Dari Sini Ekstrim Takfir Muncul

Ilustrasi, takfir
Ilustrasi, takfir

An-Najah.net – Munculnya sikap ekstrim dalam takfir tidak terjadi begitu saja tanpa sebab. Setidaknya ada tiga sebab munculnya aliran takfiri dalam tubuh gerakan jihad, yaitu;

Pertama: Sedikitnya para ulama yang memiliki kapasitas ilmu syar’i dalam gerakan jihad.

Terutama di medan jihad. Mayoritas ulama sudah merasa mapan dengan dakwah yang geluti selama ini. Mental untuk menghadapi risiko jihad kurang mengakar dalam diri para ulama. Mereka mencari banyak alasan untuk menghindari hidup di jalan jihad. Mirisnya, tidak jarang mereka di kemudian hari menjadi agen thaghut dan musuh Islam, baik secara sadar atau tidak sadar.

Inilah yang menjadikan mujahidin, terutama kalangan muda yang belum pernah ditarbiyah di halaqoh-halaqoh ilmu, kering dari ilmu dan akhlak. Mereka menjadi orang yang kaku, keras dan gagap terhadap ilmu syari’at, apalagi tentang fikih nazilah (kontemporer) seperti hukum takfir personal (mu’ayyan).

Padahal di waktu yang bersamaan, mereka sangat membutuhkan pencerahan dalam menapaki jalan jihad itu. Akhirnya, mereka me-matematika-kan perkara-perkara syar’i, hukum syar’i dihasilkan dari mengkali, mengurangi atau membagi dari ilmu mereka yang serba minim. Padahal hukum tersebut membutuhkan ijtihad (kesungguhan yang luar biasa) dari ulama untuk menentukannya. Sebab, karakter ilmu syar’i, tidak bisa disederhanakan seperti ilmu pasti; matematika, kimia, maupun fisika.

Kedua: Karakter Jihad.

Jihad memiliki karakter yang berbeda dengan dakwah. Mujahid seringkali menghadapi masalah-masalah yang membutuhkan jawaban dan tindakan cepat, jika terlambat nyawa menjadi taruhan. Mujahid kerapkali mengalami masa-masa dan peristiwa yang membuat jiwa tertekan, perih, sedih dan menangis, sebab dunia mereka adalah dunia kematian, tumpahan darah, dan serakan tulang—belulang. Inilah, di antara hal yang membentuk karakter mujahid.

Belum lagi dunia jihad menuntut segala permasalahan harus rahasia dan tertutup. Sehingga,  terkadang komunikasi dan koordinasi, terkadang sulit berjalan efektif dan lancar. Sikap-sikap kaku para ghulats (ekstrim) takfiri, dianggap sebagai sebuah ketegasan, dan bentuk wala’ wal baro’ yang paling mapan. Di sinilah bibit takfiri bisa bersemi dengan subur.

Ketiga: Infiltrasi intelijen.

Syaikh Assuuri menjelaskan panjang-lebar tentang permainan intelijen di balik maraknya pengkafiran dan pembantaian terhadap muslimin oleh jama’ah-jama’ah takfir di Aljazair. Aparat intelijen telah menguasai pucuk kepemimpinan JIA pada masa Abdurrahman Amin. Para komandan lapangan yang memiliki ketulusan dan kecerdasan dalam berjuang, dipanggil oleh para pejabat baru JIA, mereka membuat jebakan bagi para komandan tersebut, sehingga mereka dibunuh. Tidak lagi kembali ke pasukan mereka.

Ketika intelijen tidak mampu memadamkan jihad dengan langsung, maka intelijen ini mempelajari pola dan irama JIA, mereka pun menyusup ke dalamnya. Para intelijen ini menggelorakkan takfir, dan mengarahkan pengkafiran itu kepada para tokoh Islam, dan para mujahidin lainnya. Hasilnya, para ghulats takfiri itu membunuh para ulama mujahidin, komandan mujahidin dan masyarakat sipil lainnya, semuanya atas nama hukuman bagi orang-orang murtad.

Kejadian yang sama juga telah dijelaskan oleh Syaikh Abdullah Azzam dalam karyanya –Di Bawah Naungan Surat at-Taubah-. Syaikh Abdullah Azzam menjelaskan bahwa intelijen sering mendatangi kajian Syukri Mushofa, pimpinan jama’ah takfir wal hijrah, semasa ia hidup. Para agen itu, juga mendatangi anak-anak muda yang memiliki semangat yang tinggi, namun minus ilmu dan pengalaman. Agen-agen ini mengajak mereka mendiskusikan demokrasi, sekulerisme, hukum para penganut demokrasi, para pembela demokrasi, juga para pejabat negara. Para pemuda pun terpancing. Akhirnya vonis murtad pun jatuh atas orang-orang tersebut.

Kelompok takfiri memberikan keuntungan ganda bagi para penguasa thaghut. Sebab mereka adalah kelompok yang mudah dipermainkan, semangat takfirnya bisa diarahkan untuk menghancurkan jihad dan mujahidin. Oleh karena itu, intelijen sengaja menciptakan atau memelihara kelompok-kelompok takfiri ekstrim ini.

Penulis : Akrom Syahid

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 118 Rubrik Tema Utama (inbooks)

Editor : Abu Khalid