Dahsyatnya Fitnah Akhir Zaman

Dahsyatnya Fitnah Akhir Zaman
Dahsyatnya Fitnah Akhir Zaman
Dahsyatnya Fitnah Akhir Zaman
Dahsyatnya Fitnah Akhir Zaman

An-Najah.net – Fitnah akhir zaman itu sangat dahsyat. Rasulullah SAW mengabarkan, karena begitu dahsyatnya fitnah itu membuat seseorang kafir, dan juga bisa membuat seseorang mengangan-angankan kematian.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda:

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَمُرَّ الرَّجُلُ بِقَبْرِ الرَّجُلِ فَيَقُولُ يَا لَيْتَنِي مَكَانَهُ.

“Tidak akan tiba hari Kiamat hingga seseorang melewati kubur seseorang, lalu dia berkata, ‘Andaikata aku ada di tempatnya”(HR. Bukhari).

Diriwayatkan pula dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, beliau berkata, “Rasulullah SAW bersabda:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لاَ تَذْهَبُ الدُّنْيَا حَتَّى يَمُرَّ الرَّجُلُ عَلَى الْقَبْرِ فَيَتَمَرَّغُ عَلَيْهِ، وَيَقُولُ يَا لَيْتَنِي كُنْتُ مَكَانَ صَاحِبِ هَذَا الْقَبْرِ وَلَيْسَ بِهِ الدِّيْنُ إِلاَّ الْبَلاَءُ.

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, dunia ini tidak akan lenyap hingga seseorang melewati kuburan, lalu ia berhenti padanya, dan berkata, ‘Andaikata aku berada di tempat penghuni kuburan ini,’ (dia mengatakannya) bukan karena agama tetapi karena dahsyatnya cobaan.” (HR. Muslim)

Mengharapkan kematian terjadi ketika banyaknya fitnah, berubahnya keadaan dan ketika ajaran-ajaran syari’at banyak diselewengkan. Hal ini jika memang belum terjadi, namun Rasulullah SAW telah menubuwatkan kondisi itu pasti terjadi.

Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata, “Akan datang kepada kalian suatu zaman, di mana jika salah seorang di antara kalian mendapati, seandainya kematian bisa dijual, niscaya dia akan membelinya, sebagaimana dikatakan:

وَهذَا الْعَيْشُ مَا لاَ خَيْرَ فِيْهِ أَلاَ مَوْتٌ يُبَاعُ فَأَشْتَرِيْهِ.

“Tidak ada kebaikan pada kehidupan ini, adakah kematian yang dijual sehingga aku dapat membelinya.” (Faidhul Qodir, 4/418)

Al-Hafizh al-‘Iraqi RHM berkata, “Hal itu tidak mesti terjadi pada setiap negeri, tidak juga pada segenap zaman, atau pada setiap manusia, bahkan bisa saja terjadi untuk sebagian orang di sebagian negeri pada sebagian zaman.

Menggantungkan harapan untuk mati dengan melewati kuburan mengandung isyarat akan besarnya kerusakan manusia saat itu. Karena terkadang seseorang mengharapkan kematian ketika dia tidak membayangkan kematian tersebut.

Jika dia menyaksikan orang mati dan melihat kuburan, secara otomatis tabiatnya akan lari dari mengharapkan kematian. Akan tetapi, karena besarnya malapetaka (yang dirasakan saat itu), segala hal yang ia saksikan berupa seramnya keadaan kuburan tidak menjadikan dirinya berpaling darinya.

Hal ini sama sekali tidak bertentangan dengan larangan mengharapkan kematian. Karena, makna hadits ini hanya sebagai kabar terhadap sesuatu yang akan terjadi, di dalamnya sama sekali tidak ada pertentangan dengan hukum syar’i mengenai (larangan ini).” (Faidhul Qodir, 4/418)

Nabi SAW mengabarkan akan terjadi kesengsaraan dan kepedihan yang menimpa manusia, sehingga mereka mengharapkan kedatangan Dajjal. Dijelaskan dalam sebuah hadits dari Hudzaifah Radhiyallahu anhu, dia berkata, Rasulullah SAW bersabda:

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ يَتَمَنَّوْنَ فِيْهِ الدَّجَّالَ، قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ! بِأَبِيْ وَأُمِّيْ مِمَّ ذَاكَ؟ قَالَ: مِمَّا يَلْقَوْنَ مِنَ الْعَنَاءِ وَالْعَنَاءِ.

‘Akan datang kepada manusia satu zaman di mana mereka mengharapkan (kedatangan) Dajjal.” Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, ayah dan ibuku sebagai tebusan, (karena apa) hal itu terjadi?” Beliau menjawab, “Karena kepedihan dan kepedihan yang mereka rasakan.” (HR. Thabrani)

 

Sumber : majalah An-najah Edisi 124 Rubrik Tema Utama

Penulis : Akram Syahid

Editor : Helmi Alfian