Direktur Baru CIA dan Larangan Penggunaan Kata “Jihad” dan “Ancaman” dalam Satu Kalimat di Administrasi Obama

CIA(an-najah.net) – John Brennan, Penasihat Presiden Obama untuk Keamanan Dalam Negeri dan Kontraterorisme yang didaulat oleh Obama menjadi kepala agen intelijen Amerika (CIA) Januari lalu, akhirnya dinobatkan menjadi Direktur CIA, Jumat (8/3).

John Brennan adalah pejabat AS yang mengkritiki penggunaan kata jihad dan istilah lainnya untuk para jihadis yang berperang melawan Amerika dan kepentingannya.

Sebelum John Brennan dinominasikan untuk pekerjaan CIA, ia memang telah berusaha membatasi penggunaan kata-kata itu pada personelnya dan rekan-rekan mereka di badan-badan intelijen lain, militer, serta perangkat penegakan hukum dan keamanan agar mereka bisa tahu tentang musuh Islam yang mereka hadapi.  Bahkan ia juga melarang menyebut Muslim dengan kata “aktivis” yang biasanya ditujukan bagi Ikhawanul Muslimin.

Menurutnya, hal ini penting sebab bagaimana mungkin Senat akan mempercayakan pengumpulan dan analisis kritis terhadap intelijen kepada orang yang buta terhadap kata-kata yang merupakan ancaman terhadap Amerika: supremasi ideologi dan syariat Islam serta perang suci, atau jihad, yang mewajibkan para pengikutnya untuk melakukan perang.

Brennan, yang menguasai bahasa Arab dan pernah menjabat sebagai analis dan manajer bidang kontraterorisme di direktorat Timur Tengah dan Asia Selatan CIA itu, berulang kali menegaskan bahwa jihad bukanlah perang suci. Menurutnya, penggunaan istilah yang digunakan oleh jihadis bisa menyebabkan umat Islam masuk ke dalam persepsi “palsu” bahwa perang “pembunuhan” yang mengarah terhadap Barat dilakukan atas nama ‘sebab suci.’

“Menggambarkan musuh kita dengan persoalan agama (Islam; red) akan memberikan kepercayaan kepada kebohongan yang disebarkan oleh Al-Qaidah dan afiliasinya untuk membenarkan terorisme, bahwa Amerika Serikat entah apa alasannya telah berperang melawan Islam,” katanya.

Ia menambahkan, hal itu merupakan perkara yang patut diperhatikan oleh pembuat kebijakan. Menurutnya, seorang yang cerdas harus menghargai “ilusi” tersebut. “Ini adalah hal lain yang tidak boleh sama sekali dipelihara oleh pemimpin komunitas intelijen. Sesuatu yang bias bisa membelokkan informasi faktual yang dikumpulkan maupun dianalisis kehancuran.”

Salah satu pengaruh Brennan selama masa di Gedung Putih, pemerintahan Obama mengumumkan pedoman yang pasti selanjutnya untuk membasmi mujahidin, yaitu “perang melawan kekerasan dan ekstremisme”. Administrasi Obama melarang penggunaan kata “jihad” dan “ancaman” dalam satu kalimat.

Tak Selamanya Kebencian Itu Bisa Ditutupi

Namun, kebencian musuh terhadap Islam itu tidak akan selamanya tersembunyi. Sesekali mereka akan mengucapkannya dan sampai ke telinga kaum muslimin. George W Bush pernah menyebut Crussade (perang salib) atas nama perang melawan kaum muslimim. Bush pun buru-buru meralat pernyataannya bahwa perang yang dilakukan adalah melawan kaum militan radikalis, fundamentalis dan ektrimis.

Dan hal itu pun terulang. Mantan Menteri Luar Negeri AS, Hillary Clinton, saat perjalanan keluar pintu ruang kongres, mengatakan sesuatu yang secara harfiah tak boleh disebutkan. Dia berulang kali memperingatkan dalam kesaksian kongres mengenai bencana Benghazi bahwa AS menghadapi “global jihadist threat” (ancaman jihad global). (http://www.washingtontimes.com; 5/2/2013). Padahal, pemerintahan Obama tidak mengizinkan penggunaan kata-kata jihad dan ancaman dalam satu kalimat.

Hal seperti itu sebenarnya bukan perkara baru, sebab Allah telah menyebutkannya di dalam Al-Qur’an.

“…telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi.” (Ali Imran: 118)

Abdullah bin Ubay bin Salul bisa dikatakan orang yang pandai menyembunyikan kekafiran, terbukti pada perang Uhud, ia bisa bergabung dalam pasukan dan mampu membalikkan sepertiga pasukan untuk kembali ke Madinah. Tetapi, kebusukan hatinya sesekali keluar dari mulutnya, seperti diungkapkan oleh Allah di surat Al-Munafiqun, “Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, orang yang mulia akan mengusir orang-orang yang hina darinya.”

Ucapannya tersebut langsung mendapatkan perlawanan keras dari anaknya sendiri hingga dicegat dan tidak boleh memasuki Madinah sebelum mendapatkan keputusan dari Rasulullah saw, siapakah pemilik kemuliaan sesungguhnya. Semoga saja hari ini banyak orang yang sadar siapa musuh sebenarnya, seperti kesadaran Abdullah bin Abdullah bin Ubay bin Salul. (Agus)