Dalam Bersafar, Mengqoshor Lebih Baik Daripada Itmam

shalat safar
shalat safar

An-Najah.net – Islam itu mudah. Islam datang sebagai rahmat bagi seluruh alam. Seluk beluk ‎kehidupan manusia terkhususnya orang Muslim telah diatur di dalamnya. Begitu juga dalam ‎urusan bepergian Islam telah mengaturnya.‎

Maka, jika ada pertanyaan mana yang lebih utama antara meng-qoshor atau itmam ketika ‎bersafar? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, perlu diketahui bahwa, qoshor dalam ajaran ‎islam adalah rukhsah (keringanan) dan Allah Ta’ala lebih suka jika keringanan tersebut diabmil ‎oleh hamba-Nya. Sebagaimana hadits Abdullah bin Umar, ia berkata, Rasulullah Saw bersabda, ‎‎”Sesungguhnya Allah Ta’ala suka rukhshah-Nya dilaksanakan sebagaimana Dia Membenci ‎kemaksiatan kepada-Nya dilakukan.” ‎(HR. Ahmad: 5873)‎

Dalam riwayat lain, “Sesungguhnya Allah Ta’ala suka rukhshah-Nya dilaksanakan sebagaimana ‎Dia suka ‘azimah-Nya dilaksanakan. (HR. Ibnu Hibban: 354)‎

Akan tetapi, jika seorang musafir menyempurnakan shalat ruba’iyyah (shalat yang rakaatnya ‎empat rakaat) maka, shalatnya tetap sah. Sebagaimana yang dilakukan Utsman bin Afwan, beliau ‎menyempurnakan shalatnya ketika berada di Mina. Ketika itu Ibnu Mas’ud berkomentar, “Inna ‎lillahi wa inna ilaihi raji’un, aku shalat bersama Nabi di Mina dua rakaat, bersama Abu Bakr di ‎Mina dua rakaat, bersama Umar bin Khattab dua rakaat. Andaikata bagianku dari empat rakat, ‎dua rakaat yang diterima (oleh Allah Ta’ala). (HR. Al-Bukhari: 1084)‎

Begitu juga Siti Aisyah sepeninggal Nabi Muhammad Saw. Beliau menyempurnakan shalatnya ‎jika melakukan safar. Sebagaimana perkataan az-Zuhri kepada ‘Urwah, tidaklah ‘Aisyah meng-‎qoshor shalatnya ketika bersafar, melainkan beliau mengikuti Utsman bin Afwan yang ‎menyempurnakan shalatnya. (HR. Muslim: 3 – 685)‎

Meski demikian perbuatan Utsaman dan ‘Aisyah yang beritmam (menyempurnakan jumlah rakaat ‎shalatnya) bukan melakukan sesuatu yang lebih afdhol, karena kebiasaan Nabi Muhammad Saw ‎dalam safar yang senantiasa meng-qashar shalatnya. ‎

Syaikh Sa’id bin Wahf al-Qothoni menukil perkataan syaikh bin bazz yang berbunyi, “Pada ‎dasarnya shalat itu dua rakaat saja, sebagaimana yang Allah Ta’ala wajibkan, kemudian setelah ‎Nabi Muhammad Saw hijrah Allah Ta’ala menambahkan dua rakaat untuk shalat di saat mukim ‎menjadi empat rakaat, yaitu pada shalat Isya’, Dzuhur dan Ashar. Sedangkan untuk shalat di saat ‎safar, jumlah rakaatnya tetap dua rakaat. ‎

lni berlaku pada shalat Dzuhur, Ashar dan lsya. lni menegaskan, bahwa aslinya jumlah rakaat ‎shalat adalah seperti itu. Adapun Maghrib dan Subuh, keduanya tetap sesuai jumlah rakaat ‎aslinya. ]adi, qashar adalah sunnah mu’akkadah. ‎

Namun, jika seorang musafir menyempurnakan shalatnya pun tidak masalah, sebab Aisyah & ‎menyempurnakan shalat ketika safar, ia bertakwil bahwa hal itu tidak memberatkan dirinya, dan ‎tidak ada satupun sahabat yang mengingkari perbuatannya sedangkan dia termasuk salah satu ‎manusia paling berilmu. (Sa’id bin Wahf al-Qothoni, Fikih Shalat Musafir, (Pustaka Al-Baro’ah, ‎cet. I, hal. 32). Wallahu ‘alam

Penulis: Ibnu Jihad

Editor  : Ibnu Alatas