Dari Darul Arqam Dakwah Islam Bermula

Ilustrasi, Dakwah di Darul Arqam
Ilustrasi, Dakwah di Darul Arqam

An-Najah-net – Hari itu Rasulullah SAW berkumpul dengan para sahabatnya di Darul Arqam. Rumah di atas bukit Shofa itu cukup ramai. Hadirin berjumlah kurang lebih 38 pria. Di tengah perbincangan, Abu Bakar berdiri mengutarakan maksudnya berdakwah secara terang-terangan. Para sahabat kaget, belum pernah ada orang yang berani melakukan hal itu sebelumnya.

Awalnya Rasulullah SAW mencegah. Namun, setelah melihat tekad Abu Bakar begitu kuat, beliau mengizinkan.

Abu Bakar lalu turun menuju Ka’bah. Dengan suara lantang ia menyeru kaum musyrikin Makkah beriman kepada Rasulullah SAW. Seperti yang diprediksi sebelumnya, orang-orang musyrik langsung kalap dan emosi. Mereka menghajar Abu Bakar beramai-ramai. Abu Bakar jatuh tersungkur. Massa semakin beringas memuntahkan amarah. Hingga akhirnya beberapa orang Bani Tamim maju melerai.

Abu Bakar ditandu pulang dalam kondisi tidak sadar. Wajahnya bengkak dan bersimbah darah hingga tidak dikenali lagi. Keluarganya mengira ia telah sekarat.

Baca Juga : Dakwah Kalimat Tauhid Kunci Kejayaan Islam

Ia baru sadar setelah hari menjelang petang. “Bagaimana kabar Rasulullah SAW?” kalimat pertama yang keluar dari lisan Abu Bakar setelah sadar. Tak satu pun keluarganya yang tahu. Abu Bakar terus mencemaskan Rasulullah SAW, sehingga Ummu Jamil datang menenangkannya.

Setelah hari mulai gelap dan kondisi lebih tenang, Abu Bakar dipapah ke Darul Arqam. Rasulullah SAW memeluk haru Abu Bakar dan mencium kepalanya. Satu persatu para sahabat memeluknya dengan penuh rasa bangga.

Rasulullah SAW dan para sahabatnya, termasuk Abu Bakar, memutuskan untuk bersembunyi di Darul Arqam. Mereka mengamankan diri hingga sebulan lamanya. Pada kesempatan itu Rasulullah SAW berdoa agar Allah memberi hidayah kepada orang terbaik dari dua jagoan Makkah; Umar bin Khattab atau Amru bin Hisyam alias Abu Jahal. Satu dari dua orang itu dapat menjadi benteng yang melindungi umat beliau yang terus dizalimi.

Doa tersebut dipanjatkan pada hari Rabu. Hari berikutnya, seorang pria gagah mengetuk pintu Darul Arqam. Ia datang bukan menantang duel, namun untuk memeluk Islam. Pria itu bernama Umar bin Khattab.

Baca Juga : Intisari Dakwah Rasulullah Saw

Fragmen sejarah tentang permulaan dakwah Rasulullah SAW di Makkah ini memberi banyak pelajaran. Antara lain;

Pertama, karakter dakwah yang fleksibel

Rasulullah SAW memikul amanat dakwah begitu berat. Memulai dari nol di tengah komunitas yang mayoritasnya menolak. Juga tanpa fasilitas yang wah. Hanya mukjizat dan wahyu yang menjadi bekalnya.

Untuk itu Rasulullah SAW menggunakan strategi dakwah sirriyah atau berdakwah secara privat. Sejak awal beliau sadar risiko dari mendakwahkan Islam. Kondisi saat itu juga tidak memungkinkan untuk berdakwah secara terang-terangan. Daripada bibit dakwah dibabat sebelum sempat bersemi, Rasulullah SAW memilih berdakwah pelan tapi pasti.

Fakta sirah nabawiyah ini dapat menjadi inspirasi untuk sebagian kaum muslimin yang tertindas. Seperti di Xinjiang, Arakan, Iran hingga Afrika tengah. Di wilayah tersebut kaum muslimin tidak hanya minoritas, namun hidup di bawah ancaman dan intimidasi. Karena itu, fikih yang mereka praktikkan adalah fiqih dharurat, dakwah pun tidak dengan cara konvensional, bahkan lebih banyak dilakukan dengan sirriyah.

Baca Juga : Keluarga Dakwah, Basis kekuatan umat

Kedua, kader sebagai aset Islam

Tidak dipungkiri bahwa aspek fisik seperti bangunan, dana dan sarana sangat urgen bagi kelangsungan dakwah. Namun, harus disadari bahwa aset paling penting dalam perjuangan Islam adalah kader. Kader atau sumber daya manusia.

Inilah yang Rasulullah SAW bangun ketika di Makkah dan Madinah. Beliau fokus merekrut para para sahabat dari berbagai kalangan untuk menjadi kader. Bukan sekadar pendengar atau penikmat materi dakwah.

Rasulullah SAW membidik mad’u yang mewakili bidang-bidang spesifik. Dari kalangan anak muda dengan merekrut Ali bin Abi Thalib. Dari kalangan pedagang terdapat Abu Bakar. Dari negosiator dan kalangan ningrat ada namaUtsman bin Affan. Dari kalangan jagoan, Umar bin Khattab dan Hamzah. Dari calon panglima muncul namaAbu Ubaidah bin Jarrah dan Saad bin Abi Waqqash. Dari diplomat Mushab bin Umair.

Karena itu kita tidak menemukan warisan Rasulullah SAW berupa istana atau harta benda. Rasulullah SAW mewariskan orang-orang hebat. Satu generasi penerus Islam berhasil menguasai sepertiga dunia dalam tempo yang sangat singkat.

Nah, ketika sebuah organisasi atau komunitas muslim baru dirintis, fokus pertama ialah menguatkan SDMnya. Kemudian menyusun program yang berorientasi pada pembendukan kader leader, kader ulama dan kader amilun. Prosesnya memang tidak bisa instan, tak secepat membangun gedung yang hanya butuh waktu tak lebih dari satu tahun.  Namun, ketika sistem produksi SDM telah berjalan,  dakwah akan mengalami percepatan luar biasa.

Baca Juga : Menggagas Prioritas Dakwah

ketiga, pusat dakwah

Memanage dakwah tidak jauh beda dengan memanage perusahaan atau organisasi. Aktivitas dakwah membutuhkan tempat yang disebut markas. Tidak harus berupa bangunan mewah dengan fasilitas yang lengkap. Namun sebuah sentral yang mewadahi fungsi dan operasional dakwah.

Rasulullah SAW memilih Darul Arqam karena berbagai keuntungan. Pertama, tempat tersebut sangat dekat dengan Ka’bah. Yang secara tidak langsung menguatkan spirit para sahabat yang masih dalam proses pembinaan.

Kedua, faktor keamanan. Al-Arqam saat masuk Islam baru berusia 16 tahun. Tak sempat terpikir di benak orang-orang musyrik bahwa rumah Al-Arqam akan dijadikan pusat dakwah Islam.

Selain itu, Al-Arqam berasal dari Bani Makhzum. Seperti yang kita tahu, Bani Makzhum merupakan klan yang paling membenci Rasulullah SAW. Dengan demikian, tempat yang paling berbahaya bagi kaum muslimin ternyata menjadi tempat paling aman.

Rasulullah SAW juga sadar bahwa rumahnya dan rumah sahabat terdekatnya selalu dalam pengawasan. Untuk itu, perlu tempat lain yang lebih berada di luar radar para tokoh Quraisy. Padahal, tak jauh dari Darul Arqam terdapat Darun Nadwah.

Baca Juga : Walisongo : Tonggak Kejayaan Dakwah Islam di Jawa

Fungsi Darun Nadwah hampir sama dengan Darul Arqam. Di gedung yang juga tidak mewah inilah para tokoh musyrik menyusun makar-makarnya. Mereka rutin bertemu untuk saling menguatkan. Juga bertukar info dan gagasan bagaimana cara menghentikan kaum muslimin.

keempat, berkiprah dalam dakwah meski hanya menyediakan fasilitas.

Memberikan kontribusi kepada dakwah Islam banyak ragamnya. Tidak selalu dengan menjadi dainya atau penyokong dananya. Pada kondisi tertentu, dukungan yang lebih tepat ialah menyediakan fasilitas atau bangunan.

Jika dinilai dengan uang, pengorbanan Al-Arqam mungkin tidak begitu dinilai. Namun, jika melihat dari hasilnya, sumbangan Al-Arqam ini begitu besar. Bahkan menjadi amal terbaiknya yang menginspirasi generasi-generasi setelahnya. Wallahu a’lam bis shawab.

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 158 Rubrik Fiqih Sirah

Editor : Miqdad