Definisi Sumpah dan Kaffarahnya

69386_1_1328872733Pertanyaan:

Assalamu’alaikum Ustadz Apa yang dimaksud sumpah, dan Apa saja kaffarahnya?

 

Jawaban:

Sumpah merupakan perkara yang sangat besar dan agung. Karena besarnya perkara ini, Allah SWT mengharuskan hamba-Nya untuk bersumpah dengan nama Allah SWT. Rasulullah SAW pun mewanti-wanti umatnya untuk tidak memperbanyak, atau menggampangkan sumpah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:

رَأَى عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَجُلاً يَسْرِقُ فَقَالَ لَهُ: أَسَرَقْتَ . قَالَ: كَلاَّ! وَاللَّهِ الَّذِي لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ! فَقَالَ عِيسَى: آمَنْتُ بِاللَّهِ وَكَذَّبْتُ عَيْنِي.

(Nabi) ‘Isa ibni Maryam (‘alaihi al-salam) melihat seorang lelaki mencuri, lalu dia berkata kepadanya: “Apakah kamu mencuri?” Lelaki itu menjawab: “Tidak! Demi Allah yang tiada Tuhan melainkan Dia!” Maka ‘Isa berkata: “Aku beriman kepada Allah dan aku mendustakan mataku.”[Sahih: Dikeluarkan oleh al-Bukhari dalam Shahihnya, hadis no: 3444]

Nabiyullah Isa AS terpaksa mendustakan fakta yang ia lihat, disebabkan sumpah yang diucapkan oleh pencuri.

Arti Sumpah

Sumpah dalam bahasa Arab ialah al-Aiman (الأيمان) yang merupakan jamak dari perkataan al-Yamin (اليمين). Pada dasarnya ia bererti tangan kerana untuk bersumpah, masyarakat Arab lazimnya mengangkat tangan kanan mereka.[ Taudhih al-Ahkam min Bulugh al-Maram, 7/105.]

Adapun dari sudut istilah, ia berarti menguatkan perkara yang disumpah dengan mengemukakan sesuatu yang agung secara khusus.[ Taudhih al-Ahkam min Bulugh al-Maram, 7/105]

Agar sumpah menjadi sah (valid) dan berauthority sebagaimana hadis di atas, ia perlu terlebih dahulu menepati satu syarat, iaitu ia disumpah atas nama Allah, salah satu dari nama-nama Allah atau salah satu dari sifat-sifat Allah. Berikut diperincikan syarat ini:

  1. Sumpah dengan nama Allah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ كَانَ حَالِفًا فَلْيَحْلِفْ بِاللَّهِ أَوْ لِيَصْمُتْ.

“Sesiapa yang ingin bersumpah, maka bersumpahlah atas nama Allah atau (jika tidak) maka diamlah.” [HR. al-Bukhari dalam Shahihnya, hadis no: 2679]

Maka orang yang ingin bersumpah hendaklah menyebut “Wallahi”, “Billahi” atau “Tallahi” yang semuanya bermaksud “Demi Allah”.

  1. Sumpah dengan salah satu dari nama-nama Allah.

Berdasarkan hadis di atas juga, boleh bersumpah dengan salah satu nama Allah seperti al-Rahman, al-Rahim, al-Khalik dan sebagainya. Misalnya “Demi al-Rahman, aku tidak pernah melakukan hal itu”. [Shahih Fiqh al-Sunnah, 2/288.]

  1. Sumpah dengan salah satu sifat Allah.

Sumpah seperti ini pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Misalnya dalam sabda beliau SAW,

أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ الَّذِي لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ الَّذِي لاَ يَمُوتُ وَالْجِنُّ وَالإِنْسُ يَمُوتُونَ.

   “ Aku berlindung dengan Kemuliaan Engkau, yang tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi melainkan Engkau, yang tidak mati manakala jin dan manusia akan mati.” [Sahih: Dikeluarkan oleh al-Bukhari dalam Shahihnya, hadis no: 7383,]

عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: كَانَتْ يَمِينُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لاَ وَمُقَلِّبِ الْقُلُوبِ.

“Daripada Ibn ‘Umar (radhiallahu ‘anhuma), dia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersumpah dengan berkata: “Tidak! Demi yang membolak-balikkan hati.” [Sahih: Dikeluarkan oleh al-Bukhari dalam Shahihnya, hadis no: 6628.]

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلاَ نَصْرَانِيٌّ   ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ.

“Demi yang jiwa Muhammad berada di Tangan-Nya, tidaklah seorang dari umat ini mendengar tentang aku, baik Yahudi maupun Nasrani, kemudian dia mati tanpa beriman kepada apa yang aku diutus dengannya (Islam) melainkan dia menjadi dari kalangan ahli neraka.” [Sahih: Dikeluarkan oleh Muslim dalam Shahihnya, hadis no: 153.]

Jika seseorang bersumpah dengan sesuatu selain Allah, nama-nama Allah atau sifat-sifat Allah, sumpahnya bukan saja tidak sah tetapi dia telah menyekutukan Allah. Ini adalah dosa syirik yang tidak akan diampuni oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala jika orang itu tidak bertaubat. Hadis berikut menjadi rujukan:

سَمِعَ ابْنُ عُمَرَ رَجُلاً يَحْلِفُ: لاَ وَالْكَعْبَةِ!فَقَالَ لَهُ ابْنُ عُمَرَ: إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللَّهِ فَقَدْ أَشْرَكَ.

Ibn ‘Umar (radhiallahu ‘anhuma) mendengar seorang lelaki bersumpah: “Tidak, demi Ka’bah!” Lalu Ibn ‘Umar berkata kepadanya: “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesiapa yang bersumpah dengan selain Allah, maka dia telah berbuat syirik.” [Sahih: Dikeluarkan oleh Abu Daud dan dinilai sahih oleh al-Albbani dalam Shahih Sunan Abu Daud, hadis no: 3251]

Sumpah dengan selain Allah bukan sahaja tidak sah dan syirik, orang yang melakukannya perlu segera mengucapkan syahadah, mempersaksikan bahawa “Tiada Tuhan Melainkan Allah”:

مَنْ حَلَفَ مِنْكُمْ فَقَالَ فِي حَلِفِهِ: بِاللاَّتِ, فَلْيَقُلْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَمَنْ قَالَ لِصَاحِبِهِ: تَعَالَ أُقَامِرْكَ فَلْيَتَصَدَّقْ.

“Sesiapa di antara kalian bersumpah lalu berkata dalam sumpahnya itu: “Demi Latta!”, maka hendaklah dia mengucapkan La ilaha illallah. Dan sesiapa yang berkata kepada temannya: “Ayuh, aku ingin bertaruh dengan kamu”, maka hendaklah dia bersedekah.” [Sahih: Dikeluarkan oleh Muslim dalam Shahihnya, hadis no: 1647.]

Mengapa Sumpah dengan selain Allah Syirik?

Syaikh ‘Abd Allah al-Bassam –hafizhahullah- menjawab persoalan ini: al-Yamin ialah sumpah dengan kata-kata khusus bagi menguatkan sesuatu yang disumpah, Yaitu dengan mengemukakan sesuatu yang agung secara khusus. Orang yang bersumpah apabila ingin menguatkan sesuatu, baik dalam rangka menafikan atau menetapkan, maka dia perlu menguatkannya dengan sumpah yang disandarkan kepada yang mulia, yakni dengan mengucapkan sesuatu mulia yang dia miliki.

Sejak dahulu kala, manusia menyakini bahwa sesuatu yang dijadikan sandaran sumpah akan menguasai orang yang bersumpah, di mana ia dapat memberikan manfaat atau mudarat berdasarkan sebab-sebab rasional dan tidak rasional. Apabila orang yang bersumpah menepati apa yang dia sumpahkan, maka (diyakini) yang dijadikan sandaran sumpah tersebut telah rela dan mengabulkan sumpahnya. Apabila (yang dijadikan sandaran sumpah) tidak rela, maka ia akan menimpakan bahaya kepadanya.

Atas dasar inilah, sumpah atas nama selain Allah Subhanahu wa Ta’ala atau atas selain sifat Allah dikatakan sebagai perbuatan syirik (karena menyakini manfaat dan madharat datang dari apa yang dijadikan sandaran sumpah dan bukan datang dari Allah). [Taudhih al-Ahkam min Bulugh al-Maram, jild. 7, ms. 108]

 

Pembagian Sumpah (Yamin)

 

Para ulama membagi sumpah (Yamin) menjadi tiga:

Pertama: Yamin Laghwu. Yaitu ucapan seperti sumpah, namun tidak dimaksudkan untuk sumpah. Misalnya, ucapan seseorang, “Tidak, demi Allah.” Sebagian ulama menyebutkan, termasuk dalam yamin laghwun adalah sumpah seseorang terhadap sesuatu/peristiwa sesuai persangkaannya, ternyata hakekatnya berbeda. Jenis yamin (sumpah) ini tidak ada kaffarah sama sekali.

Kedua: Yamin Mun’aqodah, yaitu sumpah seseorang (dengan nama/sifat Allah) untuk melaksanakan sesuatu, namun dia tidak melaksanakannya. Atau untuk tidak melaksanakan sesuatu kemudian ternyata ia melaksanakannya. Ia telah melanggar sumpahnya. Maka jenis ini ada kaffarahnya. Menurut Imam Ibnu Qudamah dalam alMughninya, tidak ada khilaf di kalangan ulama tentang kewajiban kaffarah untuk sumpah jenis ini.

Ketiga: Yamin alGhamush: Yaitu sumpah palsu yang dilakukan oleh seseorang, dan dia sadar bahwa it telah dusta. Misalnya ia tahu bahwa ia saudaranya mencuri, lalu ia bersumpah bahwa saudaranya tidak mencuri. Untuk jenis ini, jumhur ulama tidak mewajibkan kaffarah, tetapi pelaku wajib bertaubat, karena telah melakukan dosa besar.

Imam al-Baihaqi menulis dalam sunannya sebuah Bab, yaitu Bab: Yamin Ghamus (sumpah palsu). Beliau meriwayatkan sebuah atsar dari Ibnu Mas’ud RA, bahwa beliau RA berkata, “Dulu, kami –para sahabat Rasulullah SAW- menilai sumpah yang tidak ada kafarahnya adalah sumpah palsu.”

Hanya saja, madzhab Assyafi’iy berpendapat; sumpah palsu tetap ada kaffarohnya. Namun, pendapat jumhur lebih rojih (kuat).

Kaffarah Sumpah

Allah berfirman,

لَا يُؤَاخِذُكُمُ اللَّهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَكِنْ يُؤَاخِذُكُمْ بِمَا عَقَّدْتُمُ الْأَيْمَانَ

“Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja.” (Q.s. Al-Maidah: 89)

Makna:sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah)…” sebagaimana penjelasan A’isyah adalah kebiasaan orang arab yang mengucapkan “wallaahi…” (demi Allah), namun maksud mereka bukan untuk bersumpah.

Berdasarkan ayat di atas, orang yang bersumpah untuk melakukan atau meninggalkan sesuatu, dan dia serius dalam sumpahnya, kemudian dia melanggar sumpahnya maka dia berdosa. Untuk menebus dosanya, dia harus membayar kaffarah.
Bentuk kaffarah sumpah telah dijelaskan oleh Allah dalam firman-Nya,

فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ أَوْ كِسْوَتُهُمْ أَوْ تَحْرِيرُ رَقَبَةٍ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ ذَلِكَ كَفَّارَةُ أَيْمَانِكُمْ إِذَا حَلَفْتُمْ

“Kaffarahnya adalah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu langgar. ” (Q.s. Al-Maidah: 89)

Berdasarkan ayat di atas, kaffarah sumpah ada 4:

  1. Memberi makan 10 orang miskin
    Memberi makan di sini adalah makanan siap saji, lengkap dengan lauk-pauknya. Hanya saja, tidak diketahui adanya dalil yang menjelaskan batasan makanan yang dimaksudkan selain pernyataan di ayat tersebut: “makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu”.
  2. Memberi pakaian 10 orang miskin
    Ulama berselisih pendapat tentang batasan pakaian yang dimaksud. Pendapat Imam Malik dan Imam Ahmad bahwa batas pakaian yang dimaksudkan adalah yang bisa digunakan untuk shalat. Karena itu, harus terdiri dari atasan dan bawahan. Dan tidak boleh hanya peci saja atau jilbab saja. Karena ini belum bisa disebut pakaian.
    Mayoritas ulama berpendapat bahwa orang miskin yang berhak menerima dua bentuk kafarah di atas hanya orang miskin yang muslim.
  3. Membebaskan budak
    Keterangan: Tiga jenis kaffarah di atas, boleh memilih salah satu. Jika tidak mampu untuk melakukan salah satu di antara tiga di atas maka beralih pada kaffarah keempat,
  4. Berpuasa selama tiga hari.
    Pilihan yang keempat ini hanya dibolehkan jika tidak sanggup melakukan salah satu diantara tiga pilihan sebelumnya. Apakah puasanya harus berturut-turut? Ayat di atas tidak memberikan batasan. Hanya saja, madzhab hanafiyah dan hambali mempersyaratkan harus berturut-turut. Pendapat yang kuat dalam masalah ini, boleh tidak berturut-turut, dan dikerjakan semampunya. (Disadur dari Fiqh Sunah Sayid Sabiq, (3/25 – 28).

Catatan:

Jika melakukan sumpah atas nama Allah, Ada dua keadaan, dimana ketika orang melanggar sumpah tidak wajib membayar kaffarah:

Pertama, Dia melanggar karena lupa, tidak sengaja, atau terpaksa dan tidak mampu lagi untuk menolaknya. Ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إن الله وضع عن أمتي الخطأ والنسيان وما استكرهوا عليه

“Sesungguhnya Allah menghapuskan (kesalahan) dari umatku, (yang dilakukan) karena tidak sengaja, lupa, atau terpaksa.” (HR. Ibn Majah dan dishahihkanal-Albani)

Kedua, Ketika bersumpah dia mengucapkan, “insyaaAllah” sebagaimana dinyatakan dalam hadis,

مَنْ حَلَفَ فَقَالَ : إِنْ شَاءَ اللَّهُ لَمْ يَحْنَثْ

“Siapa yang bersumpah dan dia mengucapkan: InsyaaAllah, maka dia tidak dianggap melanggar.” (H.r. Ahmad, Turmudzi, Ibn Hibban dan disahihkan Syu’aib al-Arnauth)

Jika tidak dinilai melanggar, berarti tidak ada dosa dan tidak wajib membayar kaffarah. Sebagaiman keterangan dalam Tuhfatul Ahwadzi, Syarh Jami Turmudzi (5: 109)* Allahu a’lam

 

Penyusun Jawaban: Akrom Syahid

Sumber: http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=20864 http://www.konsultasisyariah.com, http://www.dorar.net dll