Ciri Khas Bid’ah

ciri khas bidah

An-Najah.net – Bidah, polemik umat yang tak kunjung reda. Dalam mendefinisikan bidah, para ulama memang berbeda-beda dalam membahasakannya. Hanya saja, semuanya tetap memiliki kesamaan substansi.

Baca juga: Bijak Dalam Perkara Bidah

Agar mempermudah dalam menyimpulkan perkara bidah. Setidaknya ada beberapa ciri khas bidah yang disimpulkan oleh beberapa ulama. Yaitu:

Pertama: Memang tidak ada dalil khusus yang melarang bidah berbentuk. Tetapi larangannya bersifat umum, menggunakan dalil umum. Seperti; tidak ada larangan khusus tentang tawaf di kuburan, atau zikir dengan gitar. Tetapi itu masuk dalam larangan hadis umum. Seperti sabda Rasulullah Saw:

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Jauhilah dengan perkara (agama) yang diada-adakan karena setiap perkara (agama) yang diada-adakan adalah bidah dan setiap bidah adalah kesesatan” (HR. At Tirmidzi no. 2676)

Kedua: Umumnya bidah tidak dilarang kecuali karena bertentangan dengan tujuan syariat Islam (maqashidusy syari’ah). Tidak ada bidah yang selaras atau mendukung pelaksanaan maqashidusy syari’ah. Pasti bertentangan atau menghancurkan maqashidusy syari’ah.

Ketiga: Umumnya bidah terjadi pada perbuatan-perbuatan yang belum pernah ada pada zaman Nabi Muhammad Saw atau pada zaman para sahabat Rasulullah Saw. Imam Ibnu al-Jauziy berkata, “Bidah adalah ungkapan untuk menjelaskan tentang perbuatan yang belum pernah ada (pada zaman Nabi Saw) kemudian diadakan sesudahnya.” (Jamaluddin Ibnul Jauzi, Talbis Iblis,cet I, hlm. 17)

Jika pernah ada pada zaman Nabi Muhammad Saw, lalu beliau meninggalkannya, karena alasan-alasan tertentu. Maka, jika diadakan sepeninggal beliau, perbuatan ini tidak dikategorikan bidah.

Contohnya, Rasulullah Saw pernah melaksanakan shalat tarawih berjamaah. Imam Al-Bukhari dan Muslim dalam Shahihain meriwayatkan hadis dari Aisyah bahwa pada suatu malam di bulan Ramadhan, Rasulullah Saw keluar menuju masjid untuk mendirikan shalat malam. Lalu datanglah beberapa sahabat dan bermakmum di belakang beliau.

Baca juga: Hukum Shalat Orang Mukim Di Belakang Musafir

Ketika subuh tiba, orang-orang berbincang-bincang mengenai hal tersebut. Pada malam selanjutnya, jumlah jamaah semakin bertambah daripada sebelumnya. Demikianlah seterusnya pada malam berikutnya. Hal itu berlanjut hingga tiga malam.

Pada malam keempat, masjid menjadi sesak dan tak mampu menampung seluruh jamaah. Namun Rasulullah Saw tak kunjung keluar dari kamarnya. Hingga fajar menyingsing, Rasulullah Saw baru keluar untuk menunaikan shalat Subuh. Selepas itu beliau berkhotbah, “Amma Ba’d. Saya telah mengetahui kejadian semalam. Akan tetapi saya khawatir shalat itu akan diwajibkan atas kalian sehingga kalian tidak mampu melakukannya.”

Untuk selanjutnya shalat Tarawih tidak dikerjakan secara berjamaah. Kondisi seperti ini berjalan hingga Rasulullah Saw wafat, masa pemerintahan khalifah Abu Bakar dan awal pemerintahan Umar bin Khattab.

Barulah setelah berjalan beberapa waktu, khalifah Umar bin Al-Khattab, memerintahkan agar shalat Tarawih dikerjakan secara berjamaah.

Baca juga: Sosok Figur Pemimpin Umar bin Khattab

Ini tidak termasuk bidah karena pernah dikerjakan oleh Nabi Muhammad Saw. Dan beliau Rasulullah Saw meninggalkannya khawatir shalat Tarawih tersebut diwajibkan.

Dalam hadis muttafaqun’alihi disebutkan, bahwa ibunda Aisyah berkata,

إِنْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيَدَعُ الْعَمَلَ وَهُوَ يُحِبُّ أَنْ يَعْمَلَ بِهِ خَشْيَةَ أَنْ يَعْمَلَ بِهِ النَّاسُ فَيُفْرَضَ عَلَيْهِمْ

Jika Rasulullah Saw meninggalkan suatu amalan padahal beliau senang melaksanakannya, hal itu karena khawatir orang-orang ikut melaksanakan, dan akhirnya diwajibkan kepada mereka.” (HR. Bukhari, no. 1060 dan Muslim, no. 1174)

Keempat: Biasanya bidah selalu dicampuri dengan sebagian perkara-perkara yang disyariatkan. Jarang sekali yang berdiri sendiri. Seperti, ibadah zikir, ini disyariatkan, lalu dicampur dengan qosidah-qosidah shufi yang menyimpang, ditambah dengan alat-alat musik, sehingga berubah menjadi bidah.

Berikut sekilas gambaran ciri-ciri khas bidah yang bisa kami paparkan. Mudah-mudahan yang sedikit ini bisa menambah wawasan dan bermanfaat di kemudian harinya. Wallahu Ta’ala ‘Alam

Sumber            : Majalah An-Najah, edisi 148, hal. 17

Penulis             : Akrom Syahid

Editor               : Ibnu Jihad