Kesempurnaan Akal

kesempurnaan akal
kesempurnaan akal

Saat seseorang mendapati teman yang selalu memberi kritik membangun, dan ia senang dengan hal itu, petanda kesempurnaan akal.

Sebaliknya, pada saat ia dikritik ia tidak mau menerima, itu artinya ia menganggap pendapatnya yang terbaik, ingin menang sendiri, egois, selalu mencari kesalahan orang lain dan selalu hendak menjadi nomor satu, meskipun ia tak layak.

Baca juga: Hilangnya Etika Beda Pendapat, Menandakan Kedunguannya

Seharusnya, pendapat dari siapapun tidak boleh dipandang sebelah mata, harusnya dipikir masak-masak, ambil yang baik dan tinggalkan selainnya. Orang lainlah yang lebih bisa meneliti diri kita ketimbang diri kita sendiri.

Ibnu al-Jauzi berkata, “Di antara ciri-ciri kesempurnaan akal ialah semangat yang tinggi. Sedangkan, yang rela dengan yang berjiwa rendah. Tak kulihat cela manusia yang lebih besar daripada mereka yang tak mampu menjadi sempurna yang dicintai Allah Ta’ala dan mencintai-Nya.

Mahasuci Allah Ta’ala yang cinta-Nya mendahului cinta pada hamba-Nya. Dia memuji mereka, padahal Dia-lah yang memberikan segalanya. Dia memberi sesuatu dari mereka, padahal Dia pula yang mengaruniakannya. Dia pula yang mengutamakan mereka karena sifat-sifat baiknya.

Allah Ta’ala menyukai para hamba-Nya yang berpuasa. Dia bangga dengan bau mulutnya. Duhai, betapa banyaknya mereka yang tak sampai ke sana. Betapa banyak mereka yang tak mencapai sifat-sifatnya”.

Sumber    : Ibnu al-Jauzi, Shaidul Khatir, Maghfirah Pustaka: cet. VI, hal. 4

Editor      : Ibnu Alatas