Dikubur Dekat Orang Saleh, Apa Tuntunan dan Manfaatnya?

(an-najah.net) – Di masyarakat, kita sering menjumpai seseorang yang berwasiat akar nanti bila meninggal dikuburkan di dekat suami atau istrinya, atau di dekat makam orang saleh.

Saya dan mungkin juga Anda bertanya, apakah ada tuntunannya dalam syariat Islam? Atau pertanyaan yang lebih logis, apakah ada manfaatnya, sedangkan orang yang telah mati itu tidak bisa berbuat apa-apa terhadap orang lain? Bukankah amal mereka telah terputus untuk meringankan beban orang lain?

Ketika Rasulullah saw mendengar salah seorang sahabat menghina orang yang telah mati, beliau bersabda, “Janganlah mencela orang yang sudah mati, karena mereka telah menyelesaikan  amal perbuatan mereka.” (HR. Al-Bukhari: 1393)

Entah orang sekarang melakukan itu karena ilmu entah tradisi, namun ternyata para sahabat Rasulullah saw melakukan itu.

Hal ini tampak jelas dalam permintaan Umar bin Al-Khaththab ra untuk dikuburkan di samping kedua sahabatnya, Muhammad saw dan Abu Bakar ra. Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Amru bin Maimun yang menyebutkan bahwa Umar bin Al-Khaththab berkata kepada putranya:

انْطَلِقْ إِلَى عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ فَقُلْ يَقْرَأُ عَلَيْكِ عُمَرُ السَّلَامَ وَلَا تَقُلْ أَمِيرُ الْمُؤْمِنِينَ فَإِنِّي لَسْتُ الْيَوْمَ لِلْمُؤْمِنِينَ أَمِيرًا وَقُلْ يَسْتَأْذِنُ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ أَنْ يُدْفَنَ مَعَ صَاحِبَيْهِ

“Temuilah Aisyah, Ummul Mukminin ra, dan sampaikan salam dari Umar. Tetapi jangan kalian katakan dari Amirul Mukminin karena hari ini aku bukan lagi sebagai pemimpin mereka. Katakan bahwa Umar bin Al-Khaththab meminta izin untuk dikuburkan di samping kedua shahabatnya.”

Bahkan, Aisyah sendiri pun menginginkan dikubur di dekat orang saleh. Hal ini tampak dalam jawabannya ketika Ibnu Umar menyampaikan permintaan ayahnya:

كُنْتُ أُرِيدُهُ لِنَفْسِي وَلَأُوثِرَنَّ بِهِ الْيَوْمَ عَلَى نَفْسِي

“Sebenarnya aku juga menginginkan hal itu untuk diriku namun hari ini aku tidak akan lebih mementingkan diriku.”

Umar melihat upaya itu sebagai upaya terpenting untuk penguburannya. Hal ini terlihat dalam ungkapannya ketika permintaannya dikabulkan:

الْحَمْدُ لِلَّهِ مَا كَانَ مِنْ شَيْءٍ أَهَمُّ إِلَيَّ مِنْ ذَلِكَ

“Alhamdulillah,tidak ada sesuatu yang paling penting bagiku selain hal itu.” (Tiga Potongan hadits ini adalah bagian dari hadits panjang riwayat Al-Bukhari, hadits no. 3424)

Ketika Musa as telah mendekati ajalnya, seperti diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, meminta agar kematiannya di dekat Baitul Maqdis:

فَسَأَلَ اللَّهَ أَنْ يُدْنِيَهُ مِنْ الْأَرْضِ الْمُقَدَّسَةِ رَمْيَةً بِحَجَرٍ

“Musa memohon kepada Allah agar mendekatkan kematiannya dengan tanah Baitul Maqdis sejauh lemparan batu”.

Imam Nawawi mengatakan, “Hadits ini mengandung anjuran penguburan di tempat-tempat yang mulia dan di dekat makam orang saleh.” (Syarh Muslim: XV: 128).

Apakah Ada Manfaatnya?

Mari kita ikuti penjelasan ulama agar tidak tersesat ke dalam logika yang rusak.

Ibnu Bathal rh mengatakan, “Makna permohonan Musa agar dikubur di dekat Baitul Maqdis—wallahu a’lam—adalah karena kemuliaan para nabi dan orang saleh di sana. Karena itulah, ia ingin berdekatan dengan makam mereka, seperti keinginannya berdekatan dengan orang saleh di dunia. Alasan lain, orang-orang mulia itu yang dicari adalah tempat mulia pula. Mereka akan berziarah ke kubur orang-orang mulia itu dan mendoakannya.” (Syarh Al-Bukhari: III: 325).

Al-Buhuti mengatakan, “Menguburkan itu disunahkan di pemakaman yang banyak kubur orang saleh untuk mendapatkan berkahnya. Karena itulah, Umar berupaya agar bisa dikubur di dekat dua sahabatnya.” (Kasyful Qana’: II:142).

Salah satu wujud berkahnya—seperti dikatakan Ibnu Bathal—adalah kedatangan orang saleh untuk mendoakan ahli kubur di pemakaman tersebut. Orang saleh temannya juga orang saleh. Orang saleh akan tetap mengenang sahabatnya meskipun telah mati, salah satunya dengan datang dan mendoakannya di makam. Orang yang dikubur di dekatnya akan mendapatkan berkah dari kedatangan orang  saleh itu karena orang yang saleh tidak akan lupa mendoakan untuk ahli kubur secara umum ketika menziarahinya. Wallahu a’lam.

Redaksi: Agus