Deklarasi Perang Salib Donal Trump

Donald Trump
Donald Trump
Donald Trump
Donald Trump

An-Najah.net – Terpilihnya Donal Trump sebagai presiden Amerika mengejutkan banyak pihak.  Bagaimana tidak? Trump dikenal sebagai sosok pria yang bangga melakukan pelecehan terhadap wanita, selalu mengandalkan teori konspirasi dalam kampanye rasisnya. Juga mudah tersinggung, arogan, suka menghina, intimidasi dan sangat narsis. Selain itu dikenal sebagai seorang selebritis yang arogan, pendendam dan suka berubah pikiran. Baca juga (Catatan Aksi Bela Palestina 1712, Umat Islam Kese-trum

Trump pernah mengejek warga kulit hitam dengan mengatakan mereka tidak memiliki apa-apa selain kampung yang penuh premanisme. Dia juga banyak menebar ancaman. Trump pernah mengejek para wartawan yang tidak ia sukai.

Bagaimanapun Trump kini terpilih sebagai presiden Amerika Serikat. Beberapa kritikan terhadap kepribadiannya dan program-programnya yang akan menempatkan Barat, khususnya Amerika berhadapan langsung dengan Islam, diabaikan.

Clash of civilization

Kampanye narsis Trump tidak terlepas dari keyakinannya tentang benturan peradaban (Clash Of Civilization) antara Barat dan Islam. Sebenarnya keyakinan terhadap benturan peradaban sudah banyak dikemukakan dalam beberapa teori yang disampaikan oleh para politikus Barat.  Seperti  Bernard Lewis dan Samuel Huntington, mantan penasehat Gedung Putih.

Kini benturan peradaban tersebut digaungkan kembali para petinggi Amerika Serikat. Sejak awal kampanye pemilihan presiden, teori-teori Clash of Civilization mencuat seiring dengan kampanye Donald Trump.

Mantan Penasehat keamanan nasional Donald Trump, Michael Flynn  menulis, “Kita harus mampu mendiskreditkan doktrin Islam radikal, mendiskreditkan ideologi ini. Namun saat ini (semasa pemerintah Obama) kita tidak diperbolehkan.”

Sebastian Gorka, mantan konsultan Donald Trump semasa kampanye yang sekarang menjabat sebagai asisten penasehat keamanan nasional Donald Trump menulis, “Separuh Qur’an sangat berbau kekerasan, mengenai pembunuhan orang kafir. Karenanya, kita tidak perlu reformasi agar orang Islam kembali ke dasar agamanya, karena dengannya kita justru akan memberi kekuatan kepada jihadis.”

Terpilihnya Donald Trump sebagai presiden dengan beberapa narasi yang sering dia ucapkan lewat pidato maupun media semakin membuktikan bahwa benturan peradaban antara Islam dan Barat benar-benar akan terjadi. Bahkan sedang terjadi.

Gagasan Perang Salib Trump

Dalam sejarah Amerika Serikat perang melawan terorisme dianggap sebagai perang yang sangat panjang dan sangat melelahkan telah menghabiskan hampir 5 triliun US dollar (US $ 4.97 triliun).  Hampir 16 tahun, sejak 2001, Amerika melakukan peperangan ini tanpa hasil yang begitu signifikan. Mereka tidak berani menempatkan dirinya sebagai posisi pemenang dan juga takut disebut sebagai orang yang kalah.

Serangan ke Afghanistan dengan alasan memburu Syaikh Usamah, telah membuat Afghanistan hancur berantakan. Tahun 2003 Amerika melakukan serangan frontal ke Irak. Saddam Hussein ditangkap dan dihukum mati. Ketika itu Bush mengatakan bahwa misi sudah tertunaikan.

Namun perang tidak sependek yang mereka bayangkan. Perlawanan terus berlangsung dari para militan. Taliban kembali bangkit melakukan perlawanan, pejuang Irak juga tidak ketinggalan, al-Qaeda yang terjepit di Afghanistan mampu menginspirasi belahan dunia lain untuk membuka front pertempuran melawan Amerika.

Tahun 2004 para pejabat Barat mulai melakukan kampanye bahwa akar utama dari perlawanan tersebut adalah ideologi ekstrim. Merekapun membuat program baru dalam rangka mengubah para militan dari pikiran radikal. Deradikalisasi pun menjadi program andalan saat itu. Perang melawan teror mulai memasuki fase baru.

Tahun 2011, Obama merilis strategi baru untuk menghadapi kelompok jihadis. Setelah serangan drone, hingga pembunuhan para pemimpin jihadis tidak jua menghentikan perlawanan, mereka menyimpulkan bahwa pusat gravitasi kelompok ini ada pada narasi.

Kemampuan kelompok jihadis untuk menyampaikan tujuan dan ideologi dipandang sebagai daya tarik utama yang membuat mereka terus bisa menggelorakan semangat perlawanan. Program Countering Violent Extremism (CVE) dipilih untuk menghadapinya dan bahkan mengadakan pertemuan puncak tentang masalah ini pada bulan Februari 2015 di Gedung Putih.

Namun, sepertinya, PVE tidak bertahan lama, sebab Katharine Gorka –istri Sebastian gorka dan Ketua Tim Transisi Keamanan Dalam Negeri Amerika- yang memproklamirkan diri sebagai anti gerakan jihad, mengusulkan kepada para pejabat yang mengelola Program Countering Violent Extremism di Departemen keamanan Dalam Negeri untuk menggantinya dengan nama baru.

Nama yang dia usulkan adalah Countering Radical Islam atau Countering Violent Jihad. Ia juga mengusulkan agar Ikhwanul Muslimin dimasukkan dalam daftar organisasi teroris, serta memberikan sanksi kepada “afiliasinya, kelompok yang terkait dengannya, maupun agen-agen mereka.”

Perang Suci Trump

Jika Bush dan menghindari penyebutan Islam langsung dalam perang melawan terorisme, beda dengan Trump. Ia justru mengkampanyekan anti  Islam (radikal). Retorika Amerika dalam perang melawan terorisme (Islam) berubah drastis setelah Donald Trump diangkat jadi presiden. Trump termasuk orang yang sangat mengkritik keras Obama yang terlalu berbelit-belit dalam menjelaskan siapa musuh.

Dalam interview dengan BBC Maret 2016, silam, Trump berkata, “Saya pikir Islam membenci kita. Ada kebencian yang sangat besar di sana. Ada kebencian yang luar biasa terhadap kita,” Saat ditanya apakah yang ia maksud “Islam itu sendiri” ataukah “Islam radikal”, Trump menjawab, “Radikal, tapi sangat sulit untuk mendefinisikan. Sangat sulit untuk memisahkan.” (http://bit.ly/an137_3)

Di Ohio, pada bulan Agustus 2016, Trump mendeklarasikan bahwa “Kita akan mengalahkan terorisme Islam radikal sebagaimana kita telah mengalahkan setiap ancaman yang kita telah hadapi di setiap masa. Tapi kami tidak akan mengalahkan mereka dengan mata tertutup atau suara yang terbungkam.” (http://bit.ly/an137_4)

Donald Trump memang tidak menggunakan kata perang salib. Namun terdapat tema teokratis Kristen yang nyata dalam deklarasinya untuk memperkuat persekutuan lama dan membentuk persekutuan baru dalam perang melawan terorisme radikal Islam.

Ia berkata,  “Kita membuka hati kita untuk patriotism, tidak ada ruang bagi prasangka. Injil mengatakan pada kita, ‘betapa bagusnya dan menyenangkan ketika manusia-manusia Tuhan hidup bersama dalam kesatuan,’ Kita harus membicarakan pikiran kita secara terbuka, mendiskusikan ketidak setujuan kita dengan jujur, namun selalulah mengejar solidaritas. Ketika Amerika bersatu Amerika tidak dapat dihentikan, tidak boleh ada ketakutan. Kita telah dilindungi dan akan selalu dilindungi. Kita akan dilindungi oleh laki-laki dan wanita luar biasa dalam militer dan aparat penegak hukum kita. Dan yang terpenting dilindungi oleh Tuhan.”

Ini adalah Seruan untuk perang Suci. Sebuah pengukuhan terhadap perang dan pertumpahan darah dengan menegaskan bahwa semua kekerasan yang dilakukan oleh Amerika disetujui oleh Tuhan. Persis sebagaimana Paus Urbanus II, memberikan justifikasi bagi tindakan kekerasan yang akan terjadi dalam pertempuran dengan narasi tebusan kekerasan dan diridhoi Tuhan pada Perang Salib I.

Pandangan Trump, disetujui oleh mayoritas punggawa Amerika. Salah satunya Steve Bannon, kepala strategi Donald Trump yang kini menjadi anggota dewan keamanan nasional. Ia mendeklarasikan bahwa Barat kini sedang dalam tahap perang awal melawan fasisme Islam. Ia membingkai pertempuran ini dengan istilah-istilah agama. Bannon mendudukkan perang saat ini sebagai perang melawan Islam.

Sikap yang sama diambil oleh Michael Flynn, penasehat keamanan nasional Amerika Serikat. Ia mengatakan, “Kita berada dalam sebuah perang suci melawan gerakan massal mesianik dari orang-orang jahat, yang sebagian besar dari mereka terinspirasi oleh ideologi totalitarian, yaitu Islam radikal.”

Pendukung Trump pun tidak ketinggalan. Mereka menggunakan simbol-simbol perang salib dalam setiap pesan mereka. Mereka seringkali mengutip khotbah Paus Urbanus II pada tahun  1095 ketika menyerukan perang salib I. “Deus Vult” (ini kehendak Tuhan) menjadi pagar yang banyak tersebar di media sosial dan grafiti yang digambar di tembok-tembok sebelum dan sesudah pemilihan presiden yang berujung pada kemenangan Donald Trump.

Deus Vult adalah kata yang dulu menjadi slogan penyemangat prajurit perang salib dan kini diadopsi oleh para aktivis sayap kanan dan pendukung Trump untuk menghina umat Islam dan sebagai referensi untuk membunuh para pengikut Islam

Dengan demikian, kita keluar dari era Obama dan CVE-nya, masuk ke era Trump dan perang sucinya. Selamat datang di perang Salib (Suci) Donald Trump. Silahkan, Anda menentukan pilihan; menjadi tentara Allah SWT atau tentara Salib.

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 137 Rubrik Tema Utama

Penulis : Akrom Syahid

Editor : Anwar