Demokrasi, Racun Umat Islam

Democracy
Democracy
Democracy
Democracy

An-Najah.net – Dewasa ini, demokrasi dianggap sebagai “alternative” perjuangan umat manusia dalam rangka mewujudkan cita-cita “ideologisnya”.

Demokrasi dianggap mampu memberikan jaminan keamanan, kedamaian, keadilan, dan kesejahteraan.

Bahkan, lebih dahsyat lagi, ada yang berkeyakinan bahwa demokrasi adalah puncak tertinggi sistem kehidupan manusia.

Seorang cendekiawan muslim” menyatakan bahwa Islam itu demokrasi, atau demokrasi itu islami. Lebih heboh lagi, saat seorang tokoh meminta kepada MUI untuk memfatwakan haram bagi yang golput.

Racun Yahudi yang Memperdaya Ummat

Dalam kehidupan demokrasi memang ada beberapa keuntungan. Misalnya kebebasan, yakni kebebasan berpendapat, kebebasan berekspresi, kebebasan beragama, serta kebebasan kepemilikan, dan kebebasankebebasan yang lain. Kebebasan berpendapat, rakyat bebas dari nilai-nilai.

Tidak jarang mereka bukan diikat nilai, tetapi justru mencipta nilai menurut pemikiran dan kemauan. Mereka pun tidak lagi tunduk pada “halal-haram” menurut kaca mata Allah, tetapi menurut “hawa nafsu” mereka.

Implementasi yang dapat disaksikan adalan kebebasan perilaku. Budaya korupsi budaya datang duduk diam (atau tidur), dan menunggu tanggal gajian, penerimaan duit. JUga budaya ghibah, budaya pergaulan bebas, budaya selingkuh, pelacuran, budaya banyak bicara tanpa karya (talk more no act), dan budaya-budaya yang lain. inilah nilai-nilai yang mereka hasilkan.

Kebebasan beragama. Menurutnya agama adalah urusan individu dan tuhannya, Negara tidak ada hubungannya dengan keyakinan seseorang.

Negara tidak diperbolehkan turut campur dalam urusan agama. Bahkan, bila negara mengatur hak-hak pribadi (agama), maka pemerintah melanggar undang-undang. Pemerintah sulit memberantas berbagai pendapat atau perilaku menyimpang, kecuali jika publik secara luas merasa dibuat resah.

inilah yang terjadi di Amerika, juga di indonesia. Asal tahu saja, inilah misi Yahudi dalam rangka menghancurkan islam dan kaum muslimin.

Adapun dengan kebebasan kepemilikan, setiap orang bebas memiliki apapun asalkan mampu. Bumi, air, dan kekayaan yang menjadi hajat hidup orang banyak tidaklah dikuasai oleh negara.

Pihak yang mempunyai dana lebih besarlah yang akan menguasainya. Terjadinya upaya privatisasi dan swastanisasi BUMN. Di sinilah Yahudi memainkan peran untuk kepentingan ekonomi, politik, dan kepentingankepentingan lainnya.

Hal ini menjadi faktor penyebab keadaan rakyat semakin parah. Jurang pemisah antara yang kaya dengan yang miskin semakin jauh, semakin lebar. Yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin.

Di sinilah sesungguhnya, demokrasi menyuburkan sekularisme dan liberalisme, racun yang ditularkan secara “cerdas” oleh Yahudi. Dalam kebebasan kepemilikan, demokrasi berpihak pada kapitalisme. Kapitalisme membuat para pemilik modal semakin kokoh.

Borok Demokrasi

Hiruk pikuk berdirinya partai-partai di Indonesia belakangan ini tidak luput dari faktor ambisi untuk memiliki kebebasan yang dijanjikan di atas. Artinya, sangat sedikit, –kaiau tidak memungkinkan dikatakan tidak ada–, para pengagum demokrasi yang menjadi pejuang hakhak rakyat.

Yang banyak adalah para penjual ”suara rakyat” untuk memperkaya diri, mempercepat menjadi tenar dan terkenal, menjadi orang yang “berpengaruh” atas nama topeng “wakil rakyat”.

Adalah suatu kenyataan jika partai politik sebenarnya hanyalah sebagai kendaraan bagi segelintir orang untuk mengubah nasib atau memperkaya diri sendiri dan keluarganya. ini adalahfaktayangtakterbantahkan.

Adakah elite partai yang bertambah miskin atau minimal harta bendanya tetap setelah duduk sebagai anggota dewan? Tidak ada. Lebih dari itu, mereka juga bukanlah pejuang sebuah “ideologi”, termasuk yang berpartaikan islam dan berasaskan islam.

Bagaimana mungkin, orang memperjuangkan suatu ideologi, tetapi juga mengharapkan bahkan meminta gaji dari lawanlawan ideologi?

Plato, salah seorang yang dianggap tokoh dalam demokrasi malah mengkritisi tentang demokrasi. “Demokrasi justru merupakan sistem yang berbahaya dan tidak praktis”.

Aristoteles menambahkan, “Pemerintahan yang didasarkan pada pilihan orang banyak dapat mudah dipengaruhi oleh para demagog (penghasut) dan akhirnya akan jatuh menjadi kediktatoran.

Lihat saja Amerika, negara yang membanggabanggakan diri sebagai negara paling demokratis dan memaksakan kehendak terhadap negara lain atas nama “demokratisasi”.

Paul Findley, senatorAS lewat bukunya “Mereka Yang Berani Bicara dan Diplomasi Munafik Ala Yahudi”, membongkar dominasi ioby Yahudi (AIPAC) dalam tubuh Kongres AS.

“Tidak seorang pun calon presiden AS yang bisa duduk di kursi kepresidenan tanpa direstui oleh lobi Yahudi tersebut“. Winston Churchii mengeluarkan deklarasi yang bunyinya “Democracy is worst possible form of government”, demokrasi adalah kemungkinan terburuk dari bentuk pemerintahan.

Sisi lain yang perlu dicermati dalam praktek demokrasi, bahwa rakyat sendiri adalah individu yang tak lepas dari tarikan hawa nafsu dan godaan setan. Timbangan baik buruk yang diserahkan pada rakyat adalah sebuah kekacau-baiauan.

Dalam buku “Asy Syura Laa Ad Dimuqratiyah” (Syura, Bukan Demokrasi), Adnan Ali Ridho berpendapat bahwa : “Demokrasi hanyalah sarana musuh islam untuk menghancurkan ummat islam“.

Beberapa fakta modern jelas-jelas menunjukkan, dan mestinya menjadi pelajaran bagi aktifis islam, termasuk yang berpartai. Barat tidak pernah memberi tempat bagi islam dan kaum muslimin untuk memenangkan demokrasi.

Belum cukupkah bukti sejarah kehidupan demokrasi yang dimenangkan oleh partai islam di banyak tempat? Mulai dari Mesir dengan ikhwanul Musiiminnya, Aljazair dengan FiS nya sampai Turki dengan Retahnya, dan teranyar Palestina dengan Hamas.

Kemenangan demi kemenangan telah di tangan partai islam. Yang terjadi? Junta Sekuler dan militer, menghadang kemenangan partai islam.

Dan, akankah partai islam di indonesia memenangkan “pertarungan”? Dan, bagaimana jika terjadi sebagaimana yang telah terjadi? Memang, demokrasi tidak untuk Islam. Ia adalah racun Yahudi menghancurkan islam dan kaum muslimin.

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 55 Rubrik Analisa

Editor : Helmi Alfian