Cut Nyak Din, Istri Ideologis

Perang Aceh Melawan Kekuatan Kafir
Perang Aceh Melawan Kekuatan Kafir
Perang Aceh Melawan Kekuatan Kafir
Perang Aceh Melawan Kekuatan Kafir

An-Najah.net – Siapa yang tidak kenal dengan Cut Nyak Din. Ia adalah mujahidah dari tanah rencong Aceh. Awal mula kepahlawanan Cut Nyak Din ketika menghadapi penjajah Belanda. Perang Aceh meletus tahun 1873.

Sebagai seorang istri, Cut Nyak Din benar-benar melaksanakan fungsinya sebagai istri ideologis. Meskipun ia jarang berkumpul dengan suaminya. Cut Nyak Din mengikhlaskan keterlibatan suaminya dalam peperangan, bahkan menjadi pendorong dan pembakar semangat juang suaminya.

Ketika menimang sang buah hati ia menyanyikan syair-syair yang membangkitkan semagat perjuangan. Ketika sesekali suaminya pulang kerumah, yang dibicarakan dan ditanyakan Cut Nyak Din tidak lain hanya hal-hal yang berkaitan dengan perlawanan terhadap kaum kafir Belanda.

Bertahun-tahun peperangan Aceh kian berkecamuk. Karena keunggulan dalam hal persenjataan dan adanya penghianatan, satu per satu benteng pertahanan mujahidin Aceh berjatuhan. Karena terdesak Cut Nyak Din beserta keluarganya terpaksa mengungsi.

Pada sebuah pertempuran di Sela Glee Tarun, Teuku Ibrahim Lamnga gugur. Meski kematian suaminya menimbulkan kesedihan yang dalam bagi Cut Nyak Din, tapi tidak membuatnya murung dan mengurung diri. Sebaliknya semangat juangnya kian berkobar.

Sebagai seorang janda yang masih muda dengan seorang anak, ia tetap ikut bergerilya melawan penjajah kafir Belanda. Bahkan menurut orang yang dekat dengannya, Cut Nyak Din pernah bersumpah bahwa ia tidak akan menikah lagi kecuali dengan seorang lelaki yang turut membantunya melawan Belanda.

Akhirnya ia memutuskan untuk menikah dengan Teuku Umar, pasca kematian suami yang pertama. Teuku Umar benar-benar membuktikan kecintaannya kepada jihad untuk melawan Belanda. Sehingga suami Cut Nyak din yang kedua juga gugur  menjadi syuhada di medan perjuangan.

Banyak hal yang bisa menjadi inspirasi dari kisah perjalan hidup Cut Nyak Din. Salah satunya adalah seorang istri tidak hanya menjadi istri biologis semata, tapi juga menjadi istri idiologis. Hendaklah seorang mampu memberikan semangat bagi suaminya untuk tetap teguh di jalan iqomatuddin.

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 126 Rubrik Jelajah

Penulis : Anwar

Editor : Ihsan