahirnya anak-anak yang shaleh tidaklah instan. Akan tetapi melalui sebuah proses.

Bahkan, karena shalat ini merupakan perkara penting dalam islam.Ia merupakan tiangnya islam. Kalau shalatnya tegak maka akan tegak agamanya. Akan tetapi kalau shalatnya rusak maka akan rusak pula agamanya.

Rasulullah Saw memperhatikan betul terkait tarbiyah bagaimana anak-anak ini agar bisa menegakkan shalat. Rasulullah Saw mengajari kita dengan metode pembiasaan. Karena ada sebuah istilah “Ala bisa karena biasa”. Anak itu diperintahkan untuk shalat sejak umur 7 tahun. Baru boleh dipukul ketika berumur 10 tahun.

Padahal rentah waktu antara umur 7 sampai 10 itu ada 3 tahun. Kemudian dalam satu tahun itu ada 365 hari. Dalam satu hari itu anak diperintahkan untuk shalat 5 kali. Jadi kita suruh memerintahkan anak biar terbiasa untuk shalat itu sebanyak 5475 kali. Dari mana kok bisa ketemu 5475 itu. Ini diperoleh dari 3 x 5 x 365 = 5475 kali. Sungguh luar biasa perhatian islam terhadap ibadah yang satu ini.

Ditulis : Anwar Ihsanuddin S.Pd

Editor : Abu Khalid