Di Balik Ketabahan Urwah Bin Zubair

Salaf shalih
Salaf shalih

An-Najah.net – Dibalik ketabahan Urwah bin Zubair ada orang-orang hebat yang mendidiknya. Urwah bin Zubair adalah putra dari Zubair bin Awam. Ayahnya termasuk Hawariyun, Pembela Rasulullah Saw. Bahkan ayahnya ini juga salah satu diantara sepuluh orang yang dijamin masuk surga.

Beliau lahir satu tahun sebelum berakhirnya masa khalifah Umar bin Khattab. Ibunya bernama Asma binti Abu Bakar Ash-Sidiq yang dijuluki dzatun nithoqoin (pemilik dua ikat pinggang). Adapun kakeknya dari jalur ibu adalah Abu Bakar Ash-Sidiq. Kemudian nenek dari jalur ayahnya adalah Shofiyah binti Abdul Muthalib yang juga bibi Rasulullah.

Bibinya adalah Ummul Mukminin, bahkan dengan tangan Urwah bin Zubair sendirilah yang turun ke liang lahat untuk meletakan jenazah Ummul Mukminin. Urwah adalah saudara kandung Abdullah bin Zubair, tetapi tidak dengan Mus’ab karena dia bukan berasal dari ibu yang satu.

Ujian Yang Bertubi-tubi

Suatu hari di zaman khalifah Al-Walid bin Abdul Malik, khalifah keenam dari Bani Umayyah. Allah berkehendak menguji Urwah dengan suatu cobaan yang tak seorangpun mampu bertahan dan tegar selain orang yang hatinya subur dengan keimanan dan penuh keyakinan.

Khalifah al-Walid mengundang Urwah supaya mengunjunginya di Damaskus. Urwah pun memenuhi undangan tersebut dengan membawa putra tertuanya. Amirul Mukminin menyambutnya dengan gembira, memperlakukannya dengan penuh hormat dan melayaninya dengan ramah.

Kemudian datanglah ketetapan dan kehendak Allah, laksana angin kencang yang tak dikehendaki penumpang perahu. Putra Urwah masuk kandang kuda untuk melihat kuda-kuda piaraan pilihan. Tiba-tiba saja seekor kuda meyepaknya dengan keras hingga meyebabkan kematiannya.

Urgensi Dzikir dan Doa

Belum lama sang ayah yang bersedih menguburkan putranya, salah satu kakinya terkena tumor ganas (semacam kusta) yang dapat menjalar ke seluruh tubuh. Betisnya membengkak dan tumor itu dengan sangat cepat berkembang dan menjalar.

Kemudian bergegaslah Amirul Mukminin mendatangkan para tabib dari seluruh negeri untuk mengobati tamunya dan memerintahkan untuk mengobati Urwah dengan cara apapun. Namun para tabib itu sepakat untuk mengamputasi kaki Urwah sampai betis sebelum penyakit menjalar keseluruh tubuh yang dapat merenggut nyawanya.

Jalan itu harus ditempuh. Tatkala ahli bedah telah datang dengan membawa pisau untuk mnyayat daging dengan gergaji untuk memotong tulangnya, tabib berkata kepada Urwah : “Sebaiknya kami memberikan minuman yang memabukan agar Anda tidak merasakan sakitnya diamputasi”.

Akan tetapi Urwah menolak : “Tidak perlu, aku tidak akan menggunakan yang haram demi mendapat afiat (kesehatan). Tabib berkata : “Kalau begitu kami akan membius Anda ! “Beliau menjawab : “Aku tidak mau diambil sebagian dari tubuhku tanpa kurasakan sakitnya agar tidak hilang pahalanya di sisi Allah.”

Ketika operasi hendak dimulai, beberapa orang mendekati Urwah, lalu beliau bertanya : “Apa yang hendak mereka lakukan?” Lalu para tabib menjawab: “Mereka akan memegangi Anda, sebab bisa jadi Anda nanti merasa kesakitan lalu menggerakan kaki dan itu bisa membahayakan Anda.” Beliau berkata : “Cegahlah mereka, aku tidak membutuhkannya. Akan kubekali diriku dengan dzikir dan tasbih”.

Mulailah tabib menyayat dagingnya dengan pisau dan tatkala telah sampai tulang, diambillah gergaji untuk memotongnya. Sementara itu Urwah tak henti-hentinya mengucapkan: “Laa ilaaha Illallah Allah Akbar”, sang tabib terus menggergaji kakinya, sedangkan  Urwah juga terus bertakbir hingga selesai proses amputasi itu.

Penyesalan Urwah

Setelah itu di panaskan minyak dalam bejana besi. Kaki Urwah di celupkan ke dalam bejana tersebut untuk menghentikan pendarahan dan menutup lukanya.

Urwah pingsan untuk beberapa lama dan terhenti untuk membaca ayat-ayat Al-Qur’an di hari itu. Inilah satu-satunya hari dimana bacaan Al-Qur’an terlewatkan olehnya yang mana telah beliau jaga semenjak remajanya.

Ketika Urwah tersadar dari pingsannya, beliau meminta potongan kakinya lalu mengelus-elus dengan tangannya dan menimbang-nimbang seraya berkata: “Sungguh, Demi Dzat yang mendorongku untuk megajakmu berjalan di tengah malam menuju masjid, Dia Maha mengetahui bahwa aku tidak pernah sekali pun membawamu berjalan kepada hal yang haram.” (lihat: Tarikh Ibnu Asakir, XI, hal. 287)

Kejadian tersebut membuat Amirul Mukminin, Al-Walid bin Abdul Malik sangat terharu. Urwah telah kehilangan puteranya, lalu sebelah kakinya. Maka dia berusaha menghibur dan menyabarkan hati tamunya atas musibah yang menimpanya tersebut.

Penulis : Ibnu Jihad

Referensi : Tarikh Madinah Dimasyq, Ibnu Asakir, (Damaskus: Darul Fikr), Tahdzib at-Tahdzib, Ibnu Hajar Al-Asqolani, (Beirut: Darul Ma’rifah), 101 Kisah Tabi’in, Hepi Andi Bastoni, (Jakarta, Cipinang: Pustaka Al-Kautsar, 2006), cet. I

Editor : Anwar