Adab Mujahid Terhadap Dirinya

Adab mujahid terhadap dirinya
Adab mujahid terhadap dirinya

Menjadi mujahid merupakan kedudukan yang mulia di dalam Islam. Karena jihad itu merupakan puncaknya amalan. Dengan jihad akan bisa menghilangkan kedzaliman dan mengangkat izzah Islam.

Akan tetapi, seorang mujahid harus senantiasa menghiasi dirinya dengan adab. Dengan adab ini mereka akan dicintai oleh kawan dan disegani oleh lawan.

Ada sebuah pertanyaan. Bagaimana adab mujahid kepada dirinya sendiri. Abdul Baqi Ramdhun, Kitab Jihad Sabiluna telah menjelaskan adab mujahid kepada dirinya sendiri.

Pertama, Tazkiyah, (mensucikan diri)

Tazkiyah adalah mensucikan diri dari dosa, kesalahan dan maksiat dengan jalan bertaubat dari perbuatan dosa yang telah dilakukan. Diganti dengan mengerjakan perbuatan-perbuatan baik yang dapat menghapus perbuatan-perbuatan buruk. Serta menjauhi perbuatan maksiat dan tempat-tempat yang menggelincirkan kepada perbuatan maksiat.

Baca juga: Jangan Kau Tunda Kemenangan Dengan Maksiatmu

Disamping itu juga, seorang mujahid juga harus bermujahadah dalam mengingkatkan nafs. Dari ‘Ammarah bis suu’ (nafsu yang menyeru kepada kejahatan) menjadi Nafsul Lawwaamah (nafsu yang menyesali terhadap perbuatan buruk). Kemudian menjadi Nafsul Muthma’innah (nafsu yang tenang).

Allah Ta’ala berfirman :

Dan demi jiwa serta penyempurnaannya. Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya. Sungguh amat beruntunglah orang yang mensucikannya. Dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya. (Qs. Asy Syamsy : 7 – 10)

Rasulullah Saw bersabda :

الْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي سَبِيْلِ اللهِ

Mujahid itu adalah orang yang berjihad (melawan) nafsunya karena Allah” (HR. At Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Kedua, Tahalliyah (berhias)

Tahalliyah adalah berhias, memperbagus dan memperelok diri dengan perbuatan-perbuatan baik dan terpuji. Serta bersegera dan berlomba-lomba dalam mengerjakannya dan memperbanyak bekal taqwa.

Baca juga: Sinergi dan Singkronisasi Dalam Amal Iqamatuddin

Allah Ta’ala berfirman :

Kemudian kami wariskan kita itu kepada orang-orang yang kami pilih diantara hamba-hamba kami, lalu diantara mereka ada yang mendzalimi diri mereka sendiri, dan diantara mereka ada yang pertengahan, dan diantara mereka da yang paling dahulu berbuat kebaikan dengan idzin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.” (Qs. Faathir : 32)

Ketiga, Takhalliyah

Takhalliyah adalah mengosongkan hati dari kecintaan terhadap dunia, cenderung kepadanya, tamak terhadapnya dan mencintai keelokannya. Akan tetapi mereka menjadikan akhirat sebagai orientasi hidupnya. Mereka menjadikan apa yang ada didunia ini adalah sarana bukan tujuan hidupnya.

Baca juga: Kekalkan Cintamu Kepada Allah

Allah Ta’ala berfirman :

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang membersihkan diri dan dia mengingat nama Rabbnya, lalu dia shalat. Tetapi kalian (orang-orang kafir) lebih mengutamakan kehidupan duniawi, sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (Qs. Al A’laa : 14 – 17)

Sumber : Abdul Baqi Ramdhun, Jihad Sabiluna, Jihad Jalan Kami. Halaman  188 – 189

Penulis  : Abu Mazaya

Edirot    : Ibnu Alatas